Pendidikan

Otoritas Pendidikan Ho Chi Minh Tindak Praktik 'Homeschooling' yang Dinilai Melanggar Ketentuan Pendidikan Dasar

Dinas Pendidikan dan Pelatihan Kota Ho Chi Minh menerima laporan tentang pendaftaran anak untuk belajar di rumah, menyerahkan kasus ke polisi, dan memperingatkan bahwa pendidikan dasar bersifat wajib menurut peraturan yang berlaku.

Otoritas Pendidikan Ho Chi Minh Tindak Praktik 'Homeschooling' yang Dinilai Melanggar Ketentuan Pendidikan Dasar
©Ilustrasi Fajar Nugroho / we-news.com

Dinas Pendidikan dan Pelatihan Kota Ho Chi Minh mengungkapkan telah menerima beberapa permohonan pendaftaran anak untuk menjalani pendidikan di rumah (homeschooling) dan telah menyerahkan sejumlah kasus tersebut kepada aparat kepolisian. Praktik yang dipromosikan oleh beberapa pusat konseling ini menarik perhatian otoritas karena berpotensi bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan yang mengatur pendidikan dasar.

Detail kasus dan klaim penyelenggara

Berdasarkan laporan yang diterima, sejumlah orang tua mendaftarkan anak-anak mereka untuk belajar di rumah pada berbagai jenjang, termasuk murid yang menyelesaikan kelas satu, gabungan kelas 1–3, hingga siswa yang menyelesaikan pendidikan dasar namun baru akan mendaftar di kelas enam. Para pusat konseling yang menawarkan layanan tersebut mengklaim memberikan "pendidikan budaya" dan menyediakan sertifikat kelulusan bagi peserta didik. Biaya yang dipungut dilaporkan sekitar 20 juta VND per tahun ajaran.

Keprihatinan otoritas dan langkah hukum

Dinas Pendidikan menegaskan bahwa menurut ketentuan Undang-Undang Pendidikan yang berlaku, pendidikan dasar bersifat wajib. Negara memiliki tanggung jawab menjamin kondisi pembelajaran, sementara orang tua berkewajiban menyekolahkan anaknya. Oleh karena itu, praktik pendidikan di rumah seperti yang dipromosikan oleh beberapa pusat tersebut dinilai tidak sesuai dengan peraturan dan berpotensi merugikan anak.

  • Risiko akses pendidikan: Anak yang tidak bersekolah penuh berisiko tidak mendapatkan akses lengkap ke kurikulum pendidikan umum dan kegiatan pembelajaran resmi.
  • Pengembangan keterampilan dan sosialisasi: Kurangnya partisipasi dalam lingkungan sekolah dapat menghambat pengembangan keterampilan sosial dan kesempatan berinteraksi dengan teman sebaya.
  • Validitas administrasi: Ada kekhawatiran tentang catatan akademik dan kelayakan administrasi ketika anak akan mendaftar ke jenjang yang lebih tinggi.
"Tidak semua bentuk pembelajaran yang diimpor dari luar negeri cocok untuk kondisi pendidikan saat ini di negara kita."

Refleksi: tantangan, penipuan, dan perlindungan anak

Kejadian ini menyoroti beberapa tantangan di bidang pendidikan: pertama, maraknya layanan pendidikan nonformal yang mengklaim mampu menggantikan fungsi sekolah formal; kedua, potensi penipuan administratif melalui penerbitan sertifikat yang dipertanyakan; ketiga, celah regulasi dan pengawasan terhadap penyelenggara pendidikan di luar sistem resmi.

Dari perspektif perlindungan anak, penting memastikan bahwa setiap tindakan alternatif pendidikan tidak mengorbankan hak anak atas pendidikan yang layak, akses kurikulum yang lengkap, dan kesempatan untuk berkembang secara sosial. Negara berkepentingan menjaga standar minimal pendidikan dasar agar anak tidak mengalami kerugian jangka panjang dalam pembelajaran dan pengembangan kompetensi.

Langkah ke depan: pencegahan dan solusi

Beberapa langkah yang relevan untuk dipertimbangkan otoritas dan pemangku kepentingan pendidikan antara lain:

  • Meningkatkan sosialisasi ketentuan pendidikan wajib kepada orang tua sehingga alternatif pendidikan yang tidak memenuhi standar tidak menjadi pilihan semata karena ketidaktahuan.
  • Memperkuat pengawasan terhadap lembaga swasta atau pusat konseling yang menawarkan layanan pendidikan di luar sistem formal, termasuk mekanisme verifikasi sertifikat.
  • Menyediakan jalur konsultasi yang terpercaya bagi orang tua yang mempertimbangkan model pembelajaran alternatif, agar mereka dapat menerima informasi yang akurat tentang konsekuensi akademis dan administratif.

Kasus di Ho Chi Minh juga mengingatkan bahwa inovasi dalam pendidikan harus selalu dikaitkan dengan kepatuhan terhadap standar nasional dan perlindungan hak anak. Upaya preventif dan penegakan aturan perlu berjalan seiring agar praktik-praktik yang berpotensi merugikan peserta didik dapat segera terdeteksi dan ditindaklanjuti oleh otoritas berwenang.

Selain isu homeschooling yang menjadi sorotan utama, pemberitaan lokal turut menyinggung pengakuan sebuah pohon merah berusia seabad sebagai pohon warisan budaya di provinsi lain, menunjukkan keberagaman isu yang mengisi perhatian publik. Namun, bagi ranah pendidikan, fokus utama tetap pada upaya memastikan setiap anak memperoleh hak pendidikan dasar secara penuh dan resmi.

Redaksi Pendidikan, WE NEWS

Fajar Nugroho
Fajar AI Redaktur Desk Pendidikan online

Halo, saya Fajar, agen redaksi AI dari tim redaksi WE NEWS yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, tambahan informasi, koreksi kesalahan, atau bahkan foto yang lebih baik (gunakan ikon klip 📎 di bawah)? Sampaikan kepada saya: redaksi kami memeriksa setiap pesan, dan kontribusi Anda dapat membantu memperbaiki atau menyempurnakan artikel ini.

Didukung oleh redaksi AI WE NEWS · Kontribusi Anda diperiksa oleh redaksi kami

Newsletter Harian

Ringkasan Pagi Anda

Berita 24 jam terakhir dan yang akan datang, langsung ke kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan sekali klik