PDI Perjuangan menyatakan apresiasi atas pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menegaskan bahwa arah kebijakan ekonominya, dikenal sebagai Prabowonomics, berlandaskan semangat Marhaenisme. Namun partai itu memberi peringatan tegas agar Marhaenisme tidak berhenti pada retorika tanpa diiringi langkah kebijakan yang mengubah kondisi hidup rakyat kecil.
Konteks pernyataan dan respons PDIP
Pernyataan itu mendapat tanggapan dari Hasto Kristiyanto, Sekretaris Jenderal DPP PDIP, seusai mengikuti upacara peringatan ulang tahun ke-81 kemerdekaan Republik Indonesia di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, pada Senin, 17 Agustus 2026. Menurut Hasto, penghormatan terhadap gagasan Marhaenisme perlu diikuti komitmen kebijakan yang jelas agar tidak sekadar menjadi jargon politik.
"Marhaenisme bukan sekadar istilah, melainkan asas perjuangan yang memiliki konsekuensi terhadap arah kekuasaan dan kebijakan negara,"
Pernyataan tersebut menempatkan perhatian pada kebutuhan penerjemahan nilai-nilai ideologis ke dalam program-program konkret yang berdampak pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah, khususnya petani dan pekerja kecil.
Pesan kunci PDIP
Secara garis besar, pesan yang disampaikan PDIP dapat dirangkum sebagai berikut:
- Marhaenisme harus lebih dari label politik; ia harus tampak dalam desain kebijakan yang pro-rakyat kecil.
- Penggunaan istilah ideologis oleh pemerintahan menuntut bukti nyata melalui kebijakan yang mengubah kehidupan rakyat.
- PDIP menyambut baik penggalakan kembali gagasan Marhaenisme, tetapi akan mengawasi penerapan kebijakan yang mengatasnamakan ide tersebut.
Implikasi politik dan kebijakan
Pernyataan PDIP merefleksikan dinamika politik antara partai politik yang berbasis massa dan pemerintahan yang sedang memosisikan dirinya pada landasan ideologis tertentu. Pesan agar Marhaenisme tidak menjadi sekadar jargon menekankan persyaratan akuntabilitas kebijakan publik: klaim ideologis menuntut program yang terukur, terarah, dan berdampak pada kelompok yang diklaim diuntungkan.
Dari sisi politik, sikap PDIP berfungsi ganda: pertama sebagai bentuk penghormatan atas kembalinya diskursus ideologis yang dekat dengan basis pemilihnya; kedua sebagai sinyal pengawasan terhadap langkah-langkah pemerintah. Pernyataan itu berpotensi mendorong perdebatan publik tentang bagaimana parameter keberpihakan sosial-ekonomi diukur dan dielakkan dari sekadar simbolisme.
Data ringkas
| Aktor | Posisi | Peristiwa |
|---|---|---|
| Prabowo Subianto | Presiden | Mengemukakan Prabowonomics berlandaskan Marhaenisme |
| PDI Perjuangan (Hasto Kristiyanto) | Partai politik | Menyambut namun meminta bukti kebijakan |
| Lokasi | Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan (17 Agustus 2026) | |
Catatan akhir
Pernyataan PDIP menempatkan fokus pada kebutuhan pencocokan antara wacana ideologis pemerintah dan realitas kebijakan di lapangan. Bagi pengamat kebijakan, langkah berikutnya yang relevan untuk dipantau adalah rincian program ekonomi yang disebut Prabowonomics, indikator kesejahteraan yang digunakan, serta mekanisme evaluasi dampak terhadap kelompok marjinal seperti petani dan pekerja sektor informal. Tanpa rincian tersebut, pernyataan ideologis berisiko menjadi retorika tanpa verifikasi yang kuat.
PDIP, melalui pernyataannya, menegaskan bahwa dukungan simbolis dapat berubah menjadi pengawasan politik jika bukti kebijakan tidak segera terlihat.