Program pangan terfokus pada lokus stunting
Pemerintah Kabupaten Nabire, Papua Tengah, mengalokasikan penyerapan sebanyak 15 ton beras biofortifit pada 2026 sebagai bagian dari intervensi pangan untuk menanggulangi stunting. Pernyataan itu disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Nabire, Yasor Victor Sawo, di Nabire, Kamis.
Sampai saat ini, menurut Yasor, pemerintah daerah telah berhasil menyerap empat ton beras biofortifit yang berasal dari produksi petani lokal. Produksi dari demplot percontohan tahun ini dilaporkan belum memenuhi target sehingga pemerintah menyiapkan pengadaan tambahan dari luar daerah.
Produksi lokal terpengaruh kemarau
Dinas melaporkan produksi padi biofortifit pada lahan percontohan seluas lima hektare menghasilkan sekitar 12 ton. Kondisi ini merupakan sekitar 40 persen dari estimasi normal. Menurut penjelasan teknis, pada kondisi normal satu hektare dapat menghasilkan sekitar enam ton sehingga lima hektare semestinya menghasilkan sekitar 30 ton, tetapi musim kemarau dan keterbatasan air menurunkan hasil panen.
"Kalau kondisinya normal, prediksi kita satu hektare itu enam ton. Berarti lima hektare seharusnya dapat 30 ton, tetapi kemarin cuma dapat 40 persen atau sekitar 12 ton,"
Penyaluran dan sasaran penerima manfaat
Beras yang diserap oleh pemerintah daerah akan dikemas khusus dan diberi logo Pemerintah Kabupaten Nabire sebelum disalurkan kepada penerima manfaat. Penyaluran akan difokuskan pada 122 anak yang masuk dalam lokus stunting di 15 distrik berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire.
Skema distribusi dilakukan secara bertahap. Setiap penerima manfaat akan memperoleh 10 kilogram per bulan, yang disalurkan dalam beberapa tahap. Selain anak yang mengalami stunting, program juga diarahkan mendukung intervensi gizi melalui posyandu, termasuk bagi ibu hamil dan ibu menyusui.
Varietas dan manfaat gizi
Beras yang dikembangkan di Nabire adalah beras merah varietas Inpari Arumba. Menurut keterangan dinas, varietas ini memiliki kandungan gizi dan antioksidan serta kadar gula yang rendah sehingga dinilai sesuai untuk mendukung pemenuhan pangan bergizi dalam intervensi gizi masyarakat.
Pengembangan padi biofortifit di Nabire sebelumnya ditandai dengan panen perdana dari demplot seluas lima hektare di Kampung Bumi Raya, Distrik Nabire Barat pada 29 Juli 2026. Namun, hasil panen yang lebih rendah dari target menuntut langkah lanjutan, termasuk pelengkap pasokan dari luar daerah.
Data ringkas penyerapan dan produksi
| Item | Jumlah |
|---|---|
| Alokasi penyerapan 2026 | 15 ton |
| Sudah terserap | 4 ton |
| Produksi demplot 5 ha | 12 ton |
| Jumlah penerima (lokus stunting) | 122 anak di 15 distrik |
| Alokasi per penerima | 10 kg/bulan |
Implikasi dan langkah selanjutnya
Penyerapan beras biofortifit ini merupakan upaya pemerintah daerah memadukan ketahanan pangan dengan program kesehatan publik untuk menurunkan angka stunting. Namun, keterbatasan pasokan lokal akibat faktor cuaca menempatkan pemerintah pada pilihan untuk mengimpor sebagian stok dari luar daerah agar target distribusi kepada penerima manfaat tetap terpenuhi.
- Program memprioritaskan anak dalam lokus stunting dan mendukung layanan posyandu.
- Produksi demplot perlu diikuti dengan penguatan irigasi dan manajemen air untuk mengurangi dampak kemarau.
- Pemerintah menyiapkan pengemasan resmi dengan logo kabupaten sebelum penyaluran.
Pemantauan lanjutan terhadap efektivitas beras biofortifit dalam perbaikan status gizi penerima serta penguatan produksi lokal akan menjadi langkah kunci berikutnya bagi Pemkab Nabire dan dinas terkait.