Jakarta — Penggunaan aplikasi pelacakan aktivitas olahraga seperti Strava memiliki dampak ganda terhadap pelaku olahraga yang bergabung dalam komunitas. Di satu sisi aplikasi itu dapat meningkatkan identitas diri dan motivasi; di sisi lain, ia bisa memicu perbandingan sosial yang menimbulkan rasa minder, terutama pada atlet pemula dan remaja.
Fenomena 'Efek Strava' menurut psikolog
Psikolog olahraga Dian Wisnuwardhani memaparkan bahwa temuan riset dari Amerika menunjukkan bagaimana Strava mampu membentuk citra diri yang lebih baik serta memperkuat identitas sosial pengguna. Namun, menurut Dian, mekanisme yang sama juga berpotensi memperburuk cara seseorang berelasi dengan lingkungan olahraga bila pemakai merasa belum selevel dengan rekan sekomunitas.
"Ada research di Amerika yang menjelaskan tentang 'efek Strava'. Jadi bagaimana Strava itu bisa membentuk identitas diri kita menjadi lebih baik atau identitas sosial jadi meningkat. Tapi, sebenarnya, efek Strava itu juga bisa meningkatkan bagaimana kita berelasi dengan orang lain,"
Penjelasan tersebut disampaikan oleh Dian saat menjadi narasumber pada program detikSore, Minggu (16/8/2026). Dian menyoroti bahwa fenomena itu sering dialami oleh kelompok usia remaja yang tengah mencari identitas diri dan cenderung sensitif terhadap perbandingan prestasi fisik.
Praktik menangkal rasa minder
Dian memberikan rekomendasi praktis bagi orang yang hendak bergabung dalam komunitas olahraga tetapi khawatir soal kemampuan. Pertama, pilih cabang olahraga yang sesuai dengan kebutuhan dan memberi rasa nyaman. Contoh yang dia kemukakan: lari mungkin membuat seseorang mudah terjebak pada metrik dan komentar, sementara olahraga berpasangan seperti bulutangkis memungkinkan interaksi yang lebih personal dan terhindar dari sorotan metrik individual.
- Pilih olahraga yang memberi rasa percaya diri.
- Fokus pada kemajuan pribadi, bukan perbandingan metrik publik.
- Manfaatkan komunitas untuk menjalin relasi, bukan semata kompetisi statistik.
Dian menekankan bahwa olahraga sebaiknya menjadi sarana untuk mencapai kebahagiaan dan peningkatan kualitas hidup, bukan arena perbandingan yang merendahkan. Ia memperingatkan agar aktivitas di platform seperti Strava tidak berujung pada tekanan sosial yang menurunkan motivasi berolahraga.
Ilustrasi perbandingan yang sering memicu rasa minder
Untuk menggambarkan bagaimana perbandingan mudah memicu perasaan kurang, Dian memberi contoh perbandingan jarak lari: ketika seseorang melihat rekan yang memposting lari 10 km sementara dirinya baru mampu 3 km, reaksi malu atau minder dapat muncul dan menghambat partisipasi lebih lanjut.
| Situasi | Dampak |
|---|---|
| Melihat unggahan lari 10 km sementara diri 3 km | Perasaan malu, penurunan motivasi |
| Memilih olahraga yang sesuai (mis. bulutangkis) | Peningkatan kepercayaan diri, interaksi lebih personal |
Menurut Dian, pemilihan lingkungan yang suportif dan pengaturan tujuan yang realistis menjadi kunci agar alat digital dan komunitas justru memperkuat kebiasaan sehat. Pendekatan yang berorientasi pada proses—bukan hasil—dapat membantu pelaku olahraga menikmati aktivitasnya serta memupuk hubungan sosial yang positif.
Di era di mana metrik dan rekaman aktivitas mudah dibagikan, kesadaran akan dampak psikologis dari pengukuran publik sangat penting. Bagi pelatih dan pengelola komunitas, memahami 'efek Strava' menjadi relevan untuk merancang program inklusif yang menurunkan hambatan partisipasi dan menjaga semangat anggota, terutama remaja.
Dengan pendekatan yang tepat, platform digital dapat menjadi alat motivasi yang efektif tanpa menjadi pemicu kecemasan sosial. Kuncinya adalah menempatkan kesejahteraan psikologis sebagai bagian integral dari pembinaan olahraga komunitas.