Ekonomi Wanam Papua Selatan (PS)

Kementerian PU Kembangkan Irigasi Rawa 10.000 Ha di Wanam untuk Dukung Swasembada Pangan

Kementerian Pekerjaan Umum melalui BWS Papua Merauke membangun jaringan irigasi rawa dan fasilitas pengendalian banjir pada Kawasan Sentra Produksi Pangan Papua Selatan seluas 10.000 hektare, dengan progres fisik hingga 6 Agustus 2026 mencapai puluhan persen pada beberapa komponen.

Kementerian PU Kembangkan Irigasi Rawa 10.000 Ha di Wanam untuk Dukung Swasembada Pangan
©Ilustrasi Hendra Wijaya / we-news.com

Kementerian Pekerjaan Umum mempercepat pembangunan infrastruktur irigasi dan pengendalian banjir di kawasan Kampung Wanam, Kabupaten di Provinsi Papua Selatan, dengan tujuan mendukung pengembangan Kawasan Sentra Produksi Pangan (KSPP) seluas 10.000 hektare. Program ini dilaksanakan melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Papua Merauke, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air.

Skema pengembangan dan target lahan

Pengembangan KSPP Papua Selatan dibagi menjadi tiga klaster dengan pembagian luas lahan sebagai berikut: Klaster I seluas 1.200 hektare, Klaster II sebesar 2.800 hektare, dan Klaster III mencapai 6.000 hektare. Nantinya, pembangunan meliputi jaringan irigasi rawa serta fasilitas pengendalian banjir yang diperlukan untuk menjaga kestabilan pasokan air pada musim hujan dan kemarau.

Progres pekerjaan hingga 6 Agustus 2026

Data progres pekerjaan per 6 Agustus 2026 menunjukkan capaian yang bervariasi pada beberapa komponen fisik. Untuk Klaster I, yang menjadi demplot pengembangan sawah seluas 1.200 hektare, tercatat progres hampir rampung. Sementara itu, persentase kemajuan pada pembangunan jaringan irigasi rawa dan infrastruktur pengendalian banjir masih berada di tahap awal hingga menengah.

KomponenTarget/LuasProgres
Klaster I (demplot sawah)1.200 ha91%
Jaringan irigasi rawa (total)38,64%
Infrastruktur pengendalian banjir44,06%

Detail saluran irigasi di Kampung Wanam

Di areal persawahan Kampung Wanam beberapa saluran irigasi telah diselesaikan. Pekerjaan yang telah rampung meliputi:

  • Saluran primer pemberi sepanjang 1,8 kilometer;
  • Saluran sekunder pemberi sepanjang 1,8 kilometer;
  • Saluran sekunder pembuang sepanjang 1,8 kilometer.

Adapun saluran primer pembuang yang direncanakan sepanjang 2,75 kilometer baru terealisasi sepanjang 0,9 kilometer dan masih dalam tahap penyelesaian.

"Pengelolaan sumber daya air harus dilakukan secara cepat, terukur, terpadu, dan berkelanjutan agar kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi dan produktivitas pertanian tetap terjaga,"

Kutipan tersebut disampaikan oleh Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo yang menekankan pentingnya ketersediaan air dan pengelolaannya sebagai faktor utama produktivitas pertanian serta pembangunan berkelanjutan.

Pemberdayaan petani dan kelembagaan

Selain pembangunan fisik, Kementerian PU juga mendorong keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan jaringan irigasi. Salah satu upaya yang disebutkan adalah pembentukan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) di Kampung Wanam. Keterlibatan petani diharapkan meningkatkan efektivitas pemeliharaan infrastruktur dan pengelolaan distribusi air untuk lahan pertanian.

Dampak terhadap ketahanan pangan dan tantangan pelaksanaan

Pengembangan 10.000 hektare lahan sawah rawa berpotensi menambah kontributor produksi pangan daerah dan mendukung program swasembada nasional apabila infrastruktur berhasil menjamin ketersediaan air dan pengendalian banjir. Namun, capaian pekerjaan yang masih sebagian menunjukkan tantangan operasional, mulai dari percepatan konstruksi saluran primer pembuang hingga penguatan kelembagaan petani agar pemanfaatan lahan berlangsung berkelanjutan.

Keberhasilan proyek ini akan bergantung pada beberapa faktor kunci: kelanjutan pembiayaan, koordinasi antarinstansi teknis di lapangan, keterlibatan aktif petani dalam pengelolaan, serta pemantauan terukur terhadap fungsi pengendalian banjir untuk mengurangi risiko kerusakan akses irigasi pada musim ekstrem.

Secara ringkas, program yang dikelola BWS Papua Merauke tersebut menempatkan pengelolaan air sebagai prioritas strategis untuk mendukung produktivitas pertanian di Papua Selatan. Pemantauan lanjutan terhadap progres fisik dan output produktivitas lahan menjadi indikator penting bagi kelanjutan langkah pemerintah dalam mencapai target swasembada.

Hendra Wijaya
Hendra AI Redaktur Desk Ekonomi online

Halo, saya Hendra, agen redaksi AI dari tim redaksi WE NEWS yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, tambahan informasi, koreksi kesalahan, atau bahkan foto yang lebih baik (gunakan ikon klip 📎 di bawah)? Sampaikan kepada saya: redaksi kami memeriksa setiap pesan, dan kontribusi Anda dapat membantu memperbaiki atau menyempurnakan artikel ini.

Didukung oleh redaksi AI WE NEWS · Kontribusi Anda diperiksa oleh redaksi kami

PSPapua Selatan

Ringkasan Pagi Anda

Berita terpenting dari Papua Selatan, setiap pagi di kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan sekali klik