JAKARTA — Sebanyak 65 pelajar asal wilayah pedalaman dan pegunungan Papua tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa, 11 Agustus 2026. Kedatangan mereka menandai kelanjutan program pendidikan yang difasilitasi Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHP) sejak 2023 dan mendapat perhatian pemerintah pusat.
Perjalanan panjang dan pendampingan
Para pelajar menempuh perjalanan laut selama tujuh hari dari Jayapura menuju Jakarta. Mereka akan menempuh tahapan pendidikan lanjutan di Tangerang, Banten, setelah menyelesaikan pendidikan dasar di kampung masing-masing. Rombongan tersebut didampingi oleh 32 orang yang terdiri dari rohaniawan, guru, dokter, perawat, dan tenaga medis.
Wakil Menteri Dalam Negeri, Ribka Haluk, menyambut kedatangan rombongan mewakili Menteri Dalam Negeri. Dalam sambutannya, Ribka memberi apresiasi kepada berbagai pihak yang membuka akses pendidikan bagi anak-anak Papua, serta menekankan bahwa upaya membawa pelajar dari pedalaman merupakan pekerjaan yang tidak mudah karena kondisi geografi dan keterbatasan akses.
"Jadi begitu direkrut dari SMP sampai dengan difasilitasi asrama dan semuanya, kemudian juga difasilitasi sampai ke perguruan tinggi. Ini pekerjaan yang luar biasa,"
Ribka juga berpesan agar para pelajar memanfaatkan kesempatan tersebut dengan belajar sungguh-sungguh dan mampu beradaptasi dengan lingkungan baru di Tangerang. "Ibu harap kalian belajar baik-baik di sini. Semua kebiasaan yang di sana kasih tinggal," ujarnya.
Asal pelajar dan layanan yang diberikan
Menurut keterangan resmi, ke-65 pelajar berasal dari sejumlah wilayah di Papua, termasuk Nalca, Korupun, Danowage, Daboto, Mokndoma, Waisai, Sentani, dan Tarup. Melalui program YPHP, para siswa mendapatkan fasilitas asrama serta pendampingan pendidikan sejak tingkat SMP sampai kesempatan melanjutkan ke Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLH) Gunung Moria di Tangerang dan bahkan hingga ke jenjang perguruan tinggi.
- Jumlah pelajar: 65 orang
- Pendamping: 32 orang (rohaniawan, guru, tenaga medis)
- Asal daerah: Nalca, Korupun, Danowage, Daboto, Mokndoma, Waisai, Sentani, Tarup
- Tujuan pendidikan: SLH Gunung Moria, Tangerang; peluang hingga perguruan tinggi
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Moda perjalanan | Perjalanan laut Jayapura–Tanjung Priok, 7 hari |
| Fasilitas | Asrama, pendampingan pendidikan, dukungan medis dan rohani |
| Penyelenggara program | Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHP) |
Dinamika tantangan akses pendidikan
Kedatangan rombongan ini mempertegas tantangan struktural yang dihadapi akses pendidikan di Papua. Jarak geografis, keterbatasan transportasi, serta infrastruktur pendidikan di daerah pedalaman dan pegunungan menjadi hambatan yang memaksa anak-anak untuk meninggalkan kampung halaman agar memperoleh pendidikan lanjutan.
Program seperti YPHP mencoba menjembatani kesenjangan tersebut dengan merekrut siswa di tingkat SMP, menyediakan asrama, kemudian memfasilitasi kelanjutan studi sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Pendekatan ini sekaligus membuka peluang bagi siswa dari komunitas adat untuk mendapatkan pendidikan formal yang selama ini sulit dijangkau.
Suara masyarakat adat dan harapan ke depan
Wakil Menteri Dalam Negeri menegaskan terima kasih atas upaya berbagai pihak yang mendukung program tersebut. Pernyataan itu mencerminkan pengakuan pemerintah terhadap peran lembaga swadaya masyarakat, yayasan, keluarga, dan komunitas lokal dalam membuka jalan bagi anak-anak Papua.
Bagi masyarakat adat, inisiatif semacam ini memiliki dimensi sosial dan budaya yang sensitif. Pergeseran lingkungan dan kebiasaan hidup untuk menempuh pendidikan di kota besar menuntut adaptasi ganda: akademis dan kultural. Pendampingan yang komprehensif—termasuk dukungan psikososial, penguatan identitas budaya, serta komunikasi yang melibatkan keluarga di kampung—menjadi penting agar hakikat pendidikan tidak mengikis akar budaya mereka.
Langkah praktis bagi keluarga dan masyarakat
Untuk mendukung keberlanjutan program dan kesejahteraan siswa, sejumlah langkah praktis perlu diperhatikan:
- Menyediakan jalur komunikasi berkala antara siswa dengan keluarga di kampung.
- Menjamin layanan kesehatan dan dukungan psikologis bagi siswa yang menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
- Mengintegrasikan kegiatan penguatan kearifan lokal dalam kurikulum asrama agar identitas budaya tetap terjaga.
Kedatangan 65 pelajar ini bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi upaya kolektif untuk membuka akses masa depan yang lebih luas bagi generasi Papua. Keberhasilan program akan bergantung pada komitmen berkelanjutan dari pemerintah, yayasan, serta komunitas asal untuk menjaga ikatan budaya sekaligus mendorong capaian pendidikan yang setara.
Naomi Wandik, Koresponden Daerah - Papua