Kota Tangerang mencatat indeks inflasi 2,29 persen pada periode pasca perayaan HUT Kemerdekaan RI yang menjadikan pemerintah kota menempati posisi terendah di antara delapan kota dan kabupaten di Provinsi Banten. Data itu disampaikan berdasarkan rilis terbaru yang merujuk pada statistik lokal dan pernyataan pejabat daerah.
Perbandingan dengan rata-rata provinsi
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tangerang, angka inflasi rata-rata di Provinsi Banten mencapai 2,95 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada level 110,04. Pernyataan ini menjadi dasar Pemkot Tangerang menilai kondisi harga relatif stabil di wilayahnya.
| Wilayah | Indeks Inflasi (YoY) |
|---|---|
| Kota Tangerang | 2,29% |
| Provinsi Banten (rata-rata) | 2,95% |
Penyumbang utama: daging ayam
Analisis komponen pengeluaran menunjukkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau mendominasi sumbangan inflasi pada periode tersebut. Khususnya komoditas daging ras ayam yang mencatat inflasi sebesar 5,37 persen dan memberi kontribusi inflasi sekitar 0,07 persen terhadap total indeks.
"Pemerintah Kota Tangerang berhasil menjaga stabilitas perekonomian daerah dengan mencatatkan angka inflasi 2,2 persen (year on year),"
Pernyataan Asisten Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kota Tangerang menjadi rujukan bagi langkah-langkah lanjutan yang akan diambil pemerintah daerah untuk mengendalikan harga pangan, terutama produk unggas.
Rencana intervensi dan kebijakan
Pemkot Tangerang menyatakan akan merealisasikan sejumlah intervensi lapangan untuk memastikan stabilitas harga sampai akhir tahun. Langkah-langkah yang diusulkan meliputi koordinasi pasokan, pemantauan distribusi, dan pengawasan harga di tingkat ritel.
- Pengawasan harga dan ketersediaan pasokan bahan pangan strategis di pasar tradisional dan modern.
- Koordinasi dengan dinas terkait untuk memastikan distribusi berjalan lancar agar tidak terjadi kekosongan pasokan.
- Penerapan arahan kebijakan pusat, termasuk permintaan agar harga daging ayam tetap di bawah Harga Awal Penjualan (HAP).
Wali Kota Tangerang juga disebut memberi instruksi kepada jajaran pemerintah kota untuk fokus pada tiga aspek utama: ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, dan kelancaran distribusi pangan.
Impak bagi rumah tangga dan pasar lokal
Kenaikan harga daging ayam berpotensi meningkatkan tekanan pada anggaran belanja rumah tangga, mengingat komoditas tersebut merupakan salah satu bahan pokok yang banyak dikonsumsi. Meski kontribusi daging ayam terhadap inflasi total tercatat relatif kecil, pergerakan harganya tetap menjadi perhatian karena dampaknya terhadap kelompok berpendapatan rendah.
Di tingkat pasar, pedagang dan distributor perlu menyesuaikan strategi pasokan agar dapat menahan lonjakan harga. Sementara itu, konsumen dapat memantau perkembangan harga harian dan memanfaatkan alternatif bahan pangan yang lebih murah bila diperlukan.
Catatan akhir dan tindak lanjut
Pemerintah Kota Tangerang menegaskan komitmen menjaga stabilitas harga sampai akhir tahun fiskal 2026 dengan pemantauan berkala dan tindakan lapangan yang terkoordinasi. Selain intervensi operasional, koordinasi dengan provinsi dan pusat dipandang penting agar kebijakan harga, seperti HAP untuk daging ayam, dapat diterapkan efektif di lapangan.
Data resmi dan perkembangan lebih lanjut akan ditunggu oleh pelaku pasar dan masyarakat luas, sementara Pemkot menjanjikan laporan berkala terkait efektivitas langkah pengendalian harga yang diambil.
Rizky Maulana, Koresponden Daerah - Banten