Papua Selatan menghadapi eskalasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2026 yang menimbulkan kekhawatiran terhadap pengelolaan ruang, keselamatan masyarakat, dan kelanjutan proyek infrastruktur skala besar. Analisis Yayasan MADANI Berkelanjutan mencatat Area Indikatif Terbakar (AIT) seluas 41.790 hektare di provinsi ini, menjadikannya salah satu wilayah terdampak terbesar di Nusantara pada periode yang diamati.
Distribusi kebakaran dan konsentrasi di Merauke
Data MADANI menunjukkan bahwa Kabupaten Merauke menjadi episentrum kebakaran dengan AIT terbesar, yakni 33.609 hektare. Posisi kedua ditempati Kabupaten Mappi dengan AIT seluas 8.510 hektare. Dari total area yang terindikasi terbakar di Papua Selatan, sekitar 89,5 persen terjadi sepanjang Juli 2026.
| Kabupaten | Area Indikatif Terbakar (hektare) |
|---|---|
| Merauke | 33.609 |
| Mappi | 8.510 |
| Jumlah provinsi | 41.790 |
Titik api dan keterkaitan dengan kawasan konsesi
Analisis MADANI juga mencatat 1.292 titik api terpantau di Papua Selatan pada periode 1–9 Juli 2026. Dari jumlah itu, 399 titik api berada di kawasan konsesi yang berkaitan dengan Proyek Strategis Nasional (PSN).
"Musim keringnya baru dimulai pada Juni atau Juli dan berlangsung sampai Desember. Juli bukanlah puncak, melainkan bulan pembuka,"
kata Giorgio B. Indrarto, Deputy Director MADANI Berkelanjutan, menekankan perbedaan pola musim antara Papua Selatan dan wilayah barat Indonesia seperti Sumatera dan Kalimantan.
Konsekuensi rencana pembukaan lahan PSN
Pada konteks PSN, MADANI mencatat rencana pembukaan lahan seluas 2,32 juta hektare di Merauke untuk proyek pangan dan energi. Sampai awal Juli 2026, sekitar 40.000 hektare hutan alam dilaporkan sudah dibuka. Kondisi savana yang mendominasi sebagian wilayah Merauke membuat lanskap tersebut mudah terbakar.
Giorgio menyoroti pentingnya meninjau kembali asumsi pengelolaan lahan ketika rencana besar itu diletakkan di atas ekosistem yang rentan kebakaran. Ia juga menekankan kewajiban pemegang izin untuk membuktikan bahwa pembukaan lahan dilakukan tanpa pembakaran.
Peringatan dini dan respons pemerintah
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Jayapura telah menerbitkan peringatan dini terkait potensi karhutla untuk Merauke dan Mappi sejak 18 Juni 2026. Peringatan ini menjadi relevan mengingat konsentrasi titik api dan besarnya AIT pada Juli.
- Faktor musim: Musim kering lebih panjang di Papua Selatan (Juni–Desember), sehingga pola pencegahan harus disesuaikan.
- Kawasan savana: Ekosistem ini lebih mudah terbakar dibanding hutan tropis basah.
- Proyek PSN: Pembukaan lahan skala besar menambah risiko kebakaran jika tidak diawasi ketat.
Dampak dan rekomendasi pengelolaan
Peningkatan karhutla berpotensi menimbulkan dampak kesehatan, pencemaran udara lintas kabupaten, dan gangguan terhadap infrastruktur produksi pangan dan energi yang direncanakan di kawasan PSN. Selain itu, pembukaan lahan yang masif tanpa prosedur pengawasan ketat dapat memperburuk frekuensi dan luas kebakaran.
Dari sudut pandang mitigasi, beberapa hal penting yang dapat dipertimbangkan oleh pemangku kebijakan dan pemegang izin:
- Menyesuaikan kalender pencegahan karhutla dengan pola musim lokal Papua Selatan, alih-alih menggunakan kalender dari wilayah barat Indonesia.
- Melakukan verifikasi independen terhadap metode pembukaan lahan yang diklaim tanpa pembakaran.
- Meningkatkan koordinasi antara BMKG, pemerintah kabupaten, pengelola konsesi, dan masyarakat lokal dalam deteksi dini dan respons cepat terhadap titik api.
Analisis dan data MADANI memberi peringatan bahwa tanpa perubahan kebijakan pengawasan dan praktik pengelolaan lahan, risiko kebakaran dapat berlanjut atau meningkat seiring berjalannya musim kering. Situasi ini menuntut langkah terukur dari pihak berwenang serta transparansi dari pemegang izin kegiatan di lahan, terutama proyek-proyek berskala besar yang berdampak langsung pada lanskap dan keselamatan publik.