Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menyampaikan bahwa capaian olahraga Indonesia mengalami peningkatan meski masih terdapat cabang yang belum memenuhi ekspektasi. Pernyataan itu disampaikan ketika ia merespons perkembangan prestasi menjelang peringatan ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Prestasi terkini sebagai tolok ukur
Erick menyoroti sejumlah keberhasilan kontingen nasional pada ajang multievent regional sebagai ukuran kemajuan. Di antaranya, posisi runner-up pada SEA Games 2025 dan ASEAN Para Games 2025 disebut sebagai indikator bahwa arah pembinaan mulai membuahkan hasil. Ia juga mengingatkan bahwa cabang-cabang unggulan terus menunjukkan prestasi yang patut diapresiasi.
"Prestasi ( olahraga ) kita hingga saat ini meningkat, meski memang belum sempurna,"
Dalam paparannya, Erick turut menyinggung beberapa capaian individu dan cabang yang memberi kontribusi signifikan bagi nama besar Indonesia di pentas internasional. Beberapa nama dan prestasi yang disebut antara lain atlet angkat besi yang meraih medali emas Olimpiade Paris 2024 sekaligus memecahkan rekor dunia, serta pemecahan prestasi di cabang panjat tebing. Nama-nama potensial di tenis putri juga diangkat sebagai bukti bakat yang berkembang.
Perbaikan tata kelola dan deregulasi
Untuk mendukung kesinambungan prestasi, Kementerian Pemuda dan Olahraga melakukan langkah pembenahan sistem tata kelola keolahragaan. Salah satu kebijakan penting yang disebutkan adalah penyederhanaan regulasi: dari 119 regulasi menjadi hanya 4 Peraturan Menpora. Tujuan perubahan ini adalah menyelaraskan proses pembinaan dengan kebutuhan peningkatan prestasi serta mempermudah sinergi antara pemerintahan, pihak swasta, dan masyarakat.
Erick menegaskan bahwa pembiayaan tidak bisa bergantung sepenuhnya pada anggaran negara, sehingga keterlibatan sektor swasta dan penguatan ekosistem sport tourism menjadi salah satu jalan untuk memperbesar sumber daya bagi pembinaan atlet.
"Kalau hanya mengandalkan anggaran pemerintah, tidak akan pernah cukup,"
Konsekuensi kebijakan dan tantangan ke depan
Penyederhanaan regulasi bertujuan mempermudah koordinasi dan mempercepat keputusan strategis, namun implementasinya akan menuntut pengawasan yang ketat agar perubahan struktural benar-benar berdampak pada lapangan. Peralihan dari banyaknya regulasi ke empat peraturan inti berpotensi mempercepat proses administratif, tetapi keberhasilan akhir tetap bergantung pada kualitas program pelatnas, pembinaan usia dini, serta kesinambungan dukungan finansial.
Beberapa poin penting yang perlu diperhatikan oleh pembuat kebijakan dan pelaku olahraga adalah:
- Menjaga kesinambungan program pembinaan dan pendanaan, termasuk keterlibatan mitra swasta.
- Meningkatkan kualitas pelatih, fasilitas, dan kompetisi domestik untuk menjembatani atlet ke level internasional.
- Memastikan tata kelola baru memiliki mekanisme evaluasi dan akuntabilitas yang jelas agar penyederhanaan regulasi benar-benar efektif.
Langkah-langkah ini relevan mengingat sejumlah cabang populer seperti sepak bola masih menjadi barometer perhatian publik, sementara cabang-cabang lain seperti bulu tangkis, futsal, dan tenis menunjukkan perkembangan yang menjanjikan.
Tabel capaian utama yang disebutkan
| Ajang / Cabang | Capaian |
|---|---|
| SEA Games 2025 | Runner-up |
| ASEAN Para Games 2025 | Runner-up |
| SEA Games 2023 (Sepak bola) | Emas |
| Olimpiade Paris 2024 (Angkat besi) | Emas + Rekor Dunia |
| Panjat tebing | Emas |
Pernyataan Erick Thohir menyampaikan optimisme sekaligus tantangan: peningkatan prestasi sudah terlihat, namun konsolidasi kebijakan dan sumber daya menjadi syarat mutlak agar prestasi tersebut berlanjut dan meluas ke lebih banyak cabang olahraga. Perhatian terhadap pembinaan usia dini, profesionalisasi pelatih, serta diversifikasi pembiayaan akan menentukan apakah tren positif ini dapat bertransformasi menjadi prestasi jangka panjang.
Gilang Saputra
Redaktur Desk Olahraga, WE NEWS