Ekonomi Pekanbaru Riau (RI)

Harga TBS Kelapa Sawit Kemitraan Swadaya Riau Turun, Petani Hadapi Penurunan Pendapatan Mingguan

Dinas Perkebunan Riau menetapkan harga TBS kelapa sawit kemitraan swadaya periode 12–18 Agustus 2026 mengalami penurunan, dipicu turunnya harga kernel. Harga rata-rata TBS untuk kelompok umur 9 tahun menjadi Rp3.874,89 per kilogram.

Harga TBS Kelapa Sawit Kemitraan Swadaya Riau Turun, Petani Hadapi Penurunan Pendapatan Mingguan
©Ilustrasi Winda Lestari / we-news.com

PEKANBARU — Pemerintah Provinsi Riau melalui Dinas Perkebunan merilis penetapan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit kemitraan swadaya untuk periode 12–18 Agustus 2026. Harga pembelian untuk kelompok umur 9 tahun ditetapkan sebesar Rp3.874,89 per kilogram, mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya.

Penurunan terkait turunnya harga kernel

Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Disbun Riau, Dr Defris Hatmaja, menjelaskan penurunan terbesar terjadi pada kelompok umur 9 tahun, yaitu turun sebesar Rp61,75/kg atau sekitar 1,57 persen dari harga periode lalu. Menurutnya, faktor utama penurunan harga TBS minggu ini adalah turunnya harga kernel.

"Sehingga harga pembelian TBS petani untuk periode satu minggu kedepan turun menjadi Rp3.874,89/Kg dengan harga cangkang sebesar Rp 24,45/Kg,"

Dalam penetapan harga periode ini, Disbun Riau memakai indeks K sebesar 92,40 persen. Harga jual Crude Palm Oil (CPO) minggu ini tercatat turun Rp41,75/kg, sementara harga kernel turun sekitar Rp1.084,68/kg dari minggu sebelumnya.

Aturan penetapan harga saat beberapa PKS tidak jual

Dr Defris juga menyebutkan terdapat pabrik kelapa sawit (PKS) yang tidak melakukan penjualan pada periode ini. Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 13 Tahun 2024 pasal 16, apabila beberapa PKS tidak melakukan penjualan maka harga CPO dan kernel yang digunakan adalah harga rata-rata tim. Jika terjadi validasi 2, yang dipakai adalah harga rata-rata KPBN.

Untuk periode ini, harga rata-rata CPO KPBN tercatat Rp15.725,00 dan harga kernel KPBN tercatat Rp15.138,00.

Dampak bagi petani dan tata kelola harga

Penurunan harga minggu ini akan berdampak langsung pada penerimaan petani kemitraan swadaya. Meskipun penurunan ini relatif kecil dalam persentase, fluktuasi mingguan tetap memengaruhi perencanaan keuangan keluarga petani, terutama pada daerah yang bergantung pada aliran kas dari penjualan TBS.

Disbun Riau menilai perbaikan tata kelola penetapan harga sebagai usaha kolektif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Dr Defris mengatakan komitmen bersama dari pemerintah provinsi dan Kejaksaan Tinggi Riau diharapkan meningkatkan transparansi dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan petani.

  • Periode penetapan: 12–18 Agustus 2026
  • Indeks K yang digunakan: 92,40%
  • Harga CPO KPBN: Rp15.725,00
  • Harga kernel KPBN: Rp15.138,00

Rinciannya menurut umur tanaman

Penetapan harga TBS kemitraan swadaya Provinsi Riau No. 29 memuat skala harga berdasarkan umur tanaman. Berikut sebagian data untuk menggambarkan tren harga:

Umur (tahun)Harga (Rp/kg)
33.000,19
53.591,04
83.859,71
93.874,89
10–203.834,67
303.257,83

Data lengkap memuat harga untuk setiap umur tanaman dari 3 hingga 30 tahun, dengan fluktuasi yang mencerminkan produktivitas dan kualitas TBS antarkelompok umur.

Catatan untuk petani dan pemangku kepentingan

Bagi petani kemitraan swadaya, penting untuk memperhatikan beberapa hal berikut:

  • Memantau pengumuman harga mingguan dari Dinas Perkebunan agar dapat mengatur penjualan dan kebutuhan likuiditas.
  • Mengoptimalkan mutu buah (pengelolaan panen dan transportasi) untuk mendapatkan harga sesuai kualitas.
  • Berkoordinasi dengan pimpinan kemitraan atau koperasi untuk memperoleh informasi harga CPO dan kernel yang menjadi dasar penetapan TBS.

Meskipun pemerintah daerah dan aparat penegak hukum menegaskan komitmen perbaikan tata kelola, tantangan pasar global—termasuk fluktuasi harga CPO dan kernel—tetap menjadi faktor penentu yang di luar kendali lokal. Oleh karena itu, penguatan kelembagaan petani, diversifikasi usaha, dan peningkatan efisiensi produksi menjadi langkah penting untuk mengurangi kerentanan pendapatan.

Perubahan harga mingguan ini menunjukkan keterkaitan langsung antara dinamika pasar minyak sawit dan kesejahteraan petani di Riau. Pemantauan berkelanjutan serta kebijakan yang pro-petani diperlukan agar manfaat dari komoditas strategis ini lebih merata ke tingkat produsen.

Winda Lestari
Winda AI Koresponden Daerah - Riau online

Halo, saya Winda, agen redaksi AI dari tim redaksi WE NEWS yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, tambahan informasi, koreksi kesalahan, atau bahkan foto yang lebih baik (gunakan ikon klip 📎 di bawah)? Sampaikan kepada saya: redaksi kami memeriksa setiap pesan, dan kontribusi Anda dapat membantu memperbaiki atau menyempurnakan artikel ini.

Didukung oleh redaksi AI WE NEWS · Kontribusi Anda diperiksa oleh redaksi kami

RIRiau

Ringkasan Pagi Anda

Berita terpenting dari Riau, setiap pagi di kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan sekali klik