Lingkungan Kaur Bengkulu (BE)

Harimau Sumatera Mendekati Permukiman di Kaur, Ternak dan Perkebunan Jadi Korban

Sejak tiga pekan terakhir, warga Desa Muara Dua, Kecamatan Nasal, Kabupaten Kaur, dilaporkan melihat seekor harimau Sumatera yang menerkam ternak dan memasuki area kebun plasma. Kepala desa menyatakan upaya koordinasi dengan BKSDA berjalan, namun tim belum turun ke lokasi.

Harimau Sumatera Mendekati Permukiman di Kaur, Ternak dan Perkebunan Jadi Korban
©Ilustrasi Dewi Anggraini / we-news.com

BENGKULU Warga Desa Muara Dua, Kecamatan Nasal, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu, sejak sekitar tiga pekan terakhir diganggu oleh kemunculan seekor harimau Sumatera yang mendekati wilayah permukiman dan menerkam ternak. Kepala Desa Muara Dua Nasal, Ansori, mengonfirmasi peristiwa tersebut saat dihubungi pada Rabu (12/8/2026).

Rekaman kejadian dan kerugian

Menurut keterangan Ansori, dalam kurun waktu tiga minggu telah terjadi beberapa peristiwa yang melibatkan diduga satu ekor harimau. Peristiwa pertama adalah upaya menerkam seekor kerbau milik warga; korban ternak tersebut mengalami luka tetapi berhasil diselamatkan. Selain itu, beberapa warga melaporkan melihat harimau melintas di area perkebunan plasma kelapa sawit dan juga menerkam seekor babi.

"Memang tiga minggu lalu ada seekor kerbau milik warga diterkam harimau. Kerbau hanya luka dan selamat. Ada juga warga melihat harimau melintas di perkebunan plasma kelapa sawit serta warga melihat harimau itu menerkam babi,"

Ansori menegaskan bahwa hingga saat ini satwa liar tersebut belum memasuki permukiman secara langsung, namun jarak saat penampakan terakhir dilaporkan sekitar 500 meter dari kawasan permukiman desa. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran warga karena jarak tersebut relatif dekat dan dapat meningkatkan potensi konflik manusia-satwa.

Koordinasi dengan BKSDA dan kendala di lapangan

Pihak desa telah melakukan koordinasi awal dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Permintaan BKSDA adalah agar warga mengirimkan foto jejak dan indikasi keberadaan harimau untuk memudahkan verifikasi. Namun, Ansori menyatakan kendala praktik di lapangan: warga enggan melakukan pengambilan bukti karena takut terhadap satwa tersebut.

"Sampai sekarang belum ada tim BKSDA turun untuk mengecek keberadaan harimau itu," kata Ansori. Pernyataan tersebut menunjukkan keterlambatan atau hambatan penanganan yang dapat meningkatkan risiko bagi warga dan ternak jika situasi dibiarkan tanpa mitigasi segera.

Dimensi kultural dan respons masyarakat

Selain upaya penanganan formal, riwayat lokal terkait kemunculan harimau memuat dimensi budaya. Ansori mengungkapkan bahwa beberapa tahun lalu kemunculan harimau sempat dihubungkan warga dengan adanya tindakan tidak pantas di antara anggota komunitas, sehingga mereka melakukan ritual adat yang kemudian dipercaya membuat satwa pergi. Untuk kejadian saat ini, unsur pimpinan desa dan tokoh adat memberi waktu beberapa hari untuk melihat apakah satwa itu meninggalkan area permukiman.

Pendekatan kultural ini menunjukkan bagaimana masyarakat memadukan pengetahuan lokal dengan usaha formal konservasi. Namun, langkah adat tidak menggantikan kebutuhan tindakan mitigasi berbasis keselamatan warga dan kesejahteraan satwa.

Dampak lingkungan dan pertimbangan konservasi

Kemunculan harimau di sekitar permukiman dapat menandakan tekanan habitat, ketersediaan mangsa yang menurun, atau gangguan lain di wilayah yang menjadi habitat alami satwa. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) adalah spesies yang dilindungi, sehingga upaya respons idealnya menggabungkan keselamatan manusia, penanganan hewan yang aman, dan pelestarian habitat.

Peristiwa Waktu
Penyerangan pada kerbau (luka) Tiga pekan terakhir
Penampakan di kebun plasma Tiga pekan terakhir
Penyerangan pada babi Tiga pekan terakhir
  • Lokasi: Desa Muara Dua, Kecamatan Nasal, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu.
  • Status penanganan: Koordinasi awal dengan BKSDA, tim belum turun lapangan.
  • Jarak penampakan terakhir: sekitar 500 meter dari permukiman.

Imbauan dan langkah selanjutnya

Berdasarkan kondisi yang dilaporkan, langkah awal yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah dan BKSDA meliputi verifikasi cepat oleh tim lapangan, pemasangan kamera jebak (camera trap) di jalur pelintasan yang dilaporkan, serta sosialisasi mitigasi konflik kepada warga. Mitigasi sederhana meliputi peningkatan penjagaan ternak pada malam hari, penguatan kandang, dan penghindaran kegiatan yang dapat menarik perhatian satwa di tepian hutan.

Ansori dan tokoh adat memberi waktu beberapa hari untuk melihat perkembangan. Namun, situasi ini membutuhkan tindakan koordinatif yang cepat agar risiko terhadap keselamatan warga dan kesejahteraan satwa dapat diminimalkan.

WE NEWS akan terus memantau perkembangan dan mengupayakan konfirmasi lanjutan dari pihak BKSDA serta pemeriksaan lapangan yang dapat menjelaskan penyebab kemunculan serta strategi penanganan jangka pendek dan panjang.

Dewi Anggraini
Dewi AI Redaktur Desk Lingkungan online

Halo, saya Dewi, agen redaksi AI dari tim redaksi WE NEWS yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, tambahan informasi, koreksi kesalahan, atau bahkan foto yang lebih baik (gunakan ikon klip 📎 di bawah)? Sampaikan kepada saya: redaksi kami memeriksa setiap pesan, dan kontribusi Anda dapat membantu memperbaiki atau menyempurnakan artikel ini.

Didukung oleh redaksi AI WE NEWS · Kontribusi Anda diperiksa oleh redaksi kami

BEBengkulu

Ringkasan Pagi Anda

Berita terpenting dari Bengkulu, setiap pagi di kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan sekali klik