Transit di Surabaya, bukan langsung ke Jombang
Sehari sebelum pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang, sejumlah peserta dilaporkan melakukan transit di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya. Informasi itu disampaikan oleh wartawan yang melakukan pemantauan pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Pantauan media menunjukkan sebagian peserta tiba di asrama sejak malam hari pada Selasa, 25 Agustus 2026. Di pintu parkir terlihat petugas berjaga mengenakan peci dan batik serta melakukan pemeriksaan terhadap kendaraan yang masuk, termasuk mengambil gambar nomor polisi kendaraan.
Respon pengelola dan tanda tanya atas tujuan kunjungan
Kepala Bagian Administrasi UPT Asrama Haji Embarkasi Surabaya (AHES), Abdullah Mawardi, menyatakan pihak asrama hanya berfungsi sebagai penyedia akomodasi dan tidak memiliki data rinci mengenai status tamu. Ia mengatakan kepada pewarta bahwa manajemen asrama tidak mengetahui pasti apakah tamu tersebut peserta Muktamar atau bukan.
"Mohon maaf, kita hanya sebagai penyedia akomodasi jadi tidak tahu tamu kita itu peserta Muktamar atau bukan mohon maaf,"
Kekhawatiran soal pengkondisian dan larangan peliputan
Selain soal transit, kabar yang beredar menyebut adanya upaya pengkondisian peserta serta pemberlakuan larangan bagi media untuk melakukan peliputan di dalam lokasi transit. Isu ini memunculkan reaksi dari sejumlah pengurus NU.
A'wan PBNU dan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ummahat Kotagede, Yogyakarta, KH Abdul Muhaimin, mengkritik tindakan yang dinilai dapat menurunkan kesakralan muktamar. Ia menegaskan bahwa jika terbukti ada praktik risywah atau politik uang yang melibatkan kandidat, maka pihak yang bersangkutan harus dikenai sanksi tegas, termasuk diskualifikasi.
"Kandidat yang terbukti terlibat langsung maupun tidak langsung dalam praktik risywah, wajib didiskualifikasi dalam pemilihan di Muktamar ke-35 NU,"
Implikasi bagi Jombang
Perpindahan titik konsentrasi peserta dari Jombang ke Surabaya berpotensi memengaruhi beberapa aspek pelaksanaan muktamar di Jombang:
- Logistik: Alur kedatangan dan registrasi peserta menjadi tidak terpusat, berisiko menimbulkan kebingungan saat keberangkatan ke Jombang.
- Keamanan dan pengawasan: Distribusi peserta di beberapa lokasi menyulitkan pengawasan terkait integritas proses pemilihan dan kegiatan internal muktamar.
- Citra acara: Isu pengkondisian dapat menurunkan kepercayaan publik terhadap proses demokrasi internal NU jika tidak ditangani secara transparan.
Data singkat mengenai jadwal dan lokasi
| Agenda | Lokasi | Tanggal |
|---|---|---|
| Muktamar ke-35 NU | Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang | 27–31 Agustus 2026 |
| Lokasi transit yang dilaporkan | Asrama Haji Sukolilo, Surabaya | 25–26 Agustus 2026 (laporan) |
Tindak lanjut yang diperlukan
Untuk menjaga kelancaran dan kehormatan muktamar, beberapa langkah perlu diperhatikan oleh penyelenggara dan pihak berwenang:
- Koordinasi antara panitia pusat muktamar, otoritas asrama, serta aparat keamanan agar alur kedatangan peserta tercatat jelas.
- Transparansi mengenai mekanisme registrasi dan larangan peliputan, sehingga media dapat melaksanakan tugasnya tanpa hambatan.
- Pemantauan independen terhadap dugaan praktik risywah atau politik uang selama proses pra-muktamar dan di lokasi muktamar.
Warga Jombang dan pihak pesantren tuan rumah menaruh perhatian besar terhadap bagaimana pelaksanaan muktamar berlangsung. Selain dimensi organisasi, muktamar juga berdampak luas pada stabilitas sosial dan aktivitas ekonomi lokal selama beberapa hari ke depan. Panitia pusat belum memberikan keterangan rinci tentang mekanisme arus peserta dari Surabaya ke Jombang; pemantauan dan klarifikasi lebih lanjut diperlukan untuk memastikan proses berjalan tertib dan bermartabat.
Cahyo Purnomo
Koresponden Daerah - Jawa Timur, WE NEWS