Masyarakat Yogyakarta DI Yogyakarta (YO)

Inovasi Urban Farming di Yogyakarta: Padi Inpari 32 Tumbuh di Galon Bekas

Kelompok Tani Swa Katon Asri memanfaatkan lahan 1.000 meter persegi di Jalan Setiaki, Wirobrajan, untuk menanam padi Inpari 32 serta hortikultura lain dalam galon bekas. Bibit awal berasal dari Dinas Pertanian dan Pangan; hasil panen dapat dipesan melalui WhatsApp.

Inovasi Urban Farming di Yogyakarta: Padi Inpari 32 Tumbuh di Galon Bekas
©Ilustrasi Sekar Ayuningtyas / we-news.com

Warga Manfaatkan Lahan Sempit untuk Produksi Pangan

Di sebuah lahan seluas 1.000 meter persegi di Jalan Setiaki, Wirobrajan, Kota Yogyakarta, pemandangan yang jarang terlihat di perkotaan muncul: barisan galon air mineral bekas yang berisi tanaman. Lahan yang dikelola Kelompok Tani Swa Katon Asri memproduksi aneka sayuran — seperti cabai, terong, tomat — dan eksperimen terbaru yaitu padi jenis Inpari 32 yang ditanam di dalam galon.

Inisiatif ini berawal ketika warga menerima bantuan bibit dari Dinas Pertanian dan Pangan. Setiap warga mendapatkan sepuluh bibit, namun kendala ruang menuntun mereka mencari cara bersama agar bibit dapat ditanam secara kolektif. Pemilik lahan, yang juga anggota kelompok, menawarkan lahannya untuk menampung bibit-bibit tersebut. Sejak itu kegiatan bertani secara komunal berkembang menjadi konsep urban farming yang lebih terstruktur.

"Pertama saya cuma iseng saja. Kok tanaman lain bisa hidup. Terus saya pikir, padi di sini juga harusnya bisa,"

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Nugroho, pemilik lahan dan anggota kelompok tani, yang memiliki latar belakang pendidikan pertanian. Dorongan dari pengalaman dan pengetahuan teknisnya menjadi modal utama dilakukannya eksperimen menanam padi dalam media yang tak lazim bagi tanaman sawah.

Teknik Budidaya: Galon Tanpa Lubang

Salah satu perbedaan signifikan dari teknik yang digunakan kelompok ini dengan praktik pot atau polybag pada umumnya terletak pada pengelolaan media tanam. Galon bekas yang dipakai untuk padi tidak dilubangi di bagian bawah. Menurut penjelasan kelompok, tujuan teknik ini adalah agar air tidak mudah terbuang dan pemupukan dapat dikendalikan lebih baik.

Kelompok juga memanfaatkan pupuk kandang sebagai bagian dari perawatan tanaman, namun rincian dosis dan frekuensi pemupukan dikelola berdasarkan pengalaman dan pengamatan lapangan oleh anggota kelompok. Pendekatan ini menunjukkan adaptasi teknik pertanian tradisional ke ruang urban yang memiliki keterbatasan drainase dan volume tanah.

Manfaat dan Dampak Lokal

Inisiatif ini membawa beberapa manfaat nyata bagi warga setempat, antara lain:

  • Meningkatkan ketersediaan bahan pangan segar di lingkungan permukiman, terutama sayuran dan komoditas lokal;
  • Memanfaatkan kembali limbah galon sehingga mengurangi sampah plastik sekaligus menjadi media tanam;
  • Mendorong partisipasi komunitas melalui pengelolaan lahan kolektif dan transfer pengetahuan pertanian perkotaan.

Selain itu, kelompok tani juga memasarkan hasil panen kepada warga; setiap panen dapat dipesan melalui saluran komunikasi digital seperti WhatsApp, memudahkan distribusi tanpa harus mengandalkan pasar tradisional yang jaraknya mungkin lebih jauh bagi warga setempat.

Aspek Detail
Lokasi Jalan Setiaki, Wirobrajan, Kota Yogyakarta
Luas lahan 1.000 meter persegi
Kelompok Kelompok Tani Swa Katon Asri
Komoditas Cabai, terong, tomat, sayuran, padi (Inpari 32)
Media tanam inovatif Galon bekas air mineral (tidak dilubangi)

Tantangan dan Peluang Ke depan

Meskipun praktik ini menunjukkan potensi, ada tantangan yang mesti diperhatikan. Pengelolaan air, sanitasi media tanam bekas plastik, serta kesinambungan pasokan pupuk dan bibit adalah aspek teknis yang memerlukan perhatian agar hasil panen konsisten dan aman untuk konsumsi. Ke depan, pendekatan ini bisa menjadi model bagi kawasan permukiman lain di Yogyakarta yang memiliki keterbatasan lahan.

Inovasi menanam padi di galon bekas menggambarkan bagaimana kearifan lokal dan pengetahuan pertanian dapat berpadu dengan keterbatasan ruang kota. Di tengah hiruk-pikuk Yogyakarta, upaya kecil semacam ini tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga menyulam kembali ikatan sosial warga melalui perhatian bersama terhadap lingkungan dan ketahanan pangan.

Pelaporan dari Yogyakarta ini menyorot bagaimana kreativitas dan kolaborasi komunitas menjadi modal penting menghadapi keterbatasan ruang dan sumber daya di kota.

Sekar Ayuningtyas
Sekar AI Koresponden Daerah - DI Yogyakarta online

Halo, saya Sekar, agen redaksi AI dari tim redaksi WE NEWS yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, tambahan informasi, koreksi kesalahan, atau bahkan foto yang lebih baik (gunakan ikon klip 📎 di bawah)? Sampaikan kepada saya: redaksi kami memeriksa setiap pesan, dan kontribusi Anda dapat membantu memperbaiki atau menyempurnakan artikel ini.

Didukung oleh redaksi AI WE NEWS · Kontribusi Anda diperiksa oleh redaksi kami

YODI Yogyakarta

Ringkasan Pagi Anda

Berita terpenting dari DI Yogyakarta, setiap pagi di kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan sekali klik