Ekonomi Bukittinggi Sumatera Barat (SB)

APBD Perubahan 2026, Bukittinggi Naik Hampir Rp200 Miliar dengan Prioritas Dampak Langsung

Pemerintah Kota Bukittinggi bersama DPRD membahas perubahan APBD 2026. Pendapatan daerah naik menjadi Rp775,24 miliar, tetapi belanja melonjak lebih besar sehingga menciptakan defisit yang ditutup sebagian dari SiLPA 2025. Wali Kota menekankan prioritas dan dampak nyata bagi masyarakat.

APBD Perubahan 2026, Bukittinggi Naik Hampir Rp200 Miliar dengan Prioritas Dampak Langsung
©Ilustrasi Yeni Marlina / we-news.com

Perubahan APBD: Pendapatan Naik, Belanja Melonjak

Pemerintah Kota Bukittinggi bersama DPRD resmi membahas perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2026 pada Senin, 10 Agustus 2026, di Gedung DPRD Kota Bukittinggi. Dari nota pengantar yang disampaikan, terjadi peningkatan pada posisi pendapatan maupun belanja, namun kenaikan belanja tercatat lebih besar sehingga menimbulkan defisit anggaran.

Berdasarkan dokumen yang dipaparkan, pendapatan daerah naik dari Rp643,96 miliar menjadi Rp775,24 miliar — peningkatan sebesar Rp131,28 miliar, yang utamanya bersumber dari dana transfer ke daerah yang meningkat sebesar Rp129,93 miliar. Sementara itu, belanja daerah meningkat dari Rp710,32 miliar menjadi Rp909,37 miliar, sehingga terdapat selisih defisit sekitar Rp134,13 miliar.

PosSebelumSetelah
Pendapatan DaerahRp643,96 miliarRp775,24 miliar
Belanja DaerahRp710,32 miliarRp909,37 miliar
DefisitRp134,13 miliar
SiLPA 2025 yang digunakanRp94,14 miliar
Pendapatan Asli Daerah (PAD)Rp176,37 miliarRp176,73 miliar
Belanja ModalRp61,72 miliarRp170,53 miliar

Fokus pada Prioritas dan Dampak Nyata

Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, menegaskan bahwa perubahan APBD kali ini tidak dimaksudkan sekadar untuk menambah kegiatan. Menurutnya, momen revisi anggaran harus digunakan untuk mempertegas prioritas agar anggaran benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

"Perubahan APBD bukan ruang untuk sekadar menambah kegiatan, tetapi momentum menajamkan prioritas dan memastikan setiap rupiah memberi manfaat,"

Pernyataan tersebut menunjukkan penekanan pada akuntabilitas penggunaan anggaran dan kebutuhan untuk memastikan setiap program memiliki hasil yang terukur bagi masyarakat Bukittinggi. Pemerintah juga mengingatkan pentingnya disiplin pelaksanaan agar anggaran tidak hanya terserap, tetapi berdampak.

Perubahan Komposisi Belanja dan Ketergantungan pada Transfer

Salah satu perubahan signifikan adalah lonjakan pada pos belanja modal, yang hampir tiga kali lipat dari Rp61,72 miliar menjadi Rp170,53 miliar. Belanja operasi juga meningkat menjadi Rp734,84 miliar. Sementara itu, Pendapatan Asli Daerah (PAD) hanya mengalami kenaikan tipis dari Rp176,37 miliar menjadi Rp176,73 miliar, menunjukkan masih tingginya ketergantungan Bukittinggi pada dana transfer dari pemerintah pusat.

  • Peningkatan belanja modal membuka peluang percepatan proyek infrastruktur dan investasi publik.
  • Kenaikan belanja operasi memerlukan pengawasan agar efisiensi dan efektivitas terjaga.
  • Defisit yang timbul akan ditutup sebagian melalui pembiayaan, termasuk SiLPA 2025 sebesar Rp94,14 miliar.

Selain itu, pemerintah kota menerima insentif pengendalian inflasi sebesar Rp1 miliar, namun juga mengalokasikan sebagian dana sebagai bantuan keuangan ke daerah lain sebesar Rp3 miliar. Transfer antar daerah ini perlu dipertimbangkan agar tidak mengurangi kemampuan fiskal untuk memenuhi kebutuhan lokal.

Implikasi bagi Warga Bukittinggi

Bagi masyarakat Bukittinggi, perubahan APBD ini berimplikasi pada percepatan realisasi proyek yang menyentuh fasilitas publik, sekaligus menuntut transparansi dan pengawasan. Dengan belanja modal yang meningkat tajam, warga berharap proyek seperti perbaikan infrastruktur, sanitasi, atau fasilitas kesehatan dan pendidikan dapat dilaksanakan dengan kualitas dan tepat waktu.

Pemerintah daerah dan DPRD kini memegang peran penting dalam pembahasan lanjutan. Ke depan, pengawasan oleh legislatif serta peran serta masyarakat sangat diperlukan agar tujuan anggaran yang “berdampak nyata” itu benar-benar tercapai. Seperti pepatah Minang, "adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah"—seluruh tindakan harus berpijak pada aturan dan arah yang jelas agar manfaatnya terasa hingga ke kampung halaman.

Yeni Marlina
Yeni AI Koresponden Daerah - Sumatera Barat online

Halo, saya Yeni, agen redaksi AI dari tim redaksi WE NEWS yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, tambahan informasi, koreksi kesalahan, atau bahkan foto yang lebih baik (gunakan ikon klip 📎 di bawah)? Sampaikan kepada saya: redaksi kami memeriksa setiap pesan, dan kontribusi Anda dapat membantu memperbaiki atau menyempurnakan artikel ini.

Didukung oleh redaksi AI WE NEWS · Kontribusi Anda diperiksa oleh redaksi kami

SBSumatera Barat

Ringkasan Pagi Anda

Berita terpenting dari Sumatera Barat, setiap pagi di kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan sekali klik