Inkubasi kewirausahaan inklusif di ruang publik Tarakan
Tarakan—Program pemberdayaan bertajuk Green Eco Craft resmi digelar di Gedung Perpustakaan Daerah Kota Tarakan pada Minggu, 9 Agustus 2026. Kegiatan ini difokuskan pada penguatan kemandirian ekonomi pemuda penyandang disabilitas di Kalimantan Utara melalui pembelajaran kerajinan ramah lingkungan berbasis ecoprint dan pendampingan kewirausahaan.
Kolaborasi akademik dan komunitas
Kegiatan merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang didanai oleh BIMA Kemdikdaisaintek dan diselenggarakan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Borneo Tarakan (UBT) bekerja sama dengan komunitas AYS Indonesia (Association of Youth for Sustainability) Cabang Tarakan. Tim inti program dipimpin oleh Dr. Tinik Sugiati, M.M. dengan anggota tim yang tercatat dalam dokumen pelaksanaan yaitu Prof. Dr. Ing., Ir. Daud Nawir, ST., M.T. dan Dr. Meina Wulansari Yusniar, S.E., M.Si.
Program terstruktur untuk hasil berkelanjutan
Penyelenggara menyusun program dalam tiga tahap utama yang dilaksanakan berurutan selama kegiatan. Tujuan pendekatan bertahap ini adalah agar peserta tidak hanya mendapatkan teori tetapi langsung melakukan praktik serta memiliki alat untuk melanjutkan produksi secara mandiri.
- Hari pertama: Pendampingan pembuatan kerajinan berbahan dasar ecoprint oleh praktisi.
- Hari kedua: Pendampingan penyusunan Business Plan Ecoprint.
- Hari ketiga: Pendampingan pemasaran digital dan kewirausahaan di era digital.
| Hari | Kegiatan |
|---|---|
| 1 | Pembuatan ecoprint (praktik) |
| 2 | Penyusunan business plan |
| 3 | Pemasaran digital dan kewirausahaan |
Fokus pada keberlanjutan dan akses alat produksi
Pihak penyelenggara menekankan bahwa kegiatan bukan sekadar pelatihan singkat. Seluruh alat praktik akan diserahkan kepada peserta sehingga proses produksi dapat dilanjutkan di luar momen kegiatan. Langkah ini dimaksudkan untuk membentuk ekosistem wirausaha yang berkelanjutan bagi peserta yang mayoritas berasal dari kelompok disabilitas.
"Kegiatan ini dirancang tidak hanya kegiatan praktik saja, tetapi praktik yang bisa dilanjutkan di kegiatan-kegiatan berikutnya sehingga kalian semua nanti bisa produktif. Makanya nanti seluruh alat yang digunakan untuk praktik ini akan kami serahkan agar teman-teman bisa praktik sendiri dan menjual peralatannya sendiri. Judulnya di sini adalah inkubasi, jadi tidak boleh berhenti sampai di sini saja,"
Demikian pernyataan Dr. Tinik Sugiati, S.Pd., M.M. saat membuka acara. Pernyataan itu menegaskan arah program pada pembentukan kapasitas usaha yang berkelanjutan, sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) terkait pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi serta pengurangan kesenjangan.
Praktisi dan transfer keterampilan
Pelatihan menghadirkan praktisi kerajinan ramah lingkungan bernama Chelsea yang memberikan panduan teknis pembuatan ecoprint dan pengembangan produk. Materi mencakup teknik pewarnaan alami, pengolahan bahan baku, hingga penyelesaian produk yang layak dijual.
Pihak penyelenggara juga menekankan adanya pendampingan lanjutan hingga fase pemasaran, termasuk pelatihan pemasaran digital yang bertujuan membuka akses pasar lebih luas bagi produk hasil peserta. Langkah ini dinilai krusial mengingat keterbatasan akses dan jaringan sering menjadi hambatan utama bagi pelaku usaha disabilitas.
Dampak lokal dan catatan implementasi
Acara yang dihadiri ratusan pemuda disabilitas dari wilayah Kalimantan Utara tersebut membuka ruang bagi penguatan kapasitas ekonomi inklusif di Tarakan. Penyerahan alat produksi dan pendampingan berkelanjutan menjadi aspek penting agar hasil pelatihan dapat bertransformasi menjadi pendapatan nyata.
Ke depan, keberlanjutan program akan bergantung pada ketersediaan pendampingan lanjutan, akses modal mikro, serta jaringan pemasaran untuk produk ecoprint. Kolaborasi antara perguruan tinggi, komunitas, dan pemangku kepentingan lokal dinilai menjadi kunci untuk menerjemahkan pelatihan menjadi peluang usaha yang nyata bagi penyandang disabilitas di Tarakan dan sekitarnya.