Perbaikan kualitas udara setelah dampak kabut asap
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan menyatakan kualitas udara di kota mulai menunjukkan perbaikan setelah pekan sebelumnya sempat memasuki kategori tidak sehat akibat pengaruh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar wilayah. Pemantauan menggunakan Air Quality Monitoring System (AQMS) yang beroperasi 24 jam pada dua stasiun menunjukkan indeks menurun ke level sedang selama dua hari terakhir.
“Kami cek dari Minggu 18 Oktober, kualitas udara sudah posisi kategori sedang, aktivitas masyarakat sudah boleh tapi masih disarankan tetap memakai masker,”
Pernyataan tersebut disampaikan Kepala DLH Balikpapan saat ditemui pada Senin, 19 Oktober 2026. Meskipun terjadi perbaikan, otoritas lingkungan tetap mengimbau masyarakat untuk waspada dan membatasi kegiatan di luar ruangan bila memungkinkan, terutama bagi kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit pernapasan.
Data ISPU PM2.5 dan tren harian
Pengukuran parameter PM2.5 pada 18 Oktober 2026 menunjukkan nilai yang bergerak di kisaran kategori sedang dengan kecenderungan naik menjelang sore hari. Data yang dipantau DLH merekam fluktuasi nilai ISPU sebagai berikut:
| Waktu (18/10/2026) | ISPU PM2.5 |
|---|---|
| 06.00 WITA | 69 |
| 07.00 WITA | 70 |
| 08.00 WITA | 71 |
| 09.00 WITA | 73 |
| 10.00–12.00 WITA | 72 (stabil) |
| 13.00 WITA | 74 |
| 14.00–17.00 WITA | 76 |
Selain itu, pantauan pada Senin 19 Oktober 2026 pukul 17.00 WITA mencatat angka berbeda di masing-masing stasiun: Stasiun Sepinggan tercatat 94, sementara Stasiun Balikpapan Baru berada di level 88. Keduanya masih termasuk kategori Sedang menurut DLH setempat.
Faktor penyebab dan perbandingan data
DLH menegaskan bahwa Balikpapan bukan merupakan lokasi langsung terjadinya karhutla, melainkan terdampak akibat pergerakan asap dari daerah sekitar yang dibawa oleh kondisi angin dan cuaca. Hujan belakangan turut membantu memperbaiki kualitas udara setempat.
Namun, terdapat perbedaan hasil pantauan pada aplikasi pihak ketiga. Misalnya, platform pemantau kualitas udara IQAir menempatkan nilai AQI Balikpapan pada level 146, yang dikategorikan sebagai Tidak Sehat bagi kelompok sensitif. Perbedaan ini menunjukkan perlunya kehati-hatian saat menginterpretasi data dari berbagai sumber pemantauan.
Imbauan dan langkah antisipasi
DLH Kota Balikpapan menghimbau warga untuk melakukan langkah pencegahan berikut:
- Mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara belum stabil sepenuhnya.
- Memakai masker, khususnya bagi kelompok sensitif dan mereka yang memiliki keluhan pernapasan.
- Memantau informasi resmi dari DLH dan otoritas kesehatan setempat terkait perubahan status kualitas udara.
Perbaikan kondisi udara memberi kelonggaran bagi aktivitas warga, namun tren kenaikan ISPU pada sore hari mengingatkan bahwa situasi dapat kembali berubah dipengaruhi faktor cuaca dan arah angin. Pemantauan lanjutan dari stasiun AQMS lokal dan koordinasi lintas wilayah tetap penting untuk mengantisipasi potensi dampak kesehatan dan merespons bila kondisi memburuk kembali.
Secara pembangunan, kejadian kabut asap yang mempengaruhi Balikpapan menegaskan kebutuhan penguatan sistem peringatan dini, peningkatan kapasitas penanganan karhutla di tingkat regional, serta perbaikan tata kelola penggunaan lahan di kawasan sekitarnya agar kejadian serupa dapat diminimalkan di masa mendatang.