Sungailiat — Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Kemuja, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, tetap dirayakan sebagai tradisi turun-temurun yang memadukan unsur keagamaan dan budaya lokal. Bupati Bangka, Fery Insani, menilai praktik itu bukan sekadar ritual keagamaan tetapi juga wahana mempererat kebersamaan dan menjaga identitas sosial masyarakat setempat.
Warisan leluhur yang lestari
Bupati Fery Insani menyampaikan bahwa tradisi Maulid di Desa Kemuja sudah melekat kuat dalam kehidupan warga hingga menimbulkan kebiasaan saling bersilaturahmi sebagaimana terjadi pada momen Lebaran Idul Fitri. Menurutnya, perayaan itu menjadi salah satu ungkapan kebersamaan yang menyatukan warga, bahkan menarik kunjungan dari masyarakat luar desa.
"Tradisi Maulid Nabi Muhammad di Desa Kemuja bukan sekadar upacara, melainkan perpaduan nilai agama dan budaya yang indah, harus senantiasa dipelihara karena selain ibadah, tradisi ini sebagai sarana silaturahmi, kebersamaan yang menyatukan hati seluruh masyarakat Kabupaten Bangka,"
Pernyataan tersebut diungkapkan saat acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Desa Kemuja. Penekanan pada pemeliharaan tradisi menunjukkan perhatian pemerintah daerah terhadap kelestarian budaya lokal sebagai bagian dari identitas komunitas.
Rangkaian kegiatan dan keunikan lokal
Kepala Desa Kemuja, Muhammad Solehan, menjelaskan bahwa rangkaian perayaan dimulai dengan tradisi Nganggung Sepintu Sedulang sehari sebelum puncak acara. Dalam tradisi ini warga bersama-sama membawa hidangan untuk dibagikan sambil membacakan riwayat dan sifat-sifat mulia Nabi Muhammad SAW. Keesokan paginya digelar peringatan puncak Maulid yang diisi dengan kegiatan keagamaan dan jamuan untuk tamu.
Warga setempat memeriahkan momentum tersebut dengan menyiapkan aneka kue tradisional, ketupat, opor ayam, dan hidangan lain yang disajikan kepada tamu yang berkunjung. Praktik saling berkunjung antar-rumah menjadi ciri khas yang memperkuat hubungan sosial di desa.
Dampak sosial dan budaya
Pemeliharaan tradisi Maulid di Desa Kemuja berkontribusi pada beberapa aspek penting kehidupan masyarakat, antara lain:
- Memperkuat jaringan sosial melalui praktik silaturahmi antarkeluarga dan tetangga.
- Menjaga keberlanjutan warisan budaya lokal yang bersinggungan dengan praktik keagamaan.
- Mendorong partisipasi komunitas dalam kegiatan kolektif yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Nilai-nilai ini selaras dengan upaya memperkokoh identitas sosial desa sekaligus menjadi medium pendidikan nilai kepada generasi muda agar tetap menghargai tradisi leluhur.
Peran pemerintah daerah
Bupati Fery Insani menilai bahwa tradisi semacam ini penting didukung karena memberi efek positif bagi kohesi sosial. Ia mendorong agar praktik-praktik kultural yang membawa muatan religi dan kebersamaan terus dipelihara tanpa menghilangkan nilai-nilai keagamaan yang mendasarinya.
Pernyataan resmi itu menunjukkan perhatian Pemerintah Kabupaten Bangka terhadap adat istiadat lokal yang berperan sebagai perekat sosial dan sumber identitas komunitas, khususnya di daerah pesisir dan pedesaan seperti Desa Kemuja.
Kondisi saat ini dan kesinambungan
Kepala Desa Muhammad Solehan menegaskan tradisi yang telah berlangsung ratusan tahun itu tetap dipertahankan dengan tetap menjaga keaslian pelaksanaan. Keaslian ini, menurutnya, menjadi faktor utama yang membuat tradisi terus diwariskan antargenerasi.
Meski demikian, keberlanjutan tradisi juga bergantung pada partisipasi aktif warga dan dukungan pihak-pihak terkait, termasuk lembaga pemerintahan dan organisasi kemasyarakatan. Upaya pelestarian perlu diimbangi dengan pendidikan nilai agar generasi muda memahami makna budaya yang diwariskan.
Catatan
| Aspek | Rincian |
|---|---|
| Lokasi | Desa Kemuja, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka |
| Rangkaian | Nganggung Sepintu Sedulang (sehari), puncak Maulid (keesokan hari) |
| Karakteristik | Perpaduan ibadah, jamuan makanan tradisional, silaturahmi antarrumah |
Perayaan Maulid di Desa Kemuja memperlihatkan bagaimana tradisi lokal yang berakar pada nilai keagamaan dapat menjadi perekat sosial sekaligus wadah pelestarian budaya. Pemerintah daerah dan tokoh masyarakat diharapkan terus mendukung praktik-praktik semacam ini agar tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang.