Surabaya — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak anggota Gerakan Pramuka di wilayahnya menjadi bagian inti penggerak ketahanan pangan dan pencapaian swasembada pangan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Pernyataan itu disampaikan pada peringatan Hari Pramuka ke-65, Jumat, yang mengangkat tema “Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045.”
Peran Pramuka hingga akar rumput
Khofifah menilai Gerakan Pramuka memiliki jaringan kuat hingga tingkat desa yang mampu membentuk karakter generasi muda: disiplin, mandiri, tangguh, dan peduli sosial. Menurutnya, kekuatan organisasi inilah yang harus disinergikan dengan upaya menjaga ketersediaan pangan.
"Gerakan Pramuka memiliki kekuatan luar biasa karena hadir sampai ke akar rumput dan membentuk generasi muda yang disiplin, mandiri, tangguh, serta memiliki kepedulian sosial. Kekuatan ini harus kita sinergikan untuk ikut menjaga ketahanan pangan dan mendorong terwujudnya swasembada pangan nasional,"
Ia menggarisbawahi bahwa kontribusi Pramuka tidak harus dimulai dengan program besar; langkah sederhana pun dinilai efektif bila dilaksanakan serentak dan berkelanjutan di tingkat sekolah dan komunitas.
Langkah praktis yang diusulkan
Dalam arahannya, Khofifah menyebutkan sejumlah kegiatan riil yang dapat diinisiasi oleh anggota Pramuka untuk mendukung ketahanan pangan, antara lain:
- mengurangi pemborosan dengan tidak membuang makanan;
- memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam tanaman produktif;
- mengenalkan praktik pertanian kepada generasi muda melalui pendidikan dan praktik lapangan;
- mengembangkan kebun pangan di sekolah dan komunitas;
- memelihara kelestarian lingkungan dan sumber daya alam.
Khofifah menegaskan bahwa semangat kepramukaan, yang menekankan kebersamaan dan gotong royong, relevan untuk membangun kesadaran kolektif mengenai kelangsungan pasokan pangan.
Jawa Timur sebagai penyangga pangan nasional
Gubernur juga menyoroti posisi strategis Jawa Timur dalam menyokong ketahanan pangan nasional. Selain menjadi salah satu lumbung pangan, provinsi ini memiliki peran besar dalam sektor pergulaan.
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Kontribusi produksi gula terhadap nasional | 51% |
| Produksi gula kristal putih Jawa Timur (2025) | ± 1,34 juta ton |
Menurut Khofifah, produksi gula kristal putih Jawa Timur sepanjang 2025 mencapai sekitar 1,34 juta ton, rekor tertinggi dalam satu dekade terakhir. Angka ini memperkuat posisi provinsi sebagai penyangga utama industri gula nasional.
Keterlibatan lintas sektor
Gubernur menekankan bahwa mewujudkan ketahanan pangan bukan tugas satu pihak. Kolaborasi lintas sektor—pemerintah daerah, organisasi masyarakat, dunia usaha, dan generasi muda—diperlukan untuk menjawab tantangan ketersediaan, akses, dan pemanfaatan teknologi dalam pertanian.
Khofifah mendorong penerapan praktik pertanian modern berbasis teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi penggunaan lahan, dan keberlanjutan lingkungan. Dalam konteks ini, peran generasi muda yang adaptif terhadap teknologi dinilai penting.
Implikasi bagi kebijakan dan gerakan lokal
Ajakan gubernur memberi sinyal perlunya integrasi program pendidikan karakter dan ketahanan pangan di kurikulum kepramukaan dan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Bila diimplementasikan, langkah-langkah yang sederhana namun sistemik—seperti kebun sekolah dan edukasi pengelolaan pangan—dapat membantu perubahan perilaku konsumen muda serta menambah pasokan pangan lokal.
Peringatan Hari Pramuka ke-65 yang mengusung tema ketahanan pangan menunjukkan adanya upaya pemerintah provinsi memosisikan organisasi kepemudaan sebagai mitra strategis dalam program ketahanan pangan. Ke depan, koordinasi program dan alokasi sumber daya akan menjadi kunci untuk menerjemahkan ajakan tersebut menjadi kegiatan nyata di tingkat desa dan kota.
Isu ketahanan pangan tetap menjadi prioritas nasional menjelang target pembangunan jangka panjang, dan peran pelajar serta komunitas lokal akan menentukan keberlanjutan upaya tersebut di lapangan.