Merauke — Pembangunan infrastruktur irigasi dalam Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional (KSPEAN) di Wanam, Kabupaten Merauke, mulai menunjukkan kemajuan yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat adat setempat. Data yang disampaikan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat progres fisik dan penanaman lahan yang menjanjikan untuk musim panen mendatang.
Progres fisik dan lahan yang sudah dibuka
Sampai dengan 1 Oktober 2026, pembangunan saluran irigasi di kawasan KSPEAN Wanam telah mencapai 133 kilometer dari target sepanjang 180 kilometer. Selain itu, lahan yang sudah berhasil ditanami mencapai 40 hektare dari rencana awal seluas 130 hektare. Lahan yang ditanami itu direncanakan akan memasuki masa panen pada November 2026.
Pembangunan saluran irigasi tersebut merupakan bagian tahap awal yang mencakup saluran primer dan sekunder. Dalam keterangan resmi yang dikutip dari pemantauan lapangan, Kementerian PUPR menegaskan bahwa kesiapan saluran irigasi menjadi prasyarat agar pertanian rawa di kawasan tersebut dapat berfungsi secara optimal.
Dampak terhadap masyarakat adat
Ketua Adat Wanam, Yohannes Agabi Mause, menyatakan bahwa masyarakat adat mulai merasakan manfaat ekonomi dari pengembangan KSPEAN. Peralihan pola tanaman dari sagu menuju sawah membuka peluang peningkatan produksi dan potensi pendapatan warga.
"Dan kami bersyukur atas program Bapak Presiden Prabowo. Kami sangat bersyukur, Terima kasih, Pak. Di sini, ekonomi kami sangat butuh peningkatan dan perubahan ekonomi, yang tadinya kita pangkur sagu, kalau boleh sekarang kita garap sawah. Sawah dan panenannya hasilnya kita bisa lihat, dan masyarakat adat kita ini butuh agar generasi mendatang di sini tidak menderita lagi,"
Pernyataan tersebut mencerminkan harapan warga adat terhadap perubahan struktur kegiatan ekonomi lokal yang selama ini bergantung pada sumber daya tradisional.
Ketersediaan air sebagai kunci
Menteri PUPR, Dody Hanggodo, menggarisbawahi pentingnya menyiapkan ketersediaan air tawar untuk mendukung pertanian rawa di kawasan tersebut. Menurut Dody, jaringan irigasi harus mampu menjamin pasokan air dalam berbagai kondisi agar produksi pertanian tidak terganggu.
"Nah, tugas kita adalah menyiapkan airnya. Airnya pokoknya cukup untuk 130 hektare, dan next-nya adalah untuk 10 ribu hektare. Makanya, kita harus memastikan bahwa air tawar wajib tersedia dalam kondisi apa pun untuk sawah-sawah ini,"
Pernyataan ini menegaskan target jangka panjang proyek, di mana pengelolaan air menjadi prioritas untuk memperluas areal tanam hingga 10.000 hektare.
Rangka kerja teknis dan tahapan
Kementerian PUPR menyebut pekerjaan sedang difokuskan pada pembangunan saluran primer dan sekunder sebagai tahap pertama. Tahapan ini krusial untuk:
- Menjamin distribusi air yang stabil ke lahan sawah;
- Mencegah intrusi air asin di lahan rawa;
- Menyediakan dasar teknis bagi perluasan areal tanam berikutnya.
| Parameter | Angka saat ini | Target |
|---|---|---|
| Panjang saluran irigasi | 133 km | 180 km |
| Lahan ditanami | 40 ha | 130 ha |
| Perluasan jangka panjang | 10.000 ha (target pengairan) | |
Impak ekonomi dan tantangan
Peralihan komoditas dan pembukaan areal sawah berpotensi meningkatkan produksi pangan lokal serta membuka mata rantai ekonomi baru bagi masyarakat adat, mulai dari upah buruh tani hingga pemasaran hasil panen. Namun, beberapa tantangan teknis tetap harus diatasi, antara lain pengendalian kualitas air, pemeliharaan jaringan irigasi, dan penyesuaian praktik budidaya untuk lahan rawa.
Kementerian PUPR juga perlu berkoordinasi dengan instansi lain untuk memastikan dukungan penyuluhan pertanian, akses input produksi, dan akses pasar bagi petani setempat agar manfaat program dapat dirasakan berkelanjutan.
Pembangunan KSPEAN Wanam menjadi salah satu upaya strategis pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan nasional melalui konversi lahan rawa menjadi lahan produktif. Perkembangan selanjutnya akan menjadi indikator penting bagi efek nyata terhadap kesejahteraan masyarakat adat di Merauke.