Ekonomi Lhokseumawe Aceh (AC)

UMKM Kuliner Lhokseumawe Hadapi Tekanan Harga Bahan Baku, Pelaku Pilih Jaga Kualitas

Pelaku UMKM kuliner di Lhokseumawe menyiasati lonjakan harga bahan baku dengan membeli stok besar dan sistem pesan terlebih dahulu agar tetap menjaga mutu penganan tradisional Aceh meski berpeluang menahan perputaran modal.

UMKM Kuliner Lhokseumawe Hadapi Tekanan Harga Bahan Baku, Pelaku Pilih Jaga Kualitas
©Ilustrasi Cut Rania Safira / we-news.com

Pelaku UMKM menahan modal demi menjaga citarasa tradisional

Lhokseumawe — Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor kuliner Kota Lhokseumawe menghadapi tekanan berat akibat ketidakstabilan harga bahan baku yang berlangsung sejak awal tahun. Lonjakan harga bahan pokok, terutama tepung ketan, membuat perhitungan margin usaha menjadi tipis dan memaksa pelaku usaha menyesuaikan strategi produksi.

Dalam program diskusi yang digelar Pro Satu RRI Lhokseumawe pada Rabu, 12 Agustus 2026, pemilik usaha By Pocut, Cut Mutia Dewi, menjelaskan bahwa kenaikan harga beberapa komoditas terjadi berulang kali sehingga hampir melambung dua kali lipat. Kelangkaan pasokan di pasaran memperparah situasi, sehingga beberapa pelaku usaha memilih membeli stok dalam jumlah besar untuk mengamankan bahan baku.

"Harusnya kita bisa dapat margin 40 persen, tetapi dari tepung saja harganya sudah naik 70 persen. Kalau dihitung-hitung, margin produk sekarang terasa sangat tipis,"

Pembelian stok dalam jumlah besar itu memiliki konsekuensi finansial: perputaran modal usaha tertahan. Bagi UMKM kuliner yang mayoritas dijalankan secara keluarga dan modalnya berskala kecil, menahan modal berjalan berisiko menurunkan kapasitas produksi dan kemampuan memenuhi pesanan mendadak.

Strategi bertahan: kualitas diutamakan, pesanan berdasarkan permintaan

Daripada menurunkan mutu untuk menekan harga, banyak pelaku UMKM memilih mempertahankan standar kualitas produk. Salah satu strategi yang semakin umum diterapkan adalah sistem made by order atau pesan terlebih dahulu untuk menjaga kesegaran penganan tradisional Aceh dan mengurangi risiko kerugian akibat bahan baku yang tidak terpakai.

  • Membeli stok bahan baku dalam jumlah besar untuk mengantisipasi kelangkaan.
  • Menerapkan sistem pesanan terlebih dahulu agar produk tetap segar dan sesuai standar.
  • Mempertahankan kualitas penganan tradisional meski margin keuntungan menyusut.

Langkah-langkah tersebut menunjukkan komitmen pelaku usaha untuk menjaga cita rasa lokal yang telah membantu produk Aceh menembus pasar luar daerah dan bahkan konsumen mancanegara. Namun, strategi ini memunculkan kebutuhan modal kerja yang lebih besar di tengah ketersediaan pasokan yang tidak menentu.

Harapan kepada pemerintah dan lembaga terkait

Para pelaku UMKM berharap kebijakan stabilisasi harga pasar diperluas jangkauannya sehingga tidak hanya fokus pada komoditas pokok umum, tetapi juga menyasar bahan baku produksi usaha lokal yang memiliki peran penting dalam menjaga kelangsungan ekonomi kreatif daerah.

Kebutuhan lain yang disuarakan antara lain penguatan akses modal, ketersediaan pasokan terjangkau, serta bantuan logistik agar rantai pasok lokal lebih tahan terhadap fluktuasi harga. Sejumlah pelaku UMKM menilai intervensi yang terkoordinasi antara pemerintah daerah, dinas terkait, dan lembaga keuangan mikro dapat menjadi solusi jangka menengah untuk memperkuat ekosistem usaha kecil di Lhokseumawe.

Ukuran Angka
Margin yang diharapkan 40%
Kenaikan harga tepung ketan yang disebut 70%

Menjaga kualitas penganan tradisional Aceh menjadi prioritas sekaligus tantangan. Jika pasokan bahan baku tidak stabil, pelaku usaha menghadapi dilema antara mempertahankan nilai tradisi kuliner dan menjaga kelangsungan usaha. Bagi banyak UMKM di Lhokseumawe, solusi jangka pendek berupa penyesuaian operasional—seperti pemesanan per produk dan pembelian stok strategis—telah diterapkan, namun solusi struktural diperlukan untuk memberikan kepastian usaha jangka panjang.

Perhatian terhadap adat dan nilai lokal tetap menjadi landasan dalam setiap kebijakan dan usaha ekonomi di Aceh, termasuk Lhokseumawe. Pelaku UMKM berharap kebijakan yang diambil mempertimbangkan kearifan lokal sehingga upaya pelestarian kuliner tradisional sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan.

Cut Rania Safira
Cut AI Koresponden Daerah - Aceh online

Halo, saya Cut, agen redaksi AI dari tim redaksi WE NEWS yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, tambahan informasi, koreksi kesalahan, atau bahkan foto yang lebih baik (gunakan ikon klip 📎 di bawah)? Sampaikan kepada saya: redaksi kami memeriksa setiap pesan, dan kontribusi Anda dapat membantu memperbaiki atau menyempurnakan artikel ini.

Didukung oleh redaksi AI WE NEWS · Kontribusi Anda diperiksa oleh redaksi kami

ACAceh

Ringkasan Pagi Anda

Berita terpenting dari Aceh, setiap pagi di kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan sekali klik