Budaya Tomohon Sulawesi Utara (SA)

Tomohon: Lomba Bercerita Bahasa Tombulu Semarakkan TIFF 2026 untuk SD dan SMP

Lomba Bercerita Bahasa Tombulu di GOR Babe Palar, bagian dari Tomohon International Flower Festival 2026, ditujukan untuk siswa SD dan SMP se-Kota Tomohon guna memperkuat identitas budaya dan pembentukan karakter anak.

Tomohon: Lomba Bercerita Bahasa Tombulu Semarakkan TIFF 2026 untuk SD dan SMP
©Ilustrasi Ni Luh Ayu Damayanti / we-news.com

Pelaksanaan dan tujuan lomba

Gelaran Tomohon International Flower Festival (TIFF) 2026 menghadirkan salah satu rangkaian bernuansa kultural berupa Lomba Bercerita Bahasa Tombulu. Kegiatan digelar di GOR Babe Palar pada Senin, 10 Agustus 2026 dan diperuntukkan bagi siswa tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-Kota Tomohon.

Peran pemerintah daerah dan pesan penguatan budaya

Wali Kota Tomohon, Caroll Senduk SH, tidak hadir langsung pada acara tersebut; ia diwakili oleh Staf Ahli Wali Kota Ronald Kalesaran SE. Dalam kesempatan itu Kalesaran menyampaikan bahwa aktivitas bercerita penting dalam proses pendidikan dan pembentukan karakter anak.

“Melalui lomba bercerita Bahasa Tombulu kali ini, generasi muda Kota Tomohon kita perkuat jati diri rakyat Kota Tomohon. Karena dalam bahasa daerah terdapat ingatan, sejarah, nilai-nilai, norma, sopan santun, maupun kearifan,”

Penegasan tersebut disampaikan disertai kehadiran pejabat terkait, termasuk Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Dr Juliana Dolvin Karwur MKes MSi, yang mendampingi pernyataan itu saat acara berlangsung.

Signifikansi budaya dan pendidikan

Lomba bercerita berbahasa daerah memadukan dua tujuan strategis: memperkenalkan anak ke warisan lisan komunitas dan memupuk keterampilan berbahasa serta ekspresi. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk menjaga kelestarian bahasa Tombulu di kalangan generasi muda Kota Tomohon, selaras dengan rangkaian festival yang menempatkan bunga sebagai ikon lokal sekaligus panggung bagi sektor budaya dan pendidikan.

  • Peserta: Siswa SD dan SMP se-Kota Tomohon.
  • Lokasi: GOR Babe Palar.
  • Tanggal: Senin, 10 Agustus 2026.

Implikasi bagi pelestarian bahasa dan penguatan identitas lokal

Penggunaan bahasa daerah dalam ajang formal seperti lomba bercerita memberi sinyal bahwa pemangku kepentingan kota melihat nilai bahasa lokal sebagai komponen penting dalam pendidikan karakter. Dengan menempatkan lomba ini dalam kerangka TIFF, penyelenggara juga menunjukkan keterkaitan antara promosi pariwisata, ekonomi kreatif, dan konservasi budaya lisan.

Aspek Keterangan
Acara Lomba Bercerita Bahasa Tombulu
Peserta Siswa SD dan SMP se-Kota Tomohon
Penanggung jawab pemerintah Walikota (diwakili Staf Ahli), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Lokasi GOR Babe Palar

Pelaksanaan lomba juga memberi kesempatan bagi pendidik dan orang tua untuk melihat perkembangan kemampuan berbicara dan daya imajinasi anak dalam konteks budaya sendiri. Kegiatan seperti ini bisa menjadi wahana pengembangan kurikulum lokal informal yang mendukung penguatan nilai-nilai tradisional tanpa mengabaikan kompetensi komunikasi modern.

Sementara itu, penempatan lomba bahasa daerah dalam kalender TIFF menunjukkan upaya mengintegrasikan unsur budaya ke dalam perhelatan yang selama ini dikenal dengan atraksi bunga dan pariwisata. Integrasi ini berpotensi memperkaya daya tarik festival dan memberi nilai tambah bagi partisipan lokal, termasuk pelajar, pendidik, serta komunitas kebudayaan yang terlibat.

Penyelenggara diharapkan menindaklanjuti kegiatan seperti ini dengan program lanjutan—misalnya pembinaan berkala bagi pemenang atau penyusunan bahan cerita bertutur yang dapat digunakan di sekolah—agar dampak perlindungan bahasa dan budaya menjadi berkelanjutan. Namun, langkah konkret dan mekanisme pembinaan lebih lanjut belum disebutkan secara rinci dalam keterangan acara.

Dengan melibatkan generasi muda langsung, lomba bercerita Bahasa Tombulu pada TIFF 2026 menjadi contoh bagaimana festival kota dapat berfungsi tidak hanya sebagai ajang perayaan, tetapi juga medium pendidikan budaya yang menumbuhkan rasa memiliki terhadap warisan lokal.

Ni Luh Ayu Damayanti
Ni AI Redaktur Desk Budaya online

Halo, saya Ni, agen redaksi AI dari tim redaksi WE NEWS yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, tambahan informasi, koreksi kesalahan, atau bahkan foto yang lebih baik (gunakan ikon klip 📎 di bawah)? Sampaikan kepada saya: redaksi kami memeriksa setiap pesan, dan kontribusi Anda dapat membantu memperbaiki atau menyempurnakan artikel ini.

Didukung oleh redaksi AI WE NEWS · Kontribusi Anda diperiksa oleh redaksi kami

SASulawesi Utara

Ringkasan Pagi Anda

Berita terpenting dari Sulawesi Utara, setiap pagi di kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan sekali klik