Pemerintah Kota Medan Luncurkan Program Reboisasi Akibat Pembangunan BRT
Pemerintah Kota Medan, melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), mencatat sebanyak 2.788 pohon terdampak pekerjaan pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT) Medan–Binjai–Deli Serdang (Mebidang). Sebagai upaya mitigasi, DLH menyiapkan penanaman pengganti berjumlah 61.170 batang pohon yang akan ditempatkan di 341 titik tersebar pada 21 kecamatan di Kota Medan.
Keterangan tersebut disampaikan Kepala DLH Kota Medan, Melvi Marlabayana, saat kegiatan sosialisasi pembangunan BRT di Ruang Rapat III Kantor Wali Kota Medan, Selasa, 11 Agustus 2026. Sampai dengan laporan per 10 Agustus 2026, DLH mencatat realisasi penanaman sudah mencapai 14.377 pohon, dan kegiatan penanaman masih berlangsung di berbagai lokasi.
"Seluruh pohon pengganti ditanam di 341 lokasi yang tersebar di 21 kecamatan di Kota Medan,"
Penanaman dilakukan bertahap dengan pembagian alokasi per wilayah. Data DLH menunjukkan distribusi penanaman pada beberapa kecamatan sebagai berikut:
- Medan Tuntungan: 13.712 pohon
- Medan Labuhan: 10.140 pohon
- Medan Selayang: 5.633 pohon
- Medan Maimun: 4.710 pohon
- Medan Belawan: 3.049 pohon
Rincian lainnya mencakup Medan Polonia (3.574), Medan Amplas (3.734), Medan Deli (2.996), Medan Helvetia (2.473), Medan Johor (2.080) serta beberapa kecamatan pusat dan timur dengan alokasi lebih kecil seperti Medan Perjuangan (94) dan Medan Area (130).
| Kecamatan | Alokasi Pohon |
|---|---|
| Medan Tuntungan | 13.712 |
| Medan Labuhan | 10.140 |
| Medan Selayang | 5.633 |
| Medan Maimun | 4.710 |
DLH menargetkan seluruh penanaman pohon pengganti selesai pada akhir Oktober 2026. Target ini disampaikan sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan lingkungan kota seiring proses konstruksi infrastruktur transportasi publik.
Implikasi Lingkungan dan Sosial
Pembangunan proyek transportasi besar seperti BRT tidak lepas dari konsekuensi terhadap penutup hijau perkotaan. Penebangan pohon di sepanjang koridor proyek menimbulkan kekhawatiran terkait penurunan kualitas udara, pengurangan ruang terbuka hijau, dan potensi berdampak pada estetika lingkungan permukiman serta drainase.
Langkah penanaman puluhan ribu pohon pengganti menunjukkan upaya pemerintah kota untuk menutup celah tersebut. Namun, efektivitas program bergantung pada beberapa faktor teknis dan administratif, termasuk:
- Jenis pohon yang ditanam dan kecocokannya dengan kondisi lahan.
- Perawatan pasca-penanaman (penyiraman, pemeliharaan, perlindungan dari vandalisme).
- Koordinasi antar-perangkat daerah serta keterlibatan masyarakat setempat.
Sumber berita tidak merinci spesies pohon yang digunakan maupun skema pemeliharaan jangka panjang. Keterangan tersebut penting untuk memastikan pohon pengganti dapat tumbuh dan memberi manfaat ekologis serta sosial bagi warga.
Catatan Administratif
Pemerintah Kota Medan memimpin proses sosialisasi yang dipimpin Asisten Administrasi Umum Setda, Laksamana Putra Siregar, dan melibatkan sejumlah pimpinan perangkat daerah terkait. Pelibatan lintas perangkat daerah ini penting untuk memastikan proses penggantian vegetasi berjalan sinkron dengan progres pembangunan BRT.
Saat ini, warga yang memperhatikan penanaman di lingkungan masing-masing diharapkan aktif memantau serta melaporkan bila ada kendala perawatan kepada kelurahan atau Dinas Lingkungan Hidup. Pemerintah kota perlu memastikan transparansi data lokasi penanaman dan jadwal perawatan agar manfaat ekosistem yang dijanjikan benar-benar terwujud.
Saya mencatat, proyek BRT memang memberi harapan pada mobilitas publik, tetapi sebagai orang Medan saya juga mengingatkan: pembangunan harus berjalan sambil menjaga pohon-pohon kita. Penanaman puluhan ribu pohon bukan sekadar angka—itu taruhan masa depan udara dan ruang hidup kota ini.