Bukittinggi — Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah meresmikan Masjid Ahmad Karim di lingkungan SMK Negeri 1 Bukittinggi pada Jumat, 14 Agustus 2026. Pembangunan fasilitas ibadah tersebut terwujud melalui kolaborasi berbagai pihak, yakni alumni, pihak sekolah, komite, donatur, dan masyarakat sekitar.
Masjid sebagai ruang pendidikan karakter
Menurut Gubernur, kehadiran masjid bukan sekadar tempat salat berjamaah, melainkan juga investasi jangka panjang bagi pembentukan karakter generasi muda. Ia menekankan bahwa sekolah yang sehat harus melekatkan penguatan nilai-nilai moral, integritas, serta kepedulian sosial bersama kemampuan akademik.
"Atas nama Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, saya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah bergotong royong menghadirkan masjid ini,"
Selain menjadi tempat ibadah, Masjid Ahmad Karim diharapkan dipergunakan untuk kegiatan pembinaan akhlak, dialog, kajian ilmu, dan aktivitas sosial yang mendukung pembelajaran di sekolah. Pernyataan gubernur menegaskan pentingnya keseimbangan antara penguasaan teknologi dan pembentukan karakter, terutama di tengah pesatnya perubahan zaman dan tantangan baru seperti kecerdasan buatan (AI).
Gotong royong dan peran masyarakat
Pembangunan masjid ini menjadi bukti nyata semangat gotong royong di Bukittinggi. Keterlibatan alumni dan masyarakat menandakan bahwa institusi pendidikan di kota ini masih mendapat dukungan luas dari jaringan lokal. Gubernur mengapresiasi kontribusi semua pihak yang mendukung proses pembangunan hingga peresmian.
- Alumni: menginisiasi dan mendukung pendanaan serta pembinaan.
- Pihak sekolah: menyediakan lokasi dan mengatur fungsi masjid dalam kegiatan belajar-mengajar.
- Komite dan donatur: mendukung pembiayaan dan logistik pembangunan.
- Masyarakat: berpartisipasi dalam gotong royong dan pemanfaatan fasilitas.
Ketangguhan menghadapi tantangan masa depan
Dalam sambutannya, Gubernur Mahyeldi mengaitkan pembangunan karakter dengan pengalaman Sumatera Barat dalam menghadapi bencana hidrometeorologi. Ia menilai kesiapsiagaan, disiplin, kepedulian, dan solidaritas harus ditanamkan sejak dini agar generasi mendatang lebih tangguh dalam menghadapi berbagai cobaan.
"Alam takambang jadi guru. Setiap perkembangan zaman harus menjadi pelajaran, setiap perubahan harus menjadi peluang," ujar gubernur, mengajak dunia pendidikan memetik hikmah dari pengalaman kebencanaan sebagai bagian dari proses pembentukan karakter siswa.
| Aspek | Peran Masjid Ahmad Karim |
|---|---|
| Ibadah | Tempat salat berjamaah bagi siswa dan guru |
| Pendidikan karakter | Pembinaan akhlak, kajian keagamaan, dan dialog |
| Sosial | Ruang kegiatan sosial dan penguatan kepedulian komunitas |
Bagi warga Bukittinggi, keberadaan masjid di lingkungan sekolah menawarkan manfaat ganda: memperkaya fasilitas pendidikan sekaligus mempererat hubungan antarwarga. Meski demikian, pemanfaatan masjid sebagai ruang edukatif membutuhkan pengelolaan yang sistematis agar kegiatan keagamaan dan pembelajaran berjalan terukur dan berkelanjutan.
Pihak sekolah dan komite diharapkan menyusun program penggunaan masjid yang melibatkan guru, pembina rohani, dan komunitas alumni. Dengan demikian, masjid dapat menjadi laboratorium nilai yang menyiapkan generasi muda Bukittinggi tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga berintegritas, peduli, dan siap menghadapi dinamika zaman.
Peresmian Masjid Ahmad Karim memberi pelajaran sederhana namun dalam: ketika masyarakat bersatu, lahirlah karya yang bermanfaat bagi banyak pihak. Di Bukittinggi, tradisi gotong royong seperti itu terus menjadi nadi, menautkan masa lalu, masa kini, dan harapan masa depan dalam satu ikatan yang hangat seperti songket yang ditenun rapi di negeri Minang.