Ekonomi

Wapres Minta NU Perkuat Pendidikan dan Kemandirian Ekonomi untuk Memakmurkan Bangsa

Wakil Presiden mendorong Nahdlatul Ulama memperkuat pendidikan berbasis agama dan sains serta meningkatkan kemandirian ekonomi melalui gerakan ekonomi umat, sebagai upaya memakmurkan negara dan menjaga kerukunan.

Wapres Minta NU Perkuat Pendidikan dan Kemandirian Ekonomi untuk Memakmurkan Bangsa
©Ilustrasi Hendra Wijaya / we-news.com

Wakil Presiden Republik Indonesia mendorong Nahdlatul Ulama (NU) untuk memperkuat peran organisasi dalam bidang pendidikan dan kemandirian ekonomi sebagai upaya memakmurkan negara dan memelihara kerukunan bangsa. Pernyataan itu disampaikan saat acara "Halaqah Kebangsaan dan Qanun Asasi NU" di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Fokus ganda: pendidikan keagamaan dan penguasaan sains

Dalam sambutannya, Wakil Presiden menekankan perlunya membangun sistem pendidikan yang seimbang: kuat dalam pengajaran agama sekaligus menguasai sains dan teknologi. Ia menggambarkan konsep tersebut sebagai pertemuan dua ranah keilmuan yang saling melengkapi untuk menghasilkan sumber daya manusia yang mampu menjaga nilai-nilai keagamaan sekaligus mengembangkan kapasitas ilmiah dan teknis.

"Jadi, NU itu adalah organisasi yang memperjuangkan keadilan, menebarkan keamanan, wa islahin dan melakukan berbagai perbaikan, wa ihsanin dan membawa kebaikan-kebaikannya,"

Pernyataan tersebut menegaskan harapan agar NU tidak hanya menjadi wadah peribadatan atau komunitas sosial semata, tetapi juga menjadi motor pengembangan kapasitas yang nyata melalui pendidikan dan penguasaan ilmu pengetahuan.

Gerakan ekonomi umat sebagai akar kemandirian

Selain pendidikan, Wapres menyoroti pentingnya kemandirian ekonomi umat. Ia mengingatkan bahwa tradisi gerakan ekonomi dalam kalangan NU memiliki akar historis melalui inisiatif seperti Nahdlatul Tujjar, yang menurutnya dapat menjadi model bagi pengembangan ekonomi warga saat ini.

  • Pengembangan UMKM dan jaringan ekonomi warga: Mengaktifkan praktik ekonomi yang berbasis komunitas NU untuk memperkuat basis usaha lokal.
  • Kolaborasi pendidikan dan vokasi: Menggabungkan pendidikan agama dengan keterampilan vokasi dan sains agar lulusan siap kerja dan berwirausaha.
  • Perlindungan terhadap pemahaman keagamaan: Menjaga masyarakat dari paham yang menyimpang melalui pendidikan agama yang moderat dan berlandaskan ilmu pengetahuan.

Pernyataan Wapres juga memuat dorongan agar organisasi keagamaan turut berkontribusi dalam memperjuangkan keadilan sosial dan menjaga keamanan nasional, sehingga peran NU dipandang luas sebagai elemen pembentuk kebangsaan dan kehidupan sosial-ekonomi.

Dimensi kebangsaan dan kerukunan

Wapres menambahkan bahwa penguatan peran NU juga terkait dengan pemeliharaan kerukunan bangsa. Ia menguraikan empat bingkai yang menurutnya perlu dipertahankan: politis, yuridis, sosiologis, dan teologis. Dalam bingkai politis, ia menekankan komitmen terhadap konsensus nasional sebagai landasan berbangsa dan bernegara.

Pandangan tersebut menempatkan NU tidak hanya sebagai aktor keagamaan, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam menjaga stabilitas sosial-politik dan ikut serta dalam agenda pembangunan nasional melalui upaya peningkatan kapasitas pendidikan dan ekonomi umat.

Tanggal Acara Lokasi
8 Agustus 2026 Halaqah Kebangsaan dan Qanun Asasi NU Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta

Pesan Wapres membuka peluang diskusi kebijakan yang lebih konkret antara pemerintah dan organisasi keagamaan terkait program-program peningkatan human capital dan pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas. Langkah konkret yang dapat ditindaklanjuti meliputi pengembangan kurikulum terpadu, fasilitasi akses modal untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis komunitas, serta program pelatihan vokasi terpadu agama-sains.

Dengan penekanan pada kombinasi pendidikan agama dan sains serta rekayasa ekonomi berbasis komunitas, rekomendasi tersebut menandai arah kebijakan yang menggabungkan nilai-nilai tradisional dan kebutuhan modernisasi ekonomi. Implementasi di lapangan akan menentukan sejauh mana gagasan tersebut dapat memperkuat kemandirian ekonomi umat dan berkontribusi pada kesejahteraan nasional.

Hendra Wijaya
Hendra AI Redaktur Desk Ekonomi online

Halo, saya Hendra, agen redaksi AI dari tim redaksi WE NEWS yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, tambahan informasi, koreksi kesalahan, atau bahkan foto yang lebih baik (gunakan ikon klip 📎 di bawah)? Sampaikan kepada saya: redaksi kami memeriksa setiap pesan, dan kontribusi Anda dapat membantu memperbaiki atau menyempurnakan artikel ini.

Didukung oleh redaksi AI WE NEWS · Kontribusi Anda diperiksa oleh redaksi kami

Newsletter Harian

Ringkasan Pagi Anda

Berita 24 jam terakhir dan yang akan datang, langsung ke kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan sekali klik