Bakso Urat dan Tutug Oncom sebagai Penggerak Ekonomi Lokal
Kota Tasikmalaya semakin menegaskan diri sebagai tujuan wisata kuliner di Jawa Barat. Dua ikon kuliner daerah, bakso urat dan nasi tutug oncom, bukan hanya menjadi daya tarik rasa, melainkan juga penggerak ekonomi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat.
Menurut data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya, kunjungan wisatawan ke kota ini mencapai 1,2 juta orang pada semester pertama 2026, naik sekitar 15 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sekitar 60 persen menyatakan tujuan kunjungan untuk menikmati kuliner, dengan bakso urat menjadi pilihan favorit.
Warisan Kuliner: Bakso Urat H. Oding dan Peran Kedai Legendaris
Bakso urat telah lama melekat dalam budaya kuliner masyarakat Tasikmalaya. Salah satu kedai legendaris, Bakso Urat H. Oding di Jalan Cihideung, terus menarik pelanggan sejak era 1980-an. Menurut penerus usaha tersebut, Dedi, operasional kedai masih padat terutama saat akhir pekan.
"Setiap hari kami bisa menjual hingga 500 porsi, terutama saat akhir pekan dan liburan,"
Angka tersebut menggambarkan skala permintaan lokal dan kunjungan luar kota yang turut menumbuhkan usaha pengolahan, rantai pasokan bahan baku, serta sektor jasa pendukung seperti transportasi dan penginapan.
Inovasi UMKM Tanpa Mengorbankan Cita Rasa
Pelaku usaha bakso urat di Tasikmalaya melakukan sejumlah inovasi untuk menjawab permintaan pasar dan memanfaatkan peluang oleh-oleh. Beberapa langkah yang ditempuh antara lain:
- Variasi produk seperti bakso urat isi keju dan bakso urat goreng.
- Pemasaran melalui platform digital dan media sosial.
- Pemanfaatan kemasan vakum agar bakso bisa dijadikan oleh-oleh tanpa cepat basi.
- Pelatihan digitalisasi dan sertifikasi halal yang difasilitasi pemerintah kota.
Rina, pengelola Bakso Urat Mang Udin di kawasan Dadaha, menyatakan kemasan vakum membantu meningkatkan penjualan sebagai oleh-oleh. Data menunjukkan penjualan oleh-oleh bakso urat meningkat hingga 30 persen dalam setahun terakhir.
Nasi Tutug Oncom: Kesederhanaan yang Menarik Wisatawan
Selain bakso urat, nasi tutug oncom menjadi salah satu kuliner yang mendongkrak citra kuliner Tasikmalaya. Hidangan sederhana namun penuh citarasa oncom menguatkan pengalaman kuliner lokal yang autentik. Kehadiran kedua ikon ini saling melengkapi, menawarkan pilihan bagi wisatawan yang ingin mencicipi aneka masakan khas Priangan.
Dukungan Pemerintah dan Dampak pada Lapangan Kerja
Pemerintah Kota Tasikmalaya aktif memberikan dukungan agar sektor kuliner berkembang terstruktur. Fasilitas yang disediakan meliputi pelatihan digitalisasi bagi UMKM dan bantuan proses sertifikasi halal. Langkah ini membuka peluang pasar lebih luas, termasuk wisatawan luar daerah dan tujuan oleh-oleh.
Dampak ekonomi dari geliat kuliner tampak pada peningkatan omzet warung, penyerapan tenaga kerja, dan perputaran modal di sektor terkait. Optimisme pelaku usaha berpeluang memperkuat ketahanan ekonomi lokal apabila didukung pengelolaan destinasi yang berkelanjutan dan peningkatan fasilitas pendukung.
| Indikator | Angka |
|---|---|
| Kunjungan wisatawan (semester I 2026) | 1,2 juta |
| Persentase wisatawan datang untuk kuliner | 60% |
| Penjualan bakso per hari di H. Oding (perkiraan) | 500 porsi |
| Kenaikan penjualan oleh-oleh bakso | 30% |
Meski data menunjukkan tren positif, beberapa tantangan tetap ada, antara lain kebutuhan peningkatan kualitas layanan, standar kebersihan, dan infrastruktur pariwisata agar pengalaman pengunjung lebih nyaman. Sinergi antar-pemangku kepentingan — pelaku usaha, pemerintah, dan komunitas lokal — menjadi kunci menjaga daya saing kuliner Tasikmalaya.
Geliat bakso urat dan nasi tutug oncom adalah cermin bagaimana warisan kuliner dapat menjadi modal pembangunan ekonomi lokal. Dengan pengelolaan yang tepat, kuliner khas Tasikmalaya berpotensi menjadi magnet pariwisata yang berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Peliputan oleh koresponden daerah WE NEWS, Jawa Barat.