Festival bertema sejarah dan kuliner
Pemerintah Kabupaten Buleleng akan menggelar Buleleng Festival (Bulfest) 2026 pada 18–23 Agustus, sebuah perhelatan yang dirancang untuk menghadirkan suasana Singaraja tempo dulu. Festival tahun ini mengusung tema "Uriping Rasa", yang menurut panitia bertujuan membangkitkan kembali ingatan kolektif, identitas daerah, serta kebanggaan masyarakat Bali Utara terhadap warisan budaya dan sejarah kota.
Lokasi utama dan pengalaman pengunjung
Zona utama festival, yang dinamakan Zona A (Area Buleleng Tempo Dulu), membentang dari Tugu Singa Ambara Raja, Jalan Ngurah Rai, Gedung Laksmi Graha, hingga kawasan bersejarah Soenda Ketjil. Pada zona ini pengunjung dapat menemukan sejumlah rangkaian program yang bernuansa nostalgia, antara lain bioskop tempo dulu, pasar tradisional rakyat, permainan anak masa lampau, parade seni jalanan, serta sajian kuliner legendaris khas Bali Utara dengan konsep etalase vintage.
Tujuan pemerintah daerah
Bupati Buleleng, dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG, menegaskan bahwa Bulfest 2026 bukan sekadar ajang hiburan tahunan, melainkan momentum untuk merekonstruksi kebanggaan terhadap sejarah panjang daerah.
"Buleleng ini memiliki rekam jejak yang sangat kuat sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, dan kebudayaan masa lalu. Melalui Bulfest 2026, kami tidak hanya menghadirkan nuansa fisik kota lama, tetapi menyalakan kembali 'Uriping Rasa'—rasa memiliki, rasa bangga, dan rasa cinta terhadap warisan leluhur,"
Pernyataan itu disampaikan saat jumpa pers di Rumah Makan Soenda Ketjil, Jalan Ngurah Rai, Singaraja, beberapa hari jelang pembukaan festival.
Dorongan untuk ekonomi kerakyatan
Untuk menggerakkan ekonomi lokal, panitia Bulfest 2026 melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Sebanyak 105 UMKM terkurasi akan berpartisipasi menampilkan produk kriya, kuliner olahan lokal, fesyen, serta produk ekonomi kreatif unggulan. Keterlibatan UMKM ini diharapkan mampu mendorong perputaran ekonomi di kawasan pusat kota dan memberi ruang bagi produk lokal untuk terpromosi kepada pengunjung domestik maupun mancanegara.
- Waktu pelaksanaan: 18–23 Agustus 2026
- Zona utama: Tugu Singa Ambara Raja hingga Soenda Ketjil
- Partisipan UMKM: 105 unit
Aspek kebudayaan dan penguatan identitas
Selain muatan ekonomi, Bulfest diarahkan untuk menampilkan elemen-elemen budaya yang mengingatkan masyarakat pada peran historis Singaraja sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan pada masa lalu. Program seperti parade seni jalanan dan etalase kuliner legendaris disusun untuk membangkitkan kembali memori kolektif tanpa mengabaikan kelestarian nilai-nilai budaya lokal.
Persiapan dan pelibatan komunitas
Ketua Panitia Bulfest 2026, Putu Ariadi Pribadi, mendampingi Bupati pada jumpa pers menjelaskan beberapa detail teknis dan konsep acara. Menurut penjelasan panitia, kegiatan ini juga akan melibatkan komunitas seni, pelaku sejarah lokal, serta pedagang tradisional untuk memastikan program yang ditawarkan otentik dan relevan dengan narasi sejarah Singaraja.
Bagi warga Singaraja dan Bali Utara, festival ini merupakan kesempatan untuk menikmati rekonstruksi suasana kota lama, sekaligus menjadi wahana promosi produk lokal. Pemerintah daerah menempatkan acara ini sebagai salah satu upaya revitalisasi kawasan bersejarah sekaligus pemulihan ekonomi pascapandemi melalui kegiatan budaya dan pariwisata.
| Aspek | Rincian |
|---|---|
| Nama acara | Buleleng Festival (Bulfest) 2026 |
| Tema | Uriping Rasa |
| Waktu | 18–23 Agustus 2026 |
| Zona utama | Tugu Singa Ambara Raja sampai Soenda Ketjil |
| Jumlah UMKM | 105 |
Pelaksanaan Bulfest 2026 menjadi sorotan bagi warga Singaraja karena menempatkan pusat kegiatan di kawasan bersejarah kota. Keberhasilan acara ini akan dipandang sebagai ukuran kemampuan pemerintah daerah memadukan pelestarian budaya dengan pemulihan ekonomi lokal. Warga diimbau mengikuti pengumuman resmi panitia mengenai jadwal lengkap dan protokol acara selama festival berlangsung.