Gerakan kolaboratif tanpa bergantung APBD
PAYAKUMBUH — Pemerintah Kecamatan Payakumbuh Selatan resmi meluncurkan program inovasi "SERIBU Asa untuk Anak Stunting dan Ibu Hamil" sebagai langkah strategis menindaklanjuti arahan Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta terkait percepatan penurunan angka stunting. Peluncuran program dimulai dengan pendampingan keluarga yang memiliki anak stunting dan ibu hamil di Kelurahan Balai Panjang pada Selasa, 15 September.
Berbeda dengan kebijakan yang dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), program ini mengandalkan dukungan dana dari donatur serta keterlibatan berbagai pemangku kepentingan. Menurut Camat Payakumbuh Selatan, Dewi Mulia, "SERIBU Asa ini adalah gerakan kolaborasi nyata. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Oleh karena itu, kami merangkul donatur dan stakeholder yang peduli untuk bersama-sama mendampingi anak stunting dan ibu hamil sejak masa kandungan."
Pendekatan berlapis: sosial, agama, dan layanan kesehatan
Dewi Mulia menegaskan bahwa masalah gizi buruk dan stunting memerlukan penanganan berlapis yang melampaui batas tugas satu instansi kecamatan atau kelurahan. Dalam kegiatan awal di Balai Panjang, penyaluran bantuan melibatkan sinergi sejumlah pihak lokal, antara lain:
- Lurah setempat, yang memetakan keluarga sasaran;
- Penyuluh Keluarga Berencana (KB), yang berperan dalam edukasi kesehatan reproduksi dan pemantauan ibu hamil;
- Penyuluh Agama Islam dari Kantor Urusan Agama (KUA) Payakumbuh Selatan, yang dilibatkan untuk memperluas pendekatan edukasi melalui perspektif agama.
"SERIBU Asa ini adalah gerakan kolaborasi nyata. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri,"
Penglibatan penyuluh agama mendapatkan perhatian khusus oleh tim kecamatan. Pendekatan sosial dan keagamaan diharapkan memperkuat pemahaman masyarakat bahwa menjaga kesehatan ibu hamil dan memenuhi hak gizi anak bukan hanya soal layanan kesehatan, melainkan juga menjadi tanggung jawab moral dan agama.
Harapan berkelanjutan: bukan sekadar bantuan materi
Pemerintah Kecamatan Payakumbuh Selatan mengharapkan program ini tak berhenti pada tindakan karitatif semata. Upaya edukasi berkelanjutan dijadikan fokus agar terjadi perubahan perilaku yang mendukung pemenuhan gizi ibu dan anak. Dengan demikian, intervensi diharapkan mampu menciptakan dampak jangka panjang dalam menekan prevalensi stunting.
Dalam pelaksanaannya, program juga menekankan pendekatan gotong royong sosial khas masyarakat Minang: berbagi peran antara otoritas pemerintahan, tokoh agama, penyuluh, serta donatur. Kombinasi ini ditujukan untuk memastikan intervensi menyentuh aspek kesehatan, sosio-kultural, dan ekonomi keluarga sasaran.
| Komponen | Peran dalam SERIBU Asa |
|---|---|
| Donatur | Sumber pendanaan non-APBD untuk bantuan materiil |
| Lurah | Identifikasi dan penyaluran bantuan ke keluarga sasaran |
| Penyuluh KB | Edukasi dan pendampingan ibu hamil |
| Penyuluh Agama (KUA) | Perluasan edukasi melalui pendekatan keagamaan |
Peluncuran di Balai Panjang menjadi langkah awal implementasi. Kecamatan Payakumbuh Selatan belum merinci sejauh mana cakupan wilayah yang akan dijangkau pada tahap berikutnya. Namun, nilai inti yang dibawa program ini jelas: menanggulangi stunting bukan pekerjaan satu pihak, melainkan usaha kolektif yang mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk saling mambantu.
Bagai padi di lembah yang tumbuh karena tangan-tangan yang saling membajak, penanganan stunting diharapkan menumbuhkan generasi baru Payakumbuh yang sehat dan kuat melalui sinergi, sabar, serta kesinambungan program. Keberlanjutan edukasi dan keterlibatan aktif komunitas menjadi penentu agar bantuan bukan sekadar hakiki untuk sementara, melainkan perubahan perilaku yang menetap.
Ke depan, perhatian publik tertuju pada langkah-langkah konkret berikutnya dari Kecamatan Payakumbuh Selatan: mekanisme pendanaan donatur, pengukuran hasil intervensi, dan perluasan jangkauan ke kelurahan lain yang berisiko. Semua itu dinilai krusial untuk memastikan program SERIBU Asa benar-benar menjadi nafas baru dalam upaya menurunkan angka stunting di Payakumbuh.
Yeni Marlina, Koresponden Daerah — Sumatera Barat