Merauke — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Papua Selatan telah menjalar hingga ke kawasan Taman Nasional Wasur, yang menurut aktivis lingkungan merupakan salah satu benteng konservasi terakhir di wilayah itu. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Papua melaporkan puluhan hingga ratusan titik sumber api terdeteksi di kawasan konservasi dan sekitarnya selama periode kemarau akibat fenomena El Nino 2026.
Deteksi titik api dan sebaran kebakaran
Direktur Eksekutif WALHI Papua, Maikel Primus Peuki, menyebutkan peningkatan signifikan titik api di Provinsi Papua Selatan. Berdasarkan pengamatan organisasi itu dan rujukan pernyataan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Jayapura, tercatat total 573 titik api (hotspot) yang terdeteksi di wilayah tersebut.
"Taman Nasional Wasur merupakan benteng terakhir konservasi dan sumber air minum Rawa Biru di Kabupaten Merauke."
WALHI mengidentifikasi sumber asap dan titik api tidak hanya di Wasur tetapi juga di kawasan konservasi lain seperti Suaka Margasatwa Pulau Dolok serta area hutan yang dikuasai kementerian. Data yang disampaikan WALHI menyebutkan puluhan hingga ratusan titik api tersebar di beberapa lokasi kunci di Papua Selatan.
| Lokasi | Jumlah titik api (hotspot) |
|---|---|
| Taman Nasional Wasur | 133 |
| Suaka Margasatwa Pulau Dolok | 71 |
| Areal Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (Kemenhan), sekitar jalan 135 km Wanam–Muting | 294 |
| Jumlah total terdeteksi | 573 |
Ancaman terhadap sumber daya air dan akses transportasi
WALHI memperingatkan bahwa kebakaran yang merambah TN Wasur dapat mengancam fungsi kawasan sebagai sumber air bagi Rawa Biru dan merusak habitat penting. Maikel juga menyebutkan bahwa jalan Trans-Papua menuju Kabupaten Boven Digoel melewati kawasan TN Wasur, sehingga kebakaran berpotensi berdampak pada akses transportasi darat antarwilayah.
Sementara itu, Suaka Margasatwa Pulau Dolok yang luasnya juga besar berada dalam ancaman kebakaran dengan puluhan titik api terdeteksi. Kawasan-kawasan ini memiliki nilai konservasi tinggi bagi keanekaragaman hayati lokal dan ketahanan ekosistem di Papua Selatan.
Kontroversi pembukaan lahan oleh Kementerian Pertahanan
Dosen Alkitab dan Lingkungan Hidup Universitas Katolik Fajar Timur, Dr. Ignasius Ngari, OFM, mengingatkan bahwa beberapa keputusan izin penggunaan lahan dapat meningkatkan kerentanan kawasan konservasi terhadap kebakaran. Ia menyinggung pemberian izin oleh Departemen Kehutanan kepada Kementerian Pertahanan untuk membuka lahan guna pembangunan markas batalion pada koridor jalan sekitar 135 kilometer dari Wanam ke Muting, yang berdekatan dengan TN Wasur.
"Sebenarnya TN Wasur harus mendapat perlindungan. Namun beberapa waktu lalu ada pemberian izin dari Departemen Kehutanan kepada Kementerian Pertahanan... Areal ini juga berdekatan dengan TN Wasur,"
Pernyataan tersebut menyoroti risiko tata guna lahan yang dapat memperbesar peluang terjadi kebakaran dan mengurangi kemampuan kawasan konservasi untuk menahan gangguan ekologis.
Konstelasi iklim dan kondisi lapangan
Sumber laporan yang dikutip WALHI mengaitkan peningkatan titik panas dengan kondisi kemarau akibat El Nino 2026. Fenomena tersebut, bersama faktor lokal seperti ketersediaan bahan bakar kering (vegetasi kering), berkontribusi terhadap meningkatnya kejadian karhutla di beberapa wilayah di Indonesia, termasuk Papua Selatan.
WALHI dan akademisi yang meninjau kondisi lapangan menekankan perlunya langkah segera untuk meredam penyebaran api dan melindungi kawasan konservasi yang tersisa. Langkah tersebut meliputi penguatan pengawasan, koordinasi antarlembaga, dan tindakan pemadaman yang terarah pada titik-titik kritis.
- Identifikasi dan pemantauan titik api secara berkala menggunakan citra dan patroli lapangan.
- Koordinasi penanggulangan antara pihak kehutanan, instansi pertahanan, pemerintah daerah, dan lembaga lingkungan.
- Perlindungan sumber air dan habitat penting seperti Rawa Biru dari dampak kebakaran.
WALHI Papua telah menyampaikan temuan dan keprihatinannya melalui forum diskusi lingkungan di Jayapura dan menyerukan perhatian lebih dari pihak berwenang untuk mencegah kerusakan permanen pada kawasan konservasi. Hingga laporan ini ditulis belum ada keterangan resmi lebih lanjut tentang upaya pemadaman terkoordinasi yang diumumkan di tingkat daerah atau pusat terkait titik-titik api tersebut.