BANDAR LAMPUNG / BANJARMASIN — Jejak dua warga Lampung yang dilaporkan hilang dalam peristiwa di KMP Virgo Transport 8 masih belum jelas setelah beberapa hari keluarga menantikan informasi. Keluarga menerima kabar awal dari pihak perusahaan pelayaran, namun hingga kini belum ada kepastian tentang keberadaan korban.
Informasi awal dan respons keluarga
Kabar mengenai insiden tersebut pertama kali diterima keluarga dari pihak perusahaan, ketika istri salah satu korban, Feris, mendapat telepon pada Minggu pagi. Menurut Hadi, adik salah satu korban, telepon itu disampaikan sekitar jam 10-an.
"Dikasih informasi itu Minggu jam 10-an. Ditelepon keluarga itu dari pihak perusahaan, dari perusahaan nelpon ke mbak saya, istri korban,"
Setelah menerima kabar itu, keluarga terus memantau perkembangan pencarian melalui berbagai unggahan dan pembaruan di media sosial, termasuk TikTok. Hadi menyampaikan bahwa mereka mengandalkan update dari platform itu karena belum ada komunikasi resmi yang memadai mengenai status korban.
Empat hari menunggu tanpa kepastian
Hadi menyatakan keluarga telah menunggu selama empat hari sejak menerima informasi awal, namun belum mendapatkan kabar tentang keberadaan Feris maupun kernet yang menemaninya. Kondisi ini membuat keluarga resah dan mencari langkah selanjutnya untuk memperoleh kepastian.
Perjalanan ke Banjarmasin untuk mencocokkan data
Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dan memastikan data, Hadi akhirnya berangkat ke Banjarmasin. Biaya perjalanan tersebut dibantu oleh pihak perusahaan pelayaran. Sesampainya di sana, ia mengunjungi terminal pelabuhan tempat keluarga korban berkumpul dan berkoordinasi dengan pihak terkait.
Di pelabuhan, Hadi mengatakan seluruh keluarga korban berkumpul untuk menantikan perkembangan proses pencarian dan untuk mencocokkan nama yang sudah tercatat dalam daftar korban yang disebarkan pihak berwenang atau perusahaan.
"Karena memang datanya ini sudah masuk. Cuma mungkin saya ke sini kan mencocokkan data kakak saya,"
Dampak pada keluarga dan kebutuhan informasi
Keluarga korban menggambarkan suasana kebingungan karena informasi yang mereka terima belum memberikan kepastian tentang kondisi atau lokasi kedua korban. Ketergantungan pada pembaruan media sosial menjadi pilihan karena kurangnya informasi resmi yang mereka terima secara langsung dari otoritas pencarian atau institusi terkait.
- Info awal: Pemberitahuan oleh perusahaan ke istri korban pada Minggu pagi sekitar jam 10-an.
- Lama menunggu: Keluarga menunggu sekitar empat hari tanpa kepastian.
- Langkah keluarga: Hadi berangkat ke Banjarmasin untuk mencocokkan data korban; biaya perjalanan dibantu perusahaan.
Status data dan kebutuhan klarifikasi
Meskipun Hadi menyebut nama kakaknya sudah tercatat dalam daftar korban, hingga keterangan resmi lebih lengkap diberikan kepada keluarga, kekhawatiran tetap tinggi. Pencocokan data di pelabuhan menjadi langkah penting bagi keluarga untuk memastikan apakah orang yang mereka cari tercantum dalam daftar penumpang atau korban yang diidentifikasi.
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Pemberitahuan awal | Telepon dari perusahaan ke keluarga pada Minggu pagi (sekitar jam 10-an) |
| Waktu menunggu | Sekitar empat hari tanpa kabar jelas |
| Tindakan keluarga | Adik korban berangkat ke Banjarmasin; biaya transport dibantu perusahaan |
Kebutuhan informasi publik dan langkah selanjutnya
Kejadian ini menyorot pentingnya kecepatan dan keterbukaan informasi dari pihak berwenang serta perusahaan pelayaran kepada keluarga korban dan publik. Selain itu, koordinasi di lokasi pencarian dan pemberian data yang jelas dan terverifikasi dapat membantu mengurangi kecemasan keluarga yang menunggu kepastian.
Sampai berita ini ditulis, belum ada keterangan tambahan mengenai perkembangan pencarian atau pernyataan resmi lanjutan dari perusahaan pelayaran dan pihak otoritas terkait. Keluarga berharap ada informasi yang lebih lengkap mengenai kondisi kedua warga Lampung yang hilang itu.
Laporan ini akan diperbarui jika ada pernyataan resmi atau perkembangan baru dari pihak berwenang atau keluarga korban.
Ria Anjani, Koresponden Daerah - Lampung