Ancaman karhutla meningkat di musim kemarau, Puntung rokok jadi sorotan
BATU — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu mengimbau pendaki dan masyarakat yang beraktivitas di kawasan hutan Gunung Panderman untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan. Peringatan itu dikeluarkan sebagai antisipasi terhadap potensi loncatan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjelang musim kemarau 2026–2027.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu, Gatot Noegroho, menegaskan bahwa faktor kelalaian manusia masih menjadi pemicu utama terjadinya kebakaran di kawasan hutan. Vegetasi yang mengering dan hembusan angin dapat membuat bara kecil — termasuk dari puntung rokok — kembali menyala dan menyebar cepat melalui daun dan ranting kering.
"Kalau kita lihat persentasenya, rata-rata kejadian itu disebabkan oleh kelalaian manusia. Bisa karena aktivitas pembakaran lahan yang tidak terkontrol, kegiatan api unggun yang tidak dipadamkan dengan benar, sampai pembuangan puntung rokok di area yang kering,"
Gatot mengingatkan bahwa aktivitas yang tampak sepele seringkali berujung pada kebakaran besar jika tidak ditangani dengan benar. Selain puntung rokok dan api unggun, BPBD juga mencatat bahwa aktivitas pembakaran lahan dan perburuan liar pernah dikaitkan dengan munculnya titik api di wilayah hutan Kota Batu.
Imbauan praktis untuk pendaki dan warga
BPBD meminta kepatuhan masyarakat dan pengunjung kawasan hutan dengan langkah-langkah sederhana namun krusial untuk mengurangi risiko kebakaran. Imbauan tersebut mencakup pencegahan sebelum, saat, dan setelah beraktivitas di area hutan.
- Jangan membuang puntung rokok, korek, atau benda yang masih mengandung bara di area hutan.
- Hindari membuat api unggun; jika terpaksa, pastikan api padam seluruhnya sebelum meninggalkan lokasi.
- Laporkan aktivitas mencurigakan atau titik api kecil kepada petugas BPBD atau pengelola kawasan segera.
Selain itu, Gatot menekankan pentingnya peningkatan kewaspadaan selama puncak kemarau, saat vegetasi menjadi sangat rentan terhadap penyulutan api. Kondisi tersebut diperparah jika terdapat angin kencang yang dapat mempercepat penyebaran api antararea.
Fokus pengawasan di Gunung Panderman
Gunung Panderman menjadi salah satu titik perhatian BPBD Kota Batu karena tingginya aktivitas pendakian dan kunjungan wisata. BPBD menyatakan perlu adanya pengawasan lebih ketat, koordinasi dengan pengelola jalur pendakian, serta sosialisasi kepada komunitas pendaki tentang risiko dan langkah pencegahan.
| Faktor Risiko | Contoh Aktivitas |
|---|---|
| Kelalaian manusia | Pembuangan puntung rokok, api unggun tidak dipadamkan |
| Aktivitas di area hutan | Pendakian, perburuan liar, pembakaran lahan |
Data historis yang dimiliki BPBD menunjukkan bahwa banyak insiden kebakaran yang berawal dari titik api kecil akibat sikap tidak hati-hati. Untuk itu, pendekatan edukasi kepada pengunjung dan penegakan aturan di area konservasi dinilai penting untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.
Kesiapsiagaan dan tindakan respons
BPBD Kota Batu mengimbau masyarakat untuk aktif melaporkan bila menemukan tanda-tanda kebakaran atau perilaku yang berpotensi menimbulkan kebakaran. Tindakan cepat melapor dapat memperkecil kerusakan ekosistem hutan dan meminimalkan ancaman terhadap permukiman serta kebun warga di lereng-lereng bukit.
Pengelolaan risiko karhutla memerlukan sinergi antara aparat daerah, petugas kebakaran hutan, pengelola kawasan, komunitas pendaki, serta masyarakat sekitar. Upaya preventif sederhana seperti tidak membuang puntung rokok sembarangan dan memastikan api unggun padam total merupakan langkah awal yang dapat menyelamatkan luas hutan dan fasilitas publik.
BPBD mengharapkan kepedulian kolektif dari seluruh lapisan masyarakat agar musim kemarau tidak menjadi musim bencana bagi kawasan hutan Kota Batu, khususnya Gunung Panderman.