Antisipasi ancaman ganda: darat dan laut
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Baubau bersama Pos SAR menuntaskan pemetaan titik-titik rawan bencana di wilayah daratan dan perairan sebagai langkah antisipasi menghadapi puncak musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino. Pemetaan ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi lokasi yang rawan terjadi kebakaran lahan dan permukiman, krisis air bersih, serta kecelakaan laut akibat peningkatan tinggi gelombang pada alur pelayaran.
Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Kota Baubau, Moh Tasdik, menegaskan bahwa wilayah kepulauan seperti Baubau menghadapi ancaman ganda yang harus diantisipasi secara bersamaan. Menurutnya, publik seringkali hanya fokus pada risiko kekeringan, padahal penguatan angin timur dapat meningkatkan tinggi gelombang di alur pelayaran.
"El Nino sering dibaca publik semata sebagai ancaman kekeringan, krisis air bersih, dan kebakaran lahan di darat. Padahal di kota kepulauan seperti Baubau, penguatan angin timur pada puncak kemarau juga menaikkan tinggi gelombang di alur pelayaran kita. Dua ancaman ini berjalan beriringan dan wajib kita antisipasi secara bersamaan,"
Langkah koordinasi dan respons
Untuk mempercepat tindakan pencegahan dan penanganan darurat, BPBD Kota Baubau bersama Pos SAR menyepakati pengaktifan kanal komunikasi terintegrasi 24 jam antara Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD dan Comm Centre Pos SAR Baubau. Pengaktifan kanal ini bertujuan memperkecil jeda informasi dan mempercepat panggilan tanggap darurat bila terjadi kondisi kritis, terutama di perairan.
Kepala Pos SAR Baubau, Yayan La Ihu, menyatakan kesiapan personel untuk bergerak cepat ketika kondisi darurat di laut terjadi, sehingga koordinasi yang lancar antara instansi menjadi kunci efektivitas penyelamatan.
Imbauan kepada masyarakat dan pelaku pelayaran
BPBD juga mengeluarkan imbauan terkait kebiasaan yang berisiko memicu bencana selama musim kemarau, antara lain:
- Menghentikan pembakaran sampah atau membuka lahan dengan cara dibakar;
- Mewaspadai potensi kebakaran lahan dan permukiman serta pohon tumbang;
- Memantau ketersediaan air bersih dan melakukan penghematan penggunaan air untuk mengantisipasi krisis air;
- Nelayan dan operator kapal rakyat diminta selalu memeriksa informasi cuaca BMKG dan tidak memaksakan diri melaut apabila terdapat peringatan gelombang tinggi.
BPBD menekankan bahwa kecepatan koordinasi merupakan kekuatan utama dalam menghadapi potensi bencana. Langkah-langkah mitigasi akan lebih efektif jika didukung kepatuhan warga dan pelaku transportasi laut terhadap peringatan cuaca dan prosedur keselamatan.
Fokus pemetaan perairan: Selat Buton dan simpul pelabuhan rakyat
Pemetaan perairan difokuskan pada titik-titik rawan kecelakaan laut sepanjang alur pelayaran dan simpul pelabuhan rakyat, khususnya di kawasan Selat Buton. Identifikasi lokasi ini penting untuk menempatkan sarana kesiapsiagaan dan menentukan jalur evakuasi atau rute penyelamatan bila diperlukan.
| Aspek | Langkah |
|---|---|
| Daratan | Pemetaan titik rawan kebakaran, pohon tumbang, dan potensi krisis air |
| Perairan | Pemetaan titik rawan kecelakaan di alur pelayaran dan pelabuhan rakyat (Selat Buton) |
| Koordinasi | Aktivasi kanal komunikasi terintegrasi Pusdalops BPBD—Comm Centre Pos SAR 24 jam |
Konsekuensi bagi pengambil kebijakan dan masyarakat
Pemetaan dan pengaktifan kanal komunikasi merupakan langkah awal yang bersifat preventif. Namun efektivitasnya akan bergantung pada beberapa faktor, antara lain kesiapan sumber daya personel, peralatan penyelamatan, kepatuhan masyarakat terhadap imbauan keselamatan, serta ketersediaan informasi meteorologi yang akurat.
BPBD mengimbau pemerintah kecamatan, kelurahan, dan perangkat terkait untuk meningkatkan sosialisasi mitigasi risiko secara intensif. Tanpa dukungan sektoral dan partisipasi masyarakat, upaya mitigasi berisiko hanya bersifat reaktif saat bencana sudah terjadi.
Dengan meningkatnya ancaman selama puncak musim kemarau akibat fenomena El Nino, penguatan koordinasi dan disiplin masyarakat menjadi kunci menekan potensi korban jiwa dan kerugian materiil di Kota Baubau.