Palangka Raya — Ancaman kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah kembali meningkat. Hingga Selasa malam, 11 Agustus 2026, terdeteksi sejumlah 645 titik panas (hotspot) yang tersebar di berbagai kabupaten, menurut data yang dirilis otoritas setempat.
Distribusi hotspot dan daerah terdampak
Data menunjukkan Kabupaten Kotawaringin Timur menjadi daerah dengan konsentrasi titik panas tertinggi, yakni 189 titik. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Kapuas dengan 114 titik. Peningkatan titik panas ini mulai menurunkan kualitas udara di beberapa wilayah.
| Daerah | Jumlah Hotspot |
|---|---|
| Kotawaringin Timur | 189 |
| Kapuas | 114 |
| Seluruh provinsi (total) | 645 |
Kualitas udara dan jarak pandang
Berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dan pemantauan setempat, beberapa kabupaten tercatat memiliki kualitas udara yang menurun. Katingan dan Barito Selatan masuk kategori tidak sehat. Enam wilayah lain dilaporkan berada pada kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Pergerakan asap yang tercatat oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bergerak ke arah barat laut. Kondisi berkabut asap mulai terlihat di Buntok dan Muara Teweh, dengan jarak pandang berada pada kisaran 5 hingga 7 kilometer. Sementara itu kondisi relatif lebih baik tercatat di Palangka Raya, Pangkalan Bun, dan Sampit dengan jarak pandang sekitar 9 hingga 10 kilometer. Kotawaringin Barat bahkan tercatat sebagai salah satu wilayah dengan kondisi udara terbaik pada periode pemantauan, dengan ISPU tercatat 21 (kategori Baik).
Respons penanganan dan kendala teknis
Pemerintah daerah bersama tim gabungan memperkuat upaya penanggulangan karhutla. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kalimantan Tengah, Ahmad Toyib, menyampaikan langkah-langkah yang dilakukan untuk merespons kebakaran hutan dan lahan.
"Penanganan dilakukan melalui pemadaman, penyekatan, pembasahan, pendinginan, patroli, serta pemantauan secara intensif melalui jalur darat dan udara," kata Toyib dalam rilis resmi, Rabu (12/8/2026).
Meski demikian, pengawasan kualitas udara menghadapi hambatan teknis. Sistem pemantauan di Sukamara belum tersedia, sedangkan alat Air Quality Monitoring System (AQMS) di Pulang Pisau dilaporkan mengalami kerusakan. AQMS di Kapuas masih dalam tahap persiapan pemasangan. Kekurangan alat dan infrastruktur ini menyulitkan pemantauan real time kualitas udara dan membuat perencanaan respons lebih menantang.
Dampak kesehatan dan imbauan
Kondisi meningkatnya titik panas dan adanya area dengan kualitas udara tidak sehat berimplikasi pada kesehatan masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, dan penderita penyakit pernapasan. Dalam rilisnya, otoritas meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama kelompok sensitif yang lebih rentan terdampak.
- Tingkatkan kewaspadaan dan kurangi aktivitas luar ruangan bila berada di wilayah dengan ISPU tidak sehat.
- Kelompok sensitif disarankan mempertimbangkan langkah perlindungan kesehatan, termasuk penggunaan masker sesuai standar bila diperlukan.
- Laporkan titik api atau asap melalui saluran resmi agar tim gabungan dapat segera melakukan penanganan.
Catatan dan langkah selanjutnya
Kenaikan titik panas menjadi perhatian bersama karena dapat memperburuk kualitas udara dan memperluas area kebakaran jika tidak segera ditangani. Perbaikan infrastruktur pemantauan, seperti pemasangan dan perbaikan AQMS, menjadi salah satu kebutuhan mendesak agar data kualitas udara dapat lebih akurat dan respons kebakaran lebih cepat terkoordinasi.
Pemantauan intensif, patroli lapangan, dan operasi pemadaman baik dari darat maupun udara tetap menjadi prioritas otoritas hingga kondisi dinyatakan terkendali. Masyarakat diimbau mengikuti informasi resmi dari BPBPK, BMKG, dan dinas terkait agar dapat mengambil langkah pencegahan dan perlindungan yang tepat sesuai kondisi di wilayah masing-masing.