Inovasi mahasiswa tangani air bercampur belerang
Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada yang bertugas di Kecamatan Ngablak merancang dan menguji sistem filter air untuk mengolah sumber air bercampur belerang dari lereng Gunung Merbabu. Program ini ditujukan untuk membantu mengatasi kelangkaan air minum yang kerap dialami warga Dusun Deles, Desa Jogonayan, Kabupaten Magelang, terutama saat musim kemarau.
Permasalahan yang dihadapi warga tidak hanya ketersediaan kuantitas air, tetapi juga kualitasnya. Meski terdapat pasokan air di lokasi yang lebih tinggi, kandungan belerang membuat air tersebut tidak dapat langsung dimanfaatkan untuk kebutuhan harian. Untuk itulah tim KKN Ngablak yang beranggotakan mahasiswa UGM mengembangkan teknologi filtrasi yang mampu menurunkan kontaminan sehingga air dapat digunakan.
Proses uji dan jaminan mutu
Menurut anggota tim KKN, Agustina Herawati, pengolahan yang dilakukan tidak sekadar membuat air tampak jernih secara visual, melainkan juga memenuhi parameter kesehatan yang relevan. "Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa air hasil penyaringan benar-benar sudah layak dikonsumsi, bukan hanya terlihat bersih secara kasat mata saja," ujar Agustina.
"Air hasil penyaringan dapat langsung disalurkan ke rumah-rumah melalui infrastruktur distribusi yang sudah ada tanpa harus membangun dari nol,"
Untuk memastikan keamanan, tim melakukan pengujian sampel di Laboratorium Kesehatan Lingkungan (Labkesmas) Salatiga. Pengujian mencakup parameter bakteri seperti E.coli dan coliform, serta uji fisika dan kimia air. Hasil evaluasi laboratorium menjadi rujukan apakah air hasil filtrasi memenuhi syarat untuk dikonsumsi.
Kolaborasi lintas pihak
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Ngablak, Dr. Ir. Endy Triyannanto, menilai proyek tersebut sebagai penerapan ilmu pengetahuan yang memberikan solusi nyata bagi masalah sosial. Menurutnya, gagasan yang dijalankan mahasiswa menunjukkan pentingnya sinergi antara akademisi, masyarakat, dan pemerintah desa.
Pemerintah desa setempat menyambut baik inisiatif ini karena memanfaatkan potensi alam yang sebelumnya tidak bisa dipakai. Salah satu keunggulan yang ditonjolkan adalah kemampuan sistem filtrasi untuk memanfaatkan jaringan distribusi air yang sudah ada, sehingga tidak perlu membangun infrastruktur baru dari nol.
Dampak dan langkah berikutnya
Jika terbukti efektif dan hasil uji laboratorium memenuhi standar, sistem filtrasi ini berpotensi menjadi cadangan pasokan air bersih bagi warga Dusun Deles. Keberhasilan pengolahan juga dapat menjadi model bagi desa lain di lereng Gunung Merbabu yang menghadapi masalah serupa pada musim kemarau.
- Lokasi penerapan: Dusun Deles, Desa Jogonayan, Kabupaten Magelang.
- Pelaksana: Tim KKN Universitas Gadjah Mada (Ngablak Akara).
- Pengujian mutu: Labkesmas Kesehatan Lingkungan Salatiga (E.coli, coliform, uji fisika dan kimia).
- Manfaat potensial: cadangan pasokan air bersih yang dapat disalurkan melalui infrastruktur yang ada.
| Aspek | Jenis Pengujian |
|---|---|
| Biologi | E.coli, coliform |
| Fisika | Uji parameter fisika air |
| Kimia | Uji parameter kimia air |
Pengembangan lebih lanjut masih memerlukan pemantauan berkala, evaluasi keberlanjutan sistem, serta potensi dukungan perangkat desa atau pemangku kepentingan lokal untuk memperluas pemanfaatan teknologi jika terbukti layak. Dengan demikian, inovasi berbasis KKN ini bukan hanya solusi sementara, melainkan potensi model intervensi yang dapat direplikasi di wilayah Magelang yang memiliki fenomena serupa.
Upaya ini juga menegaskan peran mahasiswa sebagai agen perubahan yang memadukan pengetahuan teknis dengan kebutuhan masyarakat, serta pentingnya keterlibatan laboratorium kesehatan lingkungan untuk menjamin standar keselamatan air yang digunakan sehari-hari.