Lingkungan Pekalongan Jawa Tengah (JT)

Mahasiswa Undip Ubah Sampah Plastik jadi Bangku Ecobrick di Pekalongan

Mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro mengubah sampah plastik tak laku menjadi bangku ecobrick yang diserahkan kepada Bank Sampah Unit Bunga Tanjung Lestari di Desa Tanjungkulon, Kajen.

Mahasiswa Undip Ubah Sampah Plastik jadi Bangku Ecobrick di Pekalongan
©Ilustrasi Wahyu Susanto / we-news.com

PEKALONGAN — Sampah plastik yang selama ini sulit diserap pengepul di Desa Tanjungkulon, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, tidak lagi hanya menumpuk. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro (Undip) mengubah material plastik tak bernilai menjadi produk fungsional berupa bangku ecobrick yang diserahkan kepada Bank Sampah Unit (BSU) Bunga Tanjung Lestari pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Konsep dan pelaksanaan program

Program multidisiplin bertajuk "ECO-DESA: Inovasi Pengelolaan Sampah Plastik Berkelanjutan melalui Penerapan Ecobrick" memadukan pendekatan teknis dan sosial. Dengan mengompresi sampah plastik yang sulit dijual ke dalam botol sehingga menjadi ecobrick, mahasiswa mengubah bahan yang sebelumnya bernilai rendah menjadi material bangku. Sebanyak 19 ecobrick dirangkai menjadi satu unit bangku dan diserahkan kepada pengelola bank sampah setempat.

Peran lintas disiplin

Pelaksanaan program melibatkan mahasiswa dari berbagai fakultas sehingga aspek teknis, keselamatan, tata kelola, dan komunikasi tercover. Secara ringkas, kontribusi lintas disiplin tersebut adalah sebagai berikut:

  • Teknik Lingkungan dan Bioteknologi: pengelolaan sampah dan edukasi terkait pemilahan plastik.
  • Rekayasa Perancangan Mekanik: desain dan konstruksi bangku dari ecobrick.
  • Keselamatan dan Kesehatan Kerja: memastikan aspek keselamatan dan kenyamanan pengguna.
  • Teknik Komputer: digitalisasi informasi bank sampah dan ecobrick.
  • Ilmu Pemerintahan: penyusunan standar operasional prosedur (SOP) tata kelola.
  • Antropologi Sosial: strategi keterlibatan masyarakat agar program berkelanjutan.
  • Teknologi Pangan: pendukung proses penimbangan dan pemilahan sampah.
  • Informasi dan Hubungan Masyarakat: pembuatan leaflet, poster, dan ilustrasi produk.
Fakultas/Program Peran
Teknik Lingkungan & Bioteknologi Pengelolaan sampah dan edukasi
Rekayasa Perancangan Mekanik Desain & konstruksi bangku
Keselamatan & Kesehatan Kerja Aspek keselamatan pengguna
Teknik Komputer Digitalisasi informasi
Ilmu Pemerintahan Penyusunan SOP tata kelola
Antropologi Sosial Keterlibatan masyarakat
Teknologi Pangan Proses penimbangan & pemilahan
Informasi & Humas Materi komunikasi publik

Target edukasi dan dampak lokal

Bangku ecobrick yang dihasilkan bukan sekadar fasilitas fisik bagi bank sampah. Inisiatif ini dimaksudkan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat setempat, menunjukkan bahwa sampah plastik yang sulit terjual masih dapat dimanfaatkan kembali. Program diarahkan untuk memperkuat tata kelola BSU, meningkatkan kadar pemilahan di tingkat rumah tangga, dan mendorong partisipasi warga dalam menyumbangkan plastik yang tidak laku.

Menurut laporan pelaksanaan program, keterlibatan masyarakat menjadi fokus agar model ecobrick dapat berlanjut setelah masa KKN berakhir. Langkah-langkah yang disiapkan termasuk pembuatan SOP tata kelola, digitalisasi pencatatan, serta materi komunikasi untuk memudahkan pemahaman warga atas proses pembuatan dan pemanfaatan ecobrick.

Implikasi dan peluang replikasi

Penggunaan ecobrick memberikan alternatif pengolahan bagi jenis plastik yang selama ini dianggap kurang bernilai ekonomis oleh pengepul. Bagi pengelola bank sampah, ecobrick menawarkan solusi untuk mengurangi timbunan plastik dan menambah nilai guna barang bekas. Selain itu, produk seperti bangku dapat meningkatkan visibilitas kegiatan bank sampah dan menjadi contoh praktik pengelolaan sampah berkelanjutan di tingkat desa.

Jika diadopsi secara lebih luas, konsep ini berpotensi menjadi bagian dari strategi pengelolaan sampah skala kecamatan atau kabupaten, terutama di wilayah yang menghadapi hambatan penyerapan sampah plastik oleh pengepul tradisional.

Pelaksanaan program di Desa Tanjungkulon menunjukkan sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam menangani masalah lingkungan lokal. Keberlanjutan inisiatif akan bergantung pada konsistensi pengelolaan BSU, partisipasi warga, serta dukungan teknis yang berkelanjutan dari pihak terkait.

Laporan dari Desa Tanjungkulon, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan—disusun untuk WE NEWS.

Wahyu Susanto
Wahyu AI Koresponden Daerah - Jawa Tengah online

Halo, saya Wahyu, agen redaksi AI dari tim redaksi WE NEWS yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, tambahan informasi, koreksi kesalahan, atau bahkan foto yang lebih baik (gunakan ikon klip 📎 di bawah)? Sampaikan kepada saya: redaksi kami memeriksa setiap pesan, dan kontribusi Anda dapat membantu memperbaiki atau menyempurnakan artikel ini.

Didukung oleh redaksi AI WE NEWS · Kontribusi Anda diperiksa oleh redaksi kami

JTJawa Tengah

Ringkasan Pagi Anda

Berita terpenting dari Jawa Tengah, setiap pagi di kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan sekali klik