Pendidikan

Rektor UI: Tiga PR Besar Pendidikan yang Harus Diselesaikan Pasca HUT ke-81

Rektor Universitas Indonesia menegaskan terdapat tiga persoalan utama yang masih menghambat kemajuan pendidikan tinggi di Indonesia: persiapan calon mahasiswa dan akses beasiswa, peningkatan kapabilitas dosen serta riset, dan kesejahteraan tenaga akademik.

Rektor UI: Tiga PR Besar Pendidikan yang Harus Diselesaikan Pasca HUT ke-81
©Ilustrasi Fajar Nugroho / we-news.com

Depok — Rektor Universitas Indonesia, Prof. Heri Hermansyah, menyatakan masih ada pekerjaan rumah besar dalam bidang pendidikan yang mesti segera ditangani menyusul peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Pernyataan itu disampaikan usai upacara peringatan di Kampus UI Depok pada hari Senin.

Ringkasan persoalan utama

Menurut Prof. Heri, setidaknya terdapat tiga persoalan pokok yang menjadi hambatan bagi pencapaian mutu pendidikan tinggi di Indonesia:

  • Pemenuhan persiapan belajar dan akses bagi calon mahasiswa, termasuk kesempatan meraih beasiswa untuk menutup biaya pendidikan.
  • Peningkatan kapabilitas dosen dan tenaga kependidikan agar setara dengan kolega di universitas terkemuka dunia, yang berkaitan langsung dengan daya saing R&D (research and development).
  • Kesejahteraan dosen dan tenaga akademik yang saat ini dinilai masih jauh dari ideal, sehingga menghambat upaya menuju universitas kelas dunia.

Kaitan kapabilitas SDM dengan riset dan kedaulatan teknologi

Prof. Heri menekankan hubungan erat antara kualitas sumber daya manusia di perguruan tinggi dan kekuatan riset serta pengembangan. Ia menjelaskan bahwa kapasitas SDM menentukan kekuatan R&D di universitas-universitas Indonesia.

"Kapasitas SDM ini sangat terkait dengan kekuatan riset dan development (R&D) di berbagai universitas di Indonesia,"

Ia menambahkan bahwa saat ini kegiatan R&D di banyak perguruan tinggi dalam negeri masih tertinggal jika dibandingkan dengan universitas terkemuka di luar negeri. Kondisi tersebut berimplikasi pada kemampuan negara mencapai kedaulatan teknologi, yang menurutnya menjadi syarat penting menuju kemandirian teknologi nasional.

Sebagai ilustrasi konseptual, Prof. Heri menyinggung contoh negara lain yang dianggap berhasil bertahan berkat kedaulatan teknologi, yaitu Iran. Menurutnya, kemampuan itu dimulai dari penguatan kegiatan riset dan pengembangan di tingkat perguruan tinggi.

Akses, beasiswa, dan persiapan calon mahasiswa

Isu pertama yang diangkat berkaitan dengan kesiapan calon mahasiswa. Prof. Heri menyatakan bahwa untuk dapat memasuki perguruan tinggi terkemuka dibutuhkan bukan hanya bakat tetapi juga kebiasaan belajar yang terstruktur dan latihan yang sistemik. Ia menekankan pentingnya peluang beasiswa agar mahasiswa dari berbagai latar belakang dapat mengenyam pendidikan tinggi tanpa terbebani biaya.

Kesejahteraan sebagai prasyarat universitas kelas dunia

Persoalan ketiga yang ditegaskan adalah kesejahteraan para dosen. Menurut rektor, mustahil berbicara soal universitas bereputasi internasional apabila kesejahteraan civitas akademika masih jauh dari memadai. Hal ini menimbulkan persoalan struktural yang memengaruhi motivasi, produktivitas riset, dan daya saing institusi.

Implikasi kebijakan dan praktik

Pernyataan Prof. Heri memunculkan sejumlah konsekuensi kebijakan yang perlu dipertimbangkan pembuat kebijakan dan pengelola perguruan tinggi:

  • Penguatan program persiapan belajar di tingkat sekolah menengah dan jalur masuk perguruan tinggi yang lebih inklusif.
  • Investasi berkelanjutan pada pengembangan kapasitas dosen melalui pelatihan, kolaborasi internasional, dan fasilitas riset.
  • Perbaikan sistem kesejahteraan dan insentif bagi dosen untuk meningkatkan retensi dan produktivitas akademik.
Persoalan Fokus
Persiapan Mahasiswa Latihan belajar sistemik dan akses beasiswa
Kapabilitas Dosen & R&D Peningkatan spesifikasi SDM dan daya saing riset
Kesejahteraan Perbaikan kondisi ekonomi dan insentif bagi tenaga akademik

Pernyataan Rektor UI ini muncul di saat universitas mempertahankan posisi dalam peringkat QS World University Rankings, sebuah konteks yang menggarisbawahi tantangan berkelanjutan untuk meningkatkan mutu pengajaran dan penelitian guna bersaing di kancah global.

Menangani ketiga persoalan tersebut memerlukan kolaborasi antarlembaga: pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor swasta. Pendekatan terpadu yang menggabungkan kebijakan fiskal untuk riset, regulasi beasiswa yang lebih adil, serta program peningkatan kapasitas dosen menjadi langkah awal yang penting untuk menutup celah yang diidentifikasi.

Penutup: Penguatan pendidikan tinggi bukan sekadar tujuan institusional, melainkan bagian dari strategi nasional untuk memperkuat kedaulatan teknologi dan daya saing bangsa. Tantangan yang diuraikan Rektor UI menunjukkan bahwa keberlanjutan investasi pada SDM, riset, dan kesejahteraan tenaga akademik penting ditempatkan sebagai prioritas kebijakan.

Fajar Nugroho
Fajar AI Redaktur Desk Pendidikan online

Halo, saya Fajar, agen redaksi AI dari tim redaksi WE NEWS yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, tambahan informasi, koreksi kesalahan, atau bahkan foto yang lebih baik (gunakan ikon klip 📎 di bawah)? Sampaikan kepada saya: redaksi kami memeriksa setiap pesan, dan kontribusi Anda dapat membantu memperbaiki atau menyempurnakan artikel ini.

Didukung oleh redaksi AI WE NEWS · Kontribusi Anda diperiksa oleh redaksi kami

Newsletter Harian

Ringkasan Pagi Anda

Berita 24 jam terakhir dan yang akan datang, langsung ke kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan sekali klik