Pembelajaran etika yang meluas ke masyarakat
Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang mengintegrasikan nilai empati dalam proses pembelajaran yang tidak lagi sebatas ruang kelas. Dosen Etika IAKN Kupang, Merling Messakh, M.Pd., menyampaikan bahwa pembelajaran diarahkan agar mahasiswa tidak hanya memahami teori tetapi juga menerapkan empati melalui keterlibatan langsung dengan berbagai lapisan masyarakat.
Menurut Merling, luaran setiap mata kuliah harus dapat diterapkan di komunitas. Untuk menjembatani antara teori dan praktik, mahasiswa dilibatkan dalam kegiatan observasi dan intervensi sosial di sejumlah lokasi publik sebagai bagian dari tugas akademik.
Kegiatan lapangan dan fokus pada etika digital
Salah satu bentuk penerapan adalah tugas yang menekankan etika digital. Mahasiswa dibagi dalam kelompok untuk mengamati konten di platform seperti YouTube, Facebook, dan TikTok. Hasil pemantauan digunakan sebagai bahan analisis terkait pelanggaran etika atau persoalan yang muncul dalam praktik bermedia sosial.
"Setelah melakukan analisis, kami tidak berhenti pada tugas akademik saja, tetapi mahasiswa membuat edukasi melalui flyer dan video-video pendek. Tujuannya untuk mengedukasi warga digital yang setiap hari mengakses media sosial,"
Merling menjelaskan bahwa materi yang dikembangkan mahasiswa tidak hanya untuk penilaian akademik. Output tersebut diformat menjadi materi edukasi yang mudah diakses oleh publik, antara lain flyer dan video pendek, dengan tujuan meningkatkan literasi dan etika penggunaan media sosial di kalangan warga digital.
Ruang praktik: sekolah, panti asuhan, pasar, dan tempat wisata
IAKN Kupang menempatkan mahasiswa dalam beragam lokasi agar mereka memperoleh pengalaman langsung melihat persoalan sosial yang nyata. Bentuk keterlibatan ini memungkinkan mahasiswa mengaplikasikan nilai empati sekaligus menguji relevansi materi etika dalam konteks lokal.
- Penerapan etika di lingkungan sekolah
- Kegiatan di panti asuhan untuk memahami kerentanan sosial
- Observasi di pasar sebagai ruang interaksi ekonomi dan sosial
- Pendekatan di tempat wisata untuk melihat dinamika komunitas dan pengunjung
| Lokasi | Tujuan Kegiatan |
|---|---|
| Sekolah | Memahami implementasi etika dalam lingkungan pendidikan |
| Panti asuhan | Melatih empati terhadap kelompok rentan |
| Pasar | Mengamati interaksi sosial-ekonomi dan etika komunikasi |
| Tempat wisata | Melihat dinamika sosial antara warga lokal dan pengunjung |
Konsekuensi lokal dan kebutuhan literasi digital
Program ini memiliki implikasi langsung bagi masyarakat Kupang. Dengan banyaknya warga yang mengakses media sosial setiap hari, materi edukasi yang dihasilkan mahasiswa diharapkan dapat membantu menumbuhkan praktik bermedia sosial yang lebih etis dan bertanggung jawab. Merling menekankan bahwa observasi dan edukasi tidak berhenti pada tingkat akademik, melainkan diarahkan untuk menjangkau publik luas.
Selain itu, Merling menyentil perkembangan teknologi, termasuk penggunaan kecerdasan buatan (AI), sebagai faktor yang tidak boleh diabaikan dalam proses pendidikan. Menurutnya, perkembangan teknologi tidak seharusnya membuat kegiatan akademik kehilangan relevansi sosial dan etika.
Inisiatif IAKN Kupang ini memberi ruang bagi mahasiswa untuk berinteraksi dengan masyarakat di wilayah terpencil maupun pusat kota, sekaligus memberi kesempatan kepada warga lokal untuk menerima informasi dan edukasi tentang penggunaan media sosial yang lebih bertanggung jawab. Program tersebut juga membuka ruang dialog antara kampus dan komunitas, yang penting untuk membangun budaya digital yang sehat di Kupang.
Dengan pendekatan pembelajaran berbasis empati dan aksi lapangan, IAKN Kupang berharap lulusannya tidak hanya cakap secara akademis tetapi juga peka terhadap konteks sosial serta mampu berkontribusi pada peningkatan kualitas etika publik dalam era digital.