Pemerintah Provinsi Jawa Timur melaporkan kondisi kekeringan yang telah merembet ke sektor pertanian di provinsi itu, dengan pemetaan awal menunjukkan dampak di 38 kabupaten/kota. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyatakan ada sekitar 1.000 hektare lahan yang berpotensi terdampak, dan dari jumlah tersebut sekitar 200 hektare telah menunjukkan gejala kekeringan, termasuk retaknya permukaan tanah.
Lokasi paling rawan dan tanda-tanda kerusakan
Emil menyebutkan beberapa daerah yang mengkhawatirkan terkait potensi gagal panen, antara lain Bojonegoro, Lamongan, Tulungagung, dan Trenggalek. Ia menjelaskan bahwa pada kunjungan lapangan, ditemukan tanah yang sudah retak sehingga tanaman berisiko mati jika pasokan air tidak segera diberikan.
"Kemarin kami datangi, tanahnya memang sudah retak. Kalau tidak segera diberikan air, tinggal menunggu waktu tanamannya mati. Makanya kami melakukan antisipasi cepat,"
Pemerintah provinsi belum merilis data rinci per kecamatan atau desa terkait luas lahan yang mengalami retak, namun menurut keterangan awal Lamongan telah masuk dalam data terdampak dengan angka yang disebut-sebut sekitar 142 hektare ditambah 25 hektare pada laporan awal.
Upaya antisipasi pemerintah
Sebagai langkah tanggap, Pemprov Jawa Timur menyiapkan sejumlah intervensi teknis untuk mengurangi risiko gagal panen. Langkah itu meliputi penyediaan pompa air di titik-titik yang masih memiliki sumber air serta pembangunan sumur bor untuk menyalurkan air ke lahan pertanian.
Rencana pengerahan pompa dan sumur bor akan melibatkan koordinasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, Kementerian Pekerjaan Umum, dan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. Intervensi ini ditujukan untuk menyuplai air ke area-area kritis dan mencegah kerusakan tanaman yang sedang tumbuh.
Daya tahan petani dan adaptasi varietas
Emil juga menegaskan bahwa petani di Jawa Timur selama ini memiliki pengalaman beradaptasi dengan kondisi minim air. Beberapa petani telah menggunakan varietas tanaman yang lebih toleran terhadap kekeringan, meskipun produktivitasnya umumnya lebih rendah dibanding kondisi normal saat curah hujan memadai.
Namun adaptasi varietas saja dinilai tidak cukup bila pasokan air primer benar-benar menipis. Oleh karena itu, kombinasi upaya teknis—pompa, sumur bor, serta dukungan input pertanian—diperlukan untuk menjaga kesinambungan produksi dan pendapatan petani.
Data awal dampak lahan
| Indikator | Luasan (hektare) |
|---|---|
| Potensi terdampak | 1.000 |
| Sudah terdampak | 200 |
| Contoh data Lamongan | 142 + 25 |
Imbas terhadap masyarakat dan rekomendasi
Kekeringan yang meluas berpotensi memengaruhi pasokan pangan lokal, pendapatan petani, dan stabilitas harga komoditas. Untuk itu, selain tindakan teknis, pemantauan rutin di lapangan dan percepatan bantuan air menjadi penting.
- Petani diminta segera melaporkan kondisi lahan ke dinas pertanian setempat untuk mendapatkan prioritas bantuan.
- Pemerintah daerah harus memprioritaskan titik sumur bor dan pompa pada wilayah yang telah menunjukkan retak tanah.
- Dukungan penyuluhan teknis terkait pengelolaan air dan penggunaan varietas tahan kering perlu ditingkatkan.
Pemprov Jawa Timur masih merampungkan pemetaan lebih rinci untuk menentukan langkah alokasi sumber daya. Pemerintah menegaskan akan berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk mempercepat pembangunan infrastruktur penunjang agar dampak kekeringan tidak bereskalasi menjadi krisis produksi.
Perkembangan situasi ini berpotensi berubah cepat, terutama menjelang musim tanam berikutnya. Otoritas terkait mendorong kerja sama lintas sektor guna menanggulangi dampak kekeringan sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.