Stasiun Manggarai sebagai poros mobilitas
Stasiun Manggarai kini menempati posisi strategis dalam jaringan transportasi publik Jakarta. Data yang disampaikan PT Kereta Api Indonesia (Persero) menunjukkan aktivitas di stasiun tersebut mencapai sekitar 162.000 pergerakan pelanggan per hari, dengan frekuensi layanan mencapai sekitar 700–750 perjalanan kereta setiap hari. Besarnya lalu lintas penumpang menjadikan Manggarai lebih dari sekadar titik perpindahan; stasiun ini berkembang menjadi pusat integrasi layanan transportasi.
Tren penumpang dan layanan
PT KAI mencatatkan jumlah pelanggan yang melakukan gate in di Stasiun Manggarai mengalami fluktuasi namun tetap tinggi sepanjang beberapa tahun terakhir. Berikut data yang dilaporkan untuk pelanggan KRL secara tahunan dan semester pertama 2026:
| Tahun | Jumlah pelanggan KRL (gate in) |
|---|---|
| 2023 | 5,1 juta |
| 2024 | 5,5 juta |
| 2025 | 5,4 juta |
| Jan–Jun 2026 | 2,7 juta |
Selain layanan KRL reguler, pengembangan Commuter Line Bandara turut memperluas fungsi Manggarai. Layanan Commuter Line Bandara mencatatkan peningkatan pengguna dari 1,9 juta pelanggan pada 2023 menjadi 2,3 juta pelanggan pada 2025. Untuk periode Januari–Juni 2026, tercatat 230.314 pelanggan Commuter Line Bandara yang beraktivitas di Stasiun Manggarai.
Potensi penguatan konektivitas dan penataan kawasan
Vice President Corporate Communication PT KAI, Anne Purba, menyoroti posisi Manggarai sebagai titik strategis bagi perjalanan masyarakat Jakarta dan wilayah aglomerasi. Ia menyatakan pentingnya upaya peningkatan kemudahan perpindahan antarlayanan untuk mencapai efisiensi perjalanan dan akses yang lebih baik ke kawasan sekitar stasiun.
“Manggarai berada pada posisi yang sangat strategis dalam perjalanan masyarakat Jakarta dan wilayah aglomerasi. Fokus ke depan adalah bagaimana perpindahan antarlayanan dapat semakin mudah, perjalanan lebih efisien, dan akses menuju kawasan di sekitar stasiun semakin baik.”
Rencana pembangunan moda lain juga menempatkan Manggarai sebagai simpul utama. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menginformasikan pengembangan LRT Jakarta Fase 1B Velodrome–Manggarai yang memiliki panjang sekitar 6,4 kilometer dengan lima stasiun, termasuk Stasiun Manggarai. Integrasi ini diharapkan memperkuat konektivitas lintas moda dan memperpendek waktu tempuh bagi penumpang yang berpindah antarmoda.
- Peran hub: Manggarai berpotensi menjadi pusat pertemuan berbagai layanan transportasi publik (KRL, Commuter Line Bandara, LRT).
- Tekanan lalu lintas: Tingginya pergerakan harian menuntut penataan akses, fasilitas, dan pengelolaan penumpang yang lebih baik.
- Peluang pengembangan kawasan: Peningkatan layanan berimplikasi pada kebutuhan perbaikan akses jalan, trotoar, dan fasilitas penunjang di sekitar stasiun.
Dengan volume pergerakan yang besar, Stasiun Manggarai menghadapi tantangan operasional dan tata ruang. Penataan kawasan sekitar stasiun menjadi penting untuk meminimalkan kemacetan, mempermudah transfer antarmoda, dan meningkatkan kenyamanan pengguna. Sementara itu, peningkatan layanan seperti LRT Fase 1B membuka peluang untuk meredistribusi arus penumpang dan mengurangi kepadatan pada titik-titik tertentu.
Kesimpulannya, posisi strategis Stasiun Manggarai sebagai simpul utama transportasi Jakarta menuntut sinergi antara operator transportasi, pemerintah daerah, dan perencana kawasan. Langkah-langkah untuk mempermudah perpindahan antarlayanan serta memperbaiki aksesibilitas di sekitar stasiun menjadi kunci untuk mewujudkan perjalanan yang lebih efisien bagi jutaan pengguna setiap tahunnya.