Yogyakarta — MTsN 1 Yogyakarta menggelar upacara bendera pada Senin, 31 Agustus 2026 untuk memperingati pengesahan Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan berlangsung di halaman madrasah dan diikuti oleh seluruh guru, pegawai, dan murid.
Sejarah dan pesan dalam amanat
Upacara tersebut dipimpin oleh petugas dari siswa kelas 8A dan bertindak sebagai pembina upacara adalah Waka Humas madrasah, Ritaningsih Sudjoko. Dalam amanatnya, Ritaningsih menyampaikan latar belakang penetapan Yogyakarta sebagai Daerah Istimewa, salah satunya terkait penggabungan Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman pada masa penjajahan Belanda ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ritaningsih juga mengingatkan peran Sri Sultan Hamengkubuwana IX saat Yogyakarta menjadi ibu kota sementara, termasuk tindakan beliau yang merelakan harta bendanya untuk memenuhi kebutuhan negara pada masa genting. Gambaran sejarah itu digunakan sebagai pijakan untuk menanamkan kecintaan terhadap bangsa dan daerah.
“Keadaan genting di Jakarta yang saat itu menjadi Ibu kota Indonesia memaksa harus berpindah tempat. Peran Sri Sultan Hamengkubuwana IX yang merelakan harta bendanya untuk mencukupi kebutuhan saat Yogyakarta menjadi Ibu kota sementara adalah bukti nyata kecintaan beliau kepada bangsa,”
Penekanan pada peran generasi muda
Selain mengulas aspek sejarah, pembina upacara memberi penekanan pada tanggung jawab generasi muda dalam menjaga keistimewaan Yogyakarta pada masa kini. Dua poin utama yang disampaikan adalah upaya pencegahan tindak kriminal jalanan dan pelestarian budaya lokal.
- Mencegah diri dari tindakan kriminal jalanan, seperti klithih, yang masih marak di wilayah Yogyakarta.
- Menjaga pergaulan dan memilih teman yang membawa dampak positif bagi perkembangan diri.
- Mengembangkan bakat, potensi, dan prestasi akademis melalui kegiatan yang produktif.
- Menyaring pengaruh budaya luar agar kebudayaan lokal, termasuk kemampuan berbahasa Jawa yang baik kepada orang yang lebih tua, tidak terlupakan.
Ritaningsih menegaskan bahwa generasi muda harus mampu memilih dan menyaring arus budaya populer, seperti K-Pop dan drama Korea, agar tidak mengabaikan nilai-nilai dan bahasa daerah. Ia mencontohkan kepentingan melestarikan bahasa Jawa dalam interaksi sehari-hari, terutama saat berkomunikasi dengan orang tua atau tokoh adat.
Penutupan dan suasana upacara
Seluruh peserta mengikuti amanat dengan tertib. Upacara ditutup dengan menyanyikan lagu-lagu nasional sebagai wujud cinta tanah air dan penghormatan terhadap sejarah bangsa. Kegiatan itu sekaligus menjadi momen pembelajaran civics bagi siswa, mengingatkan mereka pada posisi istimewa Yogyakarta dalam konteks sejarah dan negara.
| Aspek | Pesan Utama |
|---|---|
| Sejarah | Peran Kasultanan dan Kadipaten, serta pengorbanan Sri Sultan Hamengkubuwana IX saat Yogyakarta menjadi ibu kota sementara |
| Keamanan | Pencegahan tindak kriminal jalanan seperti klithih |
| Budaya | Pelestarian bahasa dan budaya Jawa, serta selektif terhadap budaya luar |
Upacara di MTsN 1 Yogyakarta mencerminkan upaya lembaga pendidikan untuk menggabungkan pendidikan karakter dengan pengenalan sejarah lokal. Bagi para siswa, kegiatan semacam ini tidak hanya sekadar rutinitas formal, melainkan kesempatan untuk memahami akar budaya dan tanggung jawab sosial mereka sebagai warga Yogyakarta.
Dengan suasana yang khidmat dan amanat yang lugas, madrasah berharap pesan-pesan tersebut berpengaruh pada sikap sehari-hari peserta didik, baik di lingkungan sekolah maupun dalam interaksi sosial di masyarakat luas.