Samarinda — Dinas Kesehatan Kota Samarinda meningkatkan kewaspadaan menyusul kenaikan 22,8 persen kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sepanjang Agustus 2026. Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismid Kusasih, mengatakan meskipun terjadi lonjakan, layanan medis di lapangan masih terkendali.
Data surveilans menunjukkan tren naik
Berdasarkan laporan surveilans Dinas Kesehatan, tren kasus harian ISPA meningkat konsisten selama tiga bulan terakhir. Rata-rata kunjungan pasien ISPA tercatat sebagai berikut:
| Periode | Rata-rata kasus ISPA per hari |
|---|---|
| Juni 2026 | 162,5 |
| Juli 2026 | 167,9 |
| 1–22 Agustus 2026 | 206,2 |
Secara akumulatif, hingga akhir Agustus Dinkes Samarinda memasukkan 799 kasus ISPA ke dalam daftar 10 keluhan kesehatan utama masyarakat. Angka tersebut menjadi dasar peningkatan kewaspadaan di fasilitas kesehatan primer maupun rujukan.
Kaitan dengan kualitas udara dan kabut asap
Dinkes mencatat parameter kualitas udara di Samarinda cenderung fluktuatif. Pantauan berkala menunjukkan Indeks Kualitas Udara (AQI) pagi hari sering berada di bawah angka 50, masuk kategori baik. Namun kondisi memburuk pada beberapa waktu karena cuaca kering dan kiriman asap karhutla dari wilayah lain.
Di stasiun pengukuran Taman Segiri, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) sempat menembus angka 102 yang masuk kategori "Tidak Sehat". Konsentrasi partikel PM2.5 tercatat menyentuh 48,2 µg/m³, kondisi yang memicu imbauan resmi agar warga memperketat penggunaan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
"Kejadian ISPA ada kenaikan sekitar 22,8 persen pada bulan Agustus dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Kenaikan ini terjadi, tapi kondisinya masih relatif terkendali,"
Ismid menegaskan bahwa penilaian teknis mengenai ketebalan dan konsentrasi kabut asap menjadi ranah Dinas Lingkungan Hidup (DLH), sementara Dinkes memfokuskan pemantauan pada dampak kesehatan warga dan kesiapan layanan kesehatan.
Tindakan dan imbauan
Dinkes Kota Samarinda memperketat pemantauan kasusu dan menyiagakan respons medis di tingkat puskesmas dan rumah sakit rujukan. Langkah-langkah pengendalian dan mitigasi yang disarankan meliputi:
- Penggunaan masker bagi kelompok rentan dan warga yang wajib beraktivitas di luar ruangan ketika ISPU memburuk;
- Peningkatan edukasi tentang gejala ISPA dan kapan pasien harus mencari pelayanan kesehatan;
- Koordinasi lintas sektor antara Dinkes dan Dinas Lingkungan Hidup untuk pemantauan kualitas udara dan penyampaian informasi publik.
Warga diimbau memantau perkembangan kualitas udara melalui kanal resmi pemerintah daerah dan menyesuaikan aktivitas luar ruang bila indeks polusi menunjukkan peningkatan. Pusat kesehatan primer diminta siap melakukan triase dan rujukan untuk kasus yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Lonjakan ISPA ini menjadi pengingat bahwa dampak karhutla tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menekan beban layanan kesehatan daerah. Pemantauan berkelanjutan dan tindakan terpadu lintas sektor diperlukan untuk meredam dampak kesehatan serta meningkatkan ketahanan sistem pelayanan kesehatan Samarinda terhadap paparan polutan udara.