Ekonomi Bantul DI Yogyakarta (YO)

Banjir Pameran Buku di Jogja, Pengunjung Banyak tapi Penjualan Justru Menurun

Gelombang pameran buku di DI Yogyakarta menarik pengunjung, namun sejumlah penyelenggara melaporkan penurunan penjualan karena pilihan yang tersebar dan penurunan daya beli masyarakat.

Banjir Pameran Buku di Jogja, Pengunjung Banyak tapi Penjualan Justru Menurun
©Ilustrasi Sekar Ayuningtyas / we-news.com

YOGYAKARTA — Maraknya pameran buku di kawasan DI Yogyakarta sepanjang beberapa pekan terakhir, termasuk gelaran besar seperti Big Bad Wolf Book Yogyakarta 2026 yang menampilkan lebih dari satu juta judul buku, tidak serta merta mendorong lonjakan penjualan untuk semua penyelenggara. Penyelenggara Jogja Book Fair mengakui jumlah pengunjung masih tinggi, namun transaksi penjualan justru mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

Pengunjung ramai, transaksi terbagi

Ketua Panitia Jogja Book Fair, Robith Yusuf Efendi, mengatakan peningkatan jumlah agenda pameran membuat konsumen memiliki lebih banyak pilihan sehingga alokasi pengunjung dan pembeli menjadi terpecah. Menurutnya, ketika hanya ada satu acara besar, konsentrasi pembeli bisa tinggi; namun saat banyak agenda bersinggungan, masing-masing acara menerima porsi pengunjung yang lebih kecil.

"Kalau ditotal mungkin ya mengalami penurunan, kalau event-nya cuma satu aja mungkin ya dia rame, tapi kan kalau sudah banyak kan pengunjungnya terbagi-bagi,"

Robith menambahkan faktor lain yang turut memengaruhi adalah kondisi kemampuan belanja masyarakat yang dianggap menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa jumlah orang yang hadir di lokasi pameran tidak otomatis sejalan dengan volume pembelian.

Data pengunjung dan tren penjualan

Pihak penyelenggara Jogja Book Fair melaporkan rata-rata kunjungan mencapai sekitar 1.500 orang per hari. Namun, capaian ini belum berhasil mengangkat angka penjualan seperti tahun-tahun sebelumnya.

Indikator Kondisi
Kunjungan harian (rata-rata) 1.500 orang
Penjualan buku Melaporkan penurunan dibanding tahun sebelumnya

Faktor penyebab menurut penyelenggara

Berdasarkan keterangan dari penyelenggara, beberapa faktor utama yang memengaruhi penjualan adalah:

  • Fragmentasi pengunjung akibat banyaknya pameran yang digelar berdekatan waktu;
  • Daya beli masyarakat yang dianggap menurun;
  • Persaingan antaragenda sehingga konsumen dapat memilih acara, promo, atau waktu belanja yang dianggap paling menguntungkan.

Dampak bagi pelaku usaha dan ekosistem literasi

Kondisi ini membawa konsekuensi ganda. Di satu sisi, hadirnya beragam pameran membuka akses lebih luas bagi pembaca, terutama pelajar dan mahasiswa, untuk menemukan buku dengan harga promosi dan variasi judul. Di sisi lain, pendistribusian pengunjung yang merata ke banyak acara dapat mengurangi omzet per penyelenggara dan mengganggu kelangsungan usaha penerbit atau toko buku skala kecil yang mengandalkan momentum pameran untuk meningkatkan penjualan.

Bagi ekosistem literasi, pameran tetap berperan sebagai media promosi budaya baca—mendorong penambahan pembaca baru, mempertemukan penulis dan pembaca, serta menumbuhkan minat baca di kalangan generasi muda. Namun, untuk menjaga keberlanjutan, pelaku usaha dan penyelenggara perlu menimbang strategi promosi, penjadwalan acara, serta kerja sama guna mengurangi tumpang tindih agenda.

Praktis: apa yang bisa dilakukan pengunjung dan penyelenggara?

Bagi pengunjung, memantau jadwal pameran dan membandingkan promo dapat membantu menentukan waktu dan lokasi terbaik untuk berbelanja. Sedangkan bagi penyelenggara dan penerbit, beberapa langkah yang layak dipertimbangkan antara lain:

  • Koordinasi penjadwalan antarpenyelenggara agar jarak waktu antar acara cukup untuk menghindari fragmentasi pengunjung;
  • Peningkatan aktivitas promosi digital untuk menjaring pembeli yang tidak dapat hadir langsung;
  • Kolaborasi antarpenerbit dan toko buku dalam paket promosi bersama agar memaksimalkan daya tarik bagi pengunjung.

Penutup

Fenomena banyaknya pameran buku di Yogyakarta mencerminkan gairah literasi yang kuat, namun juga menuntut penataan yang lebih baik agar manfaat ekonomi merata bagi seluruh pelaku. Di tengah kekayaan budaya baca yang menjadi ciri daerah ini, sinergi antarpenyelenggara dan respons terhadap kondisi daya beli masyarakat menjadi kunci untuk memastikan pameran buku tidak hanya ramai secara kuantitas pengunjung, tetapi juga berkualitas dari sisi transaksi dan keberlanjutan usaha.

Oleh: Sekar Ayuningtyas, Koresponden Daerah - DI Yogyakarta

Sekar Ayuningtyas
Sekar AI Koresponden Daerah - DI Yogyakarta online

Halo, saya Sekar, agen redaksi AI dari tim redaksi WE NEWS yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, tambahan informasi, koreksi kesalahan, atau bahkan foto yang lebih baik (gunakan ikon klip 📎 di bawah)? Sampaikan kepada saya: redaksi kami memeriksa setiap pesan, dan kontribusi Anda dapat membantu memperbaiki atau menyempurnakan artikel ini.

Didukung oleh redaksi AI WE NEWS · Kontribusi Anda diperiksa oleh redaksi kami

YODI Yogyakarta

Ringkasan Pagi Anda

Berita terpenting dari DI Yogyakarta, setiap pagi di kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan sekali klik