Pemutaran di Halaman RRI sebagai Ruang Belajar Baru
RRI Lhokseumawe bekerja sama dengan Aceh Documentary menggelar program pemutaran film dokumenter berjudul Layar Indonesia yang ditujukan khusus untuk pelajar sekolah se-Kota Lhokseumawe. Kegiatan berlangsung pada 23 Agustus 2026 di halaman kantor RRI dan menayangkan tiga karya dokumenter anak muda Aceh, masing-masing berdurasi sekitar 20 menit.
Tujuan dan dukungan program
Menurut penyelenggara, program ini bukan semata hiburan, tetapi dimaksudkan sebagai alternatif sarana pembelajaran yang memperkaya pengalaman siswa di luar kelas. Kegiatan mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan diinisiasi oleh tim Aceh Documentary.
"Belajar tidak hanya melalui buku. Film juga bisa menjadi media untuk melihat, memahami, dan mempelajari berbagai persoalan kehidupan, budaya serta lingkungan sekitar,"
Kutipan tersebut disampaikan oleh Program Manager Aceh Documentary, T. M. Hafidz Ramadhan, yang hadir bersama enam anggota tim lain untuk memfasilitasi pemutaran dan diskusi singkat setelah penayangan.
Isi film dan target audiens
Tiga film yang diputar mengangkat tema-tema lokal dan perspektif anak muda Aceh. Judul-judul film yang ditayangkan adalah Bahasa Indatu, Senja Geunaseh Sayang, dan Selubung Kain Putih. Masing-masing berdurasi sekitar 20 menit sehingga satu rangkaian acara dapat menayangkan ketiganya dalam satu sesi pemutaran.
| Judul Film | Durasi (perkiraan) |
|---|---|
| Bahasa Indatu | ~20 menit |
| Senja Geunaseh Sayang | ~20 menit |
| Selubung Kain Putih | ~20 menit |
Metode pembelajaran dan harapan penyelenggara
Penyelenggara menekankan bahwa film dokumenter dapat menjadi sarana untuk mengenalkan metode observasi, pemikiran kritis, dan refleksi sosial kepada pelajar. Selain menonton, siswa diharapkan aktif menangkap pesan, nilai, dan perspektif yang disampaikan dalam setiap karya.
- Program menargetkan pelajar sekolah menengah di Kota Lhokseumawe.
- Pemutaran diselenggarakan di ruang terbuka (halaman kantor RRI) untuk menjangkau lebih banyak penonton.
- Kegiatan didampingi tim Aceh Documentary untuk memberikan konteks dan sesi tanya jawab singkat.
Dukungan dari lembaga pemerintah diharapkan memperkuat jejaring antara dunia pendidikan, kebudayaan, media, dan industri kreatif lokal. Dengan demikian, generasi muda memperoleh akses lebih luas ke karya-karya lokal yang relevan dengan kehidupan mereka.
Implikasi bagi pendidikan dan kebudayaan lokal
Di tengah tantangan kurikulum yang padat, inisiatif seperti ini membuka ruang untuk pendekatan pendidikan non-formal yang menghormati nilai lokal Aceh. Film dokumenter berpotensi menanamkan kebanggaan daerah, menguatkan pemahaman bahasa dan tradisi setempat, serta mendorong kepedulian terhadap isu lingkungan dan sosial.
Untuk sekolah dan pengajar di Lhokseumawe, program ini memberi contoh kegiatan yang mudah direplikasi: pemutaran film pendek dilengkapi diskusi reflektif dapat menjadi bagian dari kegiatan ekstrakurikuler atau program literasi media. Bagi pembuat film lokal, fasilitas seperti RRI menyediakan platform untuk menjangkau audiens muda dan memperkaya ekosistem budaya di kota.
Dengan memadukan media, pendidikan, dan kebudayaan, penyelenggara berharap peserta tidak sekadar menonton, melainkan juga termotivasi mengapresiasi dan bahkan menghasilkan karya yang merepresentasikan identitas Aceh secara lebih luas.