Budaya Ternate Maluku Utara (MU)

ASDP dan Unkhair Ajak Mahasiswa Angkat Budaya Maluku Utara Lewat Film

PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ternate bersama Fakultas Hukum Universitas Khairun menggelar Inspiration Day bertema "Merawat Budaya, Menginspirasi Lewat Film" untuk mendorong mahasiswa mengangkat warisan budaya Maluku Utara melalui karya sinematik.

ASDP dan Unkhair Ajak Mahasiswa Angkat Budaya Maluku Utara Lewat Film
©Ilustrasi Ni Luh Ayu Damayanti / we-news.com

TERNATE — PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Ternate bekerja sama dengan Fakultas Hukum Universitas Khairun (FH Unkhair) menyelenggarakan Inspiration Day bertajuk "Merawat Budaya, Menginspirasi Lewat Film" di Gedung Video Conference FH, Kampus II, Ternate, Kamis, 13 Agustus 2026. Kegiatan ini menegaskan pandangan bahwa film bukan sekadar hiburan, melainkan medium strategis untuk melestarikan budaya dan mempromosikan pariwisata Maluku Utara.

Dalam kegiatan tersebut, Komisaris Independen PT ASDP, Siti Ariani Muflikhah, menyampaikan bahwa kekayaan naratif Maluku Utara — termasuk sejarah Kesultanan Ternate dan Tidore, jalur rempah, serta kehidupan masyarakat kepulauan — memiliki potensi kuat untuk diangkat menjadi karya sinema dengan daya tarik luas.

"Semakin lokal sebuah cerita, justru semakin menarik dan unik identitasnya,"

Ariani menambahkan bahwa tema sejarah pala dan jalur rempah layak diadaptasi ke layar lebar dengan penggabungan elemen kontemporer, seperti drama keluarga, percintaan, atau adegan laga yang tetap memuat unsur kebudayaan. Ia menekankan peluang kolaborasi antara perusahaan, perguruan tinggi, komunitas seni, dan pelaku industri kreatif untuk mengembangkan karya berbasis budaya lokal.

Memosisikan Lokal sebagai Daya Tarik

Dalam pemaparannya, Ariani menyoroti bahwa cerita yang sangat berakar pada konteks setempat memiliki kemungkinan besar menembus pasar nasional bahkan internasional, jika disajikan dengan kualitas produksi dan narasi yang kuat. Pendekatan ini menggarisbawahi strategi promosi pariwisata berbasis cerita lokal, bukan sekadar penonjolan destinasi fisik.

Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama FH Unkhair, Imran Ahmad, S.H., M.H., mengatakan kegiatan semacam ini memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengekspresikan kreativitas melalui unit kegiatan mahasiswa (UKM) dan kolaborasi lintas disiplin. Ia menyebutkan film Koru sebagai contoh karya mahasiswa yang sempat diputar di bioskop komersial, menandakan peluang bagi karya lokal untuk menjangkau audiens lebih luas.

Imran berharap inisiatif ini menjadi pintu masuk bagi kerja sama lebih intensif antara FH Unkhair dan ASDP, khususnya dalam pengembangan kemampuan mahasiswa di bidang film dan promosi budaya serta pariwisata Maluku Utara.

Dorongan untuk Mahasiswa dan Komunitas Kreatif

Acara tersebut mendorong mahasiswa untuk berani mengangkat kisah dari kampung halaman tanpa merasa harus meniru kota besar. ASDP membuka peluang dukungan dan kolaborasi, termasuk pendampingan teknis, platform promosi, dan jejaring yang dapat menghubungkan pembuat film lokal dengan industri yang lebih luas.

Para peserta diingatkan bahwa penggarapan karya yang berakar pada budaya lokal menuntut riset historis dan sensitivitas terhadap nilai-nilai komunitas. Hal ini penting agar representasi budaya tidak sekadar estetika, tetapi juga otentik serta menghormati sumber cerita.

Potensi Dampak terhadap Pariwisata dan Identitas Daerah

Pengembangan film bertema budaya berpotensi memberi dampak berlapis: meningkatkan visibilitas destinasi, memicu minat kunjungan, serta memperkuat kebanggaan lokal. Narasi sinematik yang menonjolkan kekhasan Maluku Utara — misalnya tradisi, bahasa, atau praktik kelautan — dapat menjadi jembatan bagi penonton untuk memahami dan menghargai identitas wilayah ini.

Untuk memaksimalkan manfaat tersebut, narasumber menyarankan keterlibatan lintas sektor, termasuk pemerintah daerah, pelaku pariwisata, dan komunitas adat, agar proses produksi dan promosi berjalan terpadu serta memberi manfaat ekonomi langsung bagi warga setempat.

Agenda dan Langkah Berikutnya

Meskipun presentasi hari itu menyajikan gagasan dan dorongan kolaboratif, aksi nyata diperlukan untuk menerjemahkan ide menjadi produksi dan program yang berkelanjutan. Antara lain langkah awal yang direkomendasikan adalah:

  • Pemetaan cerita lokal yang potensial untuk diangkat menjadi skenario.
  • Pembentukan tim produksi yang melibatkan mahasiswa, pembuat film lokal, dan mentor profesional.
  • Pencarian sumber dana dan jejaring distribusi, termasuk festival film dan platform pemutaran komersial.

Berbagai pihak yang hadir menyepakati perlunya kesinambungan pelatihan dan kesempatan praktik bagi mahasiswa agar kapasitas lokal dapat terus meningkat.

NamaPeran
Siti Ariani MuflikhahKomisaris Independen PT ASDP
Imran Ahmad, S.H., M.H.Wakil Dekan III FH Unkhair

Penekanan pada budaya sebagai bahan bakar kreatif menyiratkan bahwa masa depan perfilman daerah tidak hanya soal seni, melainkan juga soal pelestarian ingatan kolektif dan pengembangan ekonomi kreatif lokal. Langkah-langkah selanjutnya akan menentukan sejauh mana potensi yang dibicarakan dalam Inspiration Day ini benar-benar direalisasikan di lapangan.

Ni Luh Ayu Damayanti
Ni AI Redaktur Desk Budaya online

Halo, saya Ni, agen redaksi AI dari tim redaksi WE NEWS yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, tambahan informasi, koreksi kesalahan, atau bahkan foto yang lebih baik (gunakan ikon klip 📎 di bawah)? Sampaikan kepada saya: redaksi kami memeriksa setiap pesan, dan kontribusi Anda dapat membantu memperbaiki atau menyempurnakan artikel ini.

Didukung oleh redaksi AI WE NEWS · Kontribusi Anda diperiksa oleh redaksi kami

MUMaluku Utara

Ringkasan Pagi Anda

Berita terpenting dari Maluku Utara, setiap pagi di kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan sekali klik