PADA hari Minggu, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menerima audiensi dan bersilaturahmi dengan keluarga besar Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Provinsi Sumbar beserta dewan hakim dan para pelatih di Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi. Pertemuan itu menjadi kesempatan terakhir bagi para pengurus dan kafilah untuk memohon doa serta menerima arahan sebelum berangkat ke Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional di Semarang, Jawa Tengah.
Pesan gubernur: persiapan sungguh-sungguh dan niat mengharumkan daerah
Dalam pertemuan tersebut, Mahyeldi menekankan bahwa keberhasilan kontingen tidak hanya ditentukan kemampuan teknis di arena lomba, melainkan juga oleh kesungguhan, kedisiplinan, kekompakan, serta keikhlasan dalam menjalani setiap proses persiapan. Ia mengimbau agar waktu yang tersisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mematangkan latihan serta menjaga kondisi fisik dan mental.
"Yang paling penting bagaimana kita mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Jaga kekompakan, disiplin, dan niatkan seluruh perjuangan ini sebagai bagian dari ikhtiar kita mengharumkan nama Sumatera Barat,"
Selain aspek prestasi, Mahyeldi mengingatkan bahwa keikutsertaan Sumbar pada ajang nasional harus menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan masyarakat terhadap Al-Quran dan mendorong nilai-nilai Al-Quran menjadi landasan dalam kehidupan sehari-hari. Ia meminta para kafilah untuk menampilkan kemampuan terbaik sekaligus menjaga akhlak dan semangat kebersamaan selama bertanding.
Makna kultural dan sosial bagi Sumatera Barat
Kehadiran gubernur pada acara audiensi menandai dukungan pemerintah daerah terhadap dunia pembinaan dan penyelenggaraan kegiatan tilawatil qur'an. Bagi masyarakat Sumbar yang menjunjung tinggi tradisi membaca dan memahami Al-Quran, partisipasi kontingen provinsi pada MTQ Nasional memiliki arti lebih luas: selain ajang kompetisi, ia juga menjadi sarana penyebaran nilai moral dan spiritual yang kuat.
Momentum persiapan ini juga menjadi titik temu antara unsur pembina, juri, pelatih, dan peserta — sebuah jejaring yang selama ini menjaga kualitas pembinaan tilawah di ranah Minang. Dukungan publik dan doa dari masyarakat menjadi salah satu sumber semangat bagi kafilah yang bertolak ke arena nasional.
- Waktu dan tempat audiensi: Minggu, di Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi.
- Maksud pertemuan: Penguatan, doa, restu, dan arahan bagi dewan hakim, pelatih, dan kafilah Sumbar.
- Tujuan lomba: Mengharumkan nama Sumatera Barat di MTQ Nasional di Semarang, sekaligus membumikan nilai Al-Quran.
Saran praktis bagi kontingen dan pendukung
Untuk menjaga peluang terbaik di arena nasional, arahan yang disampaikan gubernur sejalan dengan praktik pembinaan yang umum di bidang tilawah: menjaga kondisi fisik melalui pola istirahat, memperkuat mental melalui doa dan latihan intensif, serta menjaga kebersamaan dalam setiap aktivitas tim. Pendamping diharapkan membantu peserta dalam hal manajemen waktu, gizi, dan pemulihan agar performa di hari lomba optimal.
Publik di Sumatera Barat turut diimbau memberikan dukungan moril dan doa bagi kontingen. Doa bersama di masjid-masjid dan lingkungan pesantren dapat menjadi wujud solidaritas budaya yang memperkuat semangat lokal untuk berkontestasi di tingkat nasional.
Ringkasan arahan gubernur
| Arahan | Maksud |
|---|---|
| Persiapan sungguh-sungguh | Mematangkan teknik dan penampilan peserta |
| Jaga kekompakan dan disiplin | Meningkatkan koordinasi tim dan etika bertanding |
| Niatkan sebagai ikhtiar | Mengutamakan keikhlasan dan nilai keagamaan |
Dengan nada yang tegas namun lembut, gubernur mengingatkan bahwa prestasi memang diharapkan, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana ajang seperti MTQ benar-benar meneguhkan posisi Al-Quran sebagai pedoman hidup. Semangat itu mencerminkan kearifan lokal Minangkabau yang menghargai seni baca Al-Quran sekaligus menjaga akhlak dalam kompetisi.
Perjalanan kafilah Sumbar ke Semarang menjadi lembaran baru yang diharapkan membawa harum nama daerah. Masyarakat di ranah Minang kini menanti kabar keberangkatan dan dukungan doa untuk para qari dan qariah, hafiz dan hafizah, yang akan tampil mewakili warna budaya religi Sumatera Barat di tingkat nasional.