Pekanbaru — Dinas Kesehatan (Diskes) Provinsi Riau telah menyalurkan 102.400 lembar masker kepada berbagai instansi, organisasi, sekolah, fasilitas kesehatan, serta masyarakat sebagai langkah antisipasi kesehatan di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Distribusi berdasarkan kebutuhan wilayah terdampak
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, menyampaikan bahwa distribusi masker dilakukan atas permintaan dari pemerintah daerah dan berbagai pihak yang membutuhkan perlindungan. Penyaluran dilakukan melalui dinas kesehatan kabupaten/kota dan secara langsung di sejumlah titik di Kota Pekanbaru.
"Masker ini kita distribusikan untuk membantu masyarakat menghadapi kondisi asap akibat karhutla yang masih terjadi di beberapa daerah di Riau,"
Penerima penyaluran mencakup sejumlah kabupaten seperti Pelalawan, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Kampar, Rokan Hulu, Rokan Hilir, serta Kota Pekanbaru. Selain instansi pemerintah, penerima juga meliputi Polri, BPBD dan Damkar Riau, Pramuka Kwartir Daerah Riau, organisasi kepemudaan, sekolah, universitas, kelurahan, dan panti asuhan.
Stok awal, penyaluran, dan kebutuhan tambahan
Berdasarkan data dari Diskes Provinsi Riau, stok awal yang dimiliki mencapai 123.700 masker. Setelah penyaluran, sisa stok yang tercatat di dinas tinggal 21.300 masker. Mengingat kondisi kabut asap yang masih berpotensi memburuk dan cakupan kelompok yang perlu dilindungi luas, pemerintah provinsi telah mengajukan permintaan tambahan masker ke pemerintah pusat.
Permintaan tambahan yang diajukan oleh Diskes Riau berjumlah 850.000 masker. Angka ini diajukan untuk memastikan ketersediaan alat pelindung pernapasan bagi fasilitas layanan kesehatan, petugas penanggulangan bencana, sekolah, serta masyarakat rentan selama periode darurat kualitas udara.
| Komponen | Jumlah |
|---|---|
| Stok awal | 123.700 |
| Telah disalurkan | 102.400 |
| Sisa stok | 21.300 |
| Permintaan tambahan ke pusat | 850.000 |
Dampak kesehatan dan target prioritas
Penyaluran masker diarahkan kepada kelompok berisiko tinggi dan garis depan penanggulangan karhutla, antara lain:
- Petugas medis dan pekerja fasilitas kesehatan.
- Petugas pemadam dan personel BPBD/Basarnas yang bekerja di lapangan.
- Sekolah dan institusi pendidikan untuk melindungi siswa dan tenaga pendidik.
- Masyarakat di daerah terdampak, khususnya lansia dan penderita penyakit pernapasan kronis.
Langkah ini dianggap penting karena paparan kabut asap mengandung partikel halus (PM2.5) yang dapat menimbulkan gangguan pernapasan, iritasi mata, serta memperburuk kondisi penyakit kardiovaskular dan pulmonal pada kelompok rentan.
Koordinasi antarlembaga dan transparansi distribusi
Distribusi melalui dinas kesehatan kabupaten/kota dimaksudkan agar penyaluran lebih terarah dan responsif terhadap kebutuhan lokal. Selain itu, keterlibatan organisasi kemasyarakatan dan institusi pendidikan diharapkan mempercepat penyebaran bantuan ke kelompok sasaran.
Pemerintah provinsi juga memprioritaskan pengiriman masker ke fasilitas kesehatan dan posko darurat yang mendampingi evakuasi warga bila kualitas udara terus menurun. Namun, efektivitas upaya ini bergantung pada ketersediaan stok tambahan dari pusat serta distribusi yang tepat waktu ke titik-titik terdampak.
Apa yang dapat dilakukan warga sekarang
Sambil menunggu ketersediaan bantuan tambahan, masyarakat disarankan melakukan langkah perlindungan mandiri berikut:
- Memantau informasi kualitas udara melalui aplikasi resmi atau laporan BPBD setempat.
- Mengurangi aktivitas luar ruangan saat kualitas udara buruk.
- Memprioritaskan penggunaan masker bersertifikat pada kondisi kabut asap berat, terutama bagi lansia, anak-anak, dan penderita penyakit pernapasan.
- Menghubungi dinas kesehatan atau kelurahan setempat untuk informasi titik distribusi masker gratis.
Pemerintah daerah di Riau diminta mempercepat koordinasi dengan pemerintah pusat agar suplai masker memenuhi kebutuhan selama darurat kualitas udara akibat karhutla. Pengawasan distribusi dan penentuan prioritas menjadi kunci agar bantuan menjangkau kelompok yang paling membutuhkan.
Warta ini disusun berdasarkan keterangan resmi Dinas Kesehatan Provinsi Riau dan data penyaluran internal dinas.