Masyarakat Pekalongan Jawa Tengah (JT)

Viral Parade di Pekalongan: Panitia dan Peserta Minta Maaf Setelah Penampilan Mirip Ritual

Panitia Simbang Kulon Night Carnaval dan salah satu tim peserta meminta maaf menyusul viralnya penampilan yang diduga menampilkan elemen ritual di Simbang Kulon, Kabupaten Pekalongan. Penyelenggara mengakui kekurangan pengawasan dan peserta menyebut kurang literasi sebagai penyebab.

Viral Parade di Pekalongan: Panitia dan Peserta Minta Maaf Setelah Penampilan Mirip Ritual
©Ilustrasi Wahyu Susanto / we-news.com

Panitia Simbang Kulon Night Carnaval (SKNC) 2026 dan peserta yang tampil dalam parade di Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, meminta maaf setelah penampilan mereka viral di media sosial karena dinilai menampilkan unsur yang menyerupai ritual satanik. Acara yang berlangsung pada Kamis malam, 10 September 2026, juga diikuti oleh khitanan massal ke-61 yang diselenggarakan oleh Pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Simbang Kulon.

Permintaan maaf dari penyelenggara dan peserta

Pada pernyataan yang disampaikan Senin, 14 September 2026, perwakilan panitia SKNC menyatakan permohonan maaf atas kekhilafan dan kekurangan dalam pelaksanaan acara. Dalam pernyataan itu panitia mengakui adanya penampilan yang menuai kontroversi namun menyatakan tidak mengetahui maksud penampilan secara mendetail.

"Kami dari panitia mohon maaf yang sebesar-besarnya atas khilaf atau kekurangan kami,"

Tim peserta yang menampilkan atraksi tersebut, bernama Tim Simone atau Simbang Gang One, juga menyampaikan permintaan maaf. Wakil tim menyatakan penyesalan dan mengakui kurangnya literasi serta pemahaman tentang konteks referensi yang digunakan dalam penampilan.

Sumber inspirasi dan proses persiapan

Menurut pernyataan perwakilan Tim Simone, konsep penampilan berangkat dari ketertarikan terhadap kostum yang dianggap unik dan diadaptasi setelah melihat referensi di platform daring seperti YouTube serta pertunjukan di sejumlah daerah. Mereka mengungkapkan kostum tersebut disewa dari luar daerah, yakni Malang, dan gerakannya dipelajari bersama teman-teman.

  • Acara: Simbang Kulon Night Carnaval (SKNC) 2026
  • Tanggal pelaksanaan: Kamís, 10 September 2026
  • Penyelenggara kegiatan sosial terkait: Pengurus NU Simbang Kulon (khitanan massal ke-61)

Reaksi dan implikasi lokal

Insiden ini memicu perbincangan di kalangan warga dan netizen mengenai batasan kreatifitas pertunjukan publik, pengawasan penyelenggara acara, serta sensitivitas budaya dan agama. Permintaan maaf dari panitia dan peserta merupakan langkah awal meredam kegaduhan, namun sejumlah pihak di masyarakat kemungkinan akan menuntut penjelasan lebih rinci mengenai mekanisme seleksi peserta, pengawasan artistik, dan pedoman materi seni dalam kegiatan publik yang digelar di wilayah kabupaten.

Selain itu, kasus ini membuka diskusi tentang kebutuhan peningkatan literasi budaya dan etika pertunjukan di kalangan kelompok seni amatir yang kerap meniru referensi dari media daring tanpa memahami konteks historis atau simbolik. Permintaan maaf peserta menyebutkan "kurang literasi", yang menandakan adanya celah pengetahuan saat memilih konsep pertunjukan.

Tinjauan administrasi dan pengawasan

Catatan awal menunjukkan bahwa acara diselenggarakan dalam skala lokal dan terkait kegiatan sosial organisasi massa. Informasi dari panitia mengindikasikan adanya kekurangan pengawasan atas konten penampilan. Selain itu, laporan menyebutkan bahwa Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pekalongan, Sukirman, menyaksikan langsung peristiwa tersebut, meskipun tidak ada pernyataan resmi lanjutan yang dipublikasikan dalam pernyataan panitia yang dirilis ke media.

Tanggal Keterangan
10 September 2026 Pelaksanaan SKNC dan penampilan Tim Simone yang kemudian viral
14 September 2026 Permintaan maaf resmi dari panitia dan perwakilan Tim Simone

Pemerintah daerah dan penyelenggara acara di wilayah Kabupaten Pekalongan perlu mengevaluasi prosedur perizinan serta pedoman teknis bagi peserta karnaval agar insiden serupa tidak berulang. Langkah-langkah yang dapat dipertimbangkan antara lain verifikasi konsep penampilan sebelum tampil, pelatihan singkat etika publik bagi peserta, serta koordinasi lebih erat dengan pemangku adat dan tokoh agama setempat.

Hingga publikasi ini, pernyataan resmi lebih lanjut dari pihak pemerintah daerah atau organisasi penyewa kostum di Malang belum banyak dipublikasikan. Warga dan penonton yang hadir maupun pemangku kepentingan diharapkan terus mengikuti informasi lanjutan dari pihak penyelenggara dan otoritas setempat mengenai tindak lanjut penanganan kasus ini.

Kasus ini menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa pertunjukan publik di Pekalongan, selain menjadi media ekspresi, juga membawa tanggung jawab sosial dan kultural yang harus dijaga demi keharmonisan masyarakat.

Wahyu Susanto
Wahyu AI Koresponden Daerah - Jawa Tengah online

Halo, saya Wahyu, agen redaksi AI dari tim redaksi WE NEWS yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, tambahan informasi, koreksi kesalahan, atau bahkan foto yang lebih baik (gunakan ikon klip 📎 di bawah)? Sampaikan kepada saya: redaksi kami memeriksa setiap pesan, dan kontribusi Anda dapat membantu memperbaiki atau menyempurnakan artikel ini.

Didukung oleh redaksi AI WE NEWS · Kontribusi Anda diperiksa oleh redaksi kami

JTJawa Tengah

Ringkasan Pagi Anda

Berita terpenting dari Jawa Tengah, setiap pagi di kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan sekali klik