Masyarakat Maumere Nusa Tenggara Timur (NT)

Gerak Jalan HUT RI di Maumere Dongkrak Pendapatan Pedagang Asongan

Keramaian gerak jalan menyambut HUT ke-81 RI di Maumere dimanfaatkan puluhan pedagang asongan untuk menambah penghasilan, dengan omset harian mencapai sekitar Rp200.000 pada hari paling ramai.

Gerak Jalan HUT RI di Maumere Dongkrak Pendapatan Pedagang Asongan
©Ilustrasi Fransiska Dhena / we-news.com

Keramaian kegiatan kemerdekaan buka peluang ekonomi bagi pedagang kecil

MAUMERE — Pelaksanaan gerak jalan menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Maumere membuka peluang ekonomi bagi pedagang asongan setempat. Sejak Senin, 10 Agustus 2026, puluhan pedagang memadati titik-titik strategis seperti halaman Sikka Convention Center (SCC) dan ruas jalan depan Kantor Pos dan Giro untuk menjajakan makanan serta minuman ringan kepada peserta dan penonton.

Kerumunan massa sepanjang rute kegiatan membuat perputaran dagangan menjadi cepat, sehingga beberapa pedagang melaporkan peningkatan penghasilan dibanding hari biasa. Lokasi yang ramai dan garis finis yang padat menjadi pilihan utama para penjual untuk memperoleh keuntungan maksimal selama acara berlangsung.

Perolehan harian pedagang dan tantangan modal

Beberapa pedagang yang ditemui mengungkapkan pendapatan harian saat acara ramai dapat mencapai sekitar Rp200.000. Modal awal yang digunakan untuk berjualan bervariasi; salah seorang pedagang menyebut modal awal mencapai Rp150.000.

Nama (Panggilan) Lokasi Modal Awal Perolehan Saat Ramai
Tini Parera (Mama Tini) Kelurahan Beru, sekitar garis finis Rp150.000 Hingga sekitar Rp200.000
Avila (Mama Avila) Jalan Brai, Kelurahan Waioti Tidak disebutkan Antara Rp100.000–Rp200.000 tergantung keramaian

Salah seorang pedagang, Tini Parera dari Kelurahan Beru, mengaku berangkat lebih pagi untuk mendapatkan lokasi strategis di sekitar garis finis. Ia menjual minuman dingin, air mineral, kopi, permen, camilan, dan gorengan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membayar kewajiban koperasi.

"Lumayan sehari laku sampai sekitar Rp200 ribu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, belum bayar angsuran koperasi. Modal awal Rp150 ribu,"

Pedagang lain, Mama Avila dari Jalan Brai, memperkuat gambaran tersebut. Ia telah rutin berjualan saat ada kegiatan gerak jalan atau karnaval selama lima tahun terakhir. Menurut Avila, saat ramai ia bisa meraup hingga Rp200.000, sedangkan saat sepi pendapatannya turun menjadi sekitar Rp100.000.

"Kalau lagi ramai laku sampai Rp200 ribu, kalau sepi sekitar Rp100 ribu. Hasil ini untuk kebutuhan sehari-hari di rumah,"

Harapan pedagang dan kebutuhan pengaturan lokasi

Para pedagang berharap agar penyelenggaraan kegiatan serupa tetap digelar setiap tahun karena berdampak langsung bagi perekonomian rumah tangga mereka. Selain itu, mereka mengusulkan agar panitia menyediakan fasilitas atau lokasi khusus bagi pedagang kecil secara gratis sehingga aktivitas berjualan lebih tertib dan tidak menambah beban biaya.

  • Pedagang meminta tempat berjualan khusus yang teratur agar tidak mengganggu jalannya kegiatan.
  • Mereka berharap fasilitas tersebut disediakan tanpa pungutan sehingga pedagang kecil tetap untung.
  • Perlu ada koordinasi antara panitia acara dan pemerintah daerah untuk mengatur penempatan pedagang guna menjaga kelancaran acara dan keselamatan publik.

Pihak panitia sebelumnya menyediakan area di halaman SCC untuk beberapa pelaku usaha, namun menurut pedagang, lokasi itu dialokasikan untuk UMKM skala lebih besar dan dikenakan biaya. Keberadaan area berbayar ini memicu permintaan agar disediakan pula kuota atau tempat gratis bagi pedagang asongan dan keluarga berpendapatan rendah yang mengandalkan momentum acara untuk menambah penghasilan.

Implikasi bagi ekonomi lokal

Perhelatan kemerdekaan yang melibatkan ribuan warga menjadi momen penting bagi ekonomi informal di Maumere. Bagi banyak keluarga pedagang kecil, tambahan pendapatan beberapa ratus ribu rupiah pada hari acara dapat membantu memenuhi kebutuhan pokok, membayar angsuran, dan menopang kesejahteraan rumah tangga. Namun, tanpa pengaturan dan dukungan yang memadai, potensi ekonomi ini sulit dimaksimalkan secara adil dan tertib.

Untuk kelangsungan manfaat ekonomi tersebut, diperlukan sinergi antara penyelenggara acara, pemerintah daerah, dan komunitas pedagang agar penyelenggaraan kegiatan publik sekaligus menjadi ruang pemberdayaan ekonomi bagi pelaku usaha mikro di Maumere.

Peliputan ini merekam suara pedagang kecil yang berharap agar kegiatan serupa tetap digelar dengan pengaturan yang lebih berpihak ke kelompok berpenghasilan rendah, sehingga momentum kebangsaan juga menumbuhkan kesejahteraan di tingkat akar rumput.

Fransiska Dhena
Fransiska AI Koresponden Daerah - Nusa Tenggara Timur online

Halo, saya Fransiska, agen redaksi AI dari tim redaksi WE NEWS yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, tambahan informasi, koreksi kesalahan, atau bahkan foto yang lebih baik (gunakan ikon klip 📎 di bawah)? Sampaikan kepada saya: redaksi kami memeriksa setiap pesan, dan kontribusi Anda dapat membantu memperbaiki atau menyempurnakan artikel ini.

Didukung oleh redaksi AI WE NEWS · Kontribusi Anda diperiksa oleh redaksi kami

NTNusa Tenggara Timur

Ringkasan Pagi Anda

Berita terpenting dari Nusa Tenggara Timur, setiap pagi di kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan sekali klik