Pelibatan masyarakat sebagai strategi utama
Tanjung Selor, Kaltara — Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Kalimantan Utara memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan melibatkan Masyarakat Peduli Api (MPA) selain mengandalkan brigade khusus. Pendekatan ini menempatkan warga lokal sebagai garda terdepan untuk deteksi dini dan penanganan awal kebakaran.
Kepala Bidang Perlindungan, Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Dishut Kaltara, Maryanto, menjelaskan bahwa peran MPA penting untuk memantau titik-titik rawan dan berkoordinasi dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) setempat. "
Kita dibantu sama MPA yang kita bentuk. Mereka yang melakukan deteksi dan penanganan dini serta menyampaikan ke Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH)," kata Maryanto di Tanjung Selor, Rabu.
Distribusi dan peralatan MPA
Awalnya Dishut Kaltara membentuk dua MPA di wilayah kabupaten/kota yang rawan kebakaran. Namun seiring waktu jumlahnya meningkat menjadi puluhan kelompok yang tersebar di seluruh provinsi. Distribusi MPA menurut data Dishut menunjukkan konsentrasi terbesar di Kabupaten Malinau.
| Daerah | Jumlah MPA |
|---|---|
| Malinau | 21 |
| Tana Tidung | 14 |
| Nunukan | 11 |
| Bulungan | 10 |
| Kota Tarakan | 4 |
Untuk mendukung tugas lapangan, Dishut melengkapi MPA dengan sejumlah peralatan pemadaman sederhana, antara lain jet shooter (alat pompa punggung manual), cangkul, sekop, parang, serta peralatan lain yang diperlukan untuk pemadaman awal. Rencana pengadaan mesin pompa mini untuk daerah rawan tahun ini tertunda karena keterbatasan anggaran.
Kesiapan brigade dan peralatan dinas
Selain MPA, Dishut menyiagakan Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Brigdal Karhutla). Di masing-masing KPH kabupaten/kota terdapat tiga regu, sementara di kantor pusat Dishut juga tersedia tiga regu. Satu regu terdiri atas 15 orang sehingga total terdapat 18 regu yang siap turun ke lapangan.
Peralatan dan kendaraan yang dimiliki Dishut saat ini meliputi:
- 9 unit kendaraan roda enam water supply;
- 10 unit kendaraan roda empat slip-on;
- 5 unit mobil personel dal-karhutla;
- 2 unit speedboat.
Rekam kejadian dan penanganan akhir-akhir ini
Dalam beberapa waktu terakhir Dishut Kaltara mencatat beberapa peristiwa karhutla dengan luas lahan terbakar berkisar antara lima hingga 20 hektare. Insiden-insiden tersebut terjadi di sejumlah kabupaten/kota, termasuk penanganan pemadaman terakhir di Tarakan, Bulungan, Tana Tidung, dan Malinau.
Maryanto menegaskan, strategi pencegahan berbasis masyarakat dan kesiagaan brigadel dirancang untuk meminimalkan potensi berkembangnya titik api menjadi kebakaran luas. Namun keterbatasan anggaran menghambat beberapa rencana penguatan alat, seperti pompa mini yang semula akan diprioritaskan untuk daerah rawan.
Dampak dan implikasi bagi masyarakat
Pelibatan MPA menempatkan tanggung jawab pencegahan awal pada komunitas lokal sehingga deteksi terhadap sumber api dapat berlangsung lebih cepat. Pendekatan ini juga meningkatkan kesadaran dan kapasitas tanggap darurat masyarakat setempat. Meski demikian, tanpa dukungan peralatan lebih memadai dan pendanaan berkelanjutan, efektivitas jangka panjang berisiko menurun ketika menghadapi kejadian kebakaran yang meluas.
Rekomendasi praktis bagi warga
Untuk mengurangi risiko karhutla, warga di daerah rawan dianjurkan untuk:
- Melaporkan titik api atau asap segera kepada MPA atau KPH terdekat;
- Menghindari pembakaran lahan sembarangan terutama di musim kering;
- Berpartisipasi dalam pelatihan dan kegiatan pencegahan yang diselenggarakan oleh Dishut atau KPH.
Upaya pencegahan yang menggabungkan sumber daya pemerintah dan peran aktif masyarakat menjadi kunci mengurangi frekuensi serta dampak karhutla di Kalimantan Utara. Perbaikan anggaran untuk pengadaan alat dan pelatihan lanjutan akan menentukan kesiapan daerah menghadapi musim kering mendatang.