Ancaman kebakaran makin dekat dengan kawasan primer
Jambi — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih berlangsung di wilayah Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS), Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, semakin mendekati kawasan yang menjadi habitat harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). Kepala Balai TNBS, Yunaidi, menyatakan jarak titik api ke kawasan habitat tidak terlalu jauh, diperkirakan sekitar dua hingga tiga kilometer berdasarkan pantauan petugas di lapangan.
Meski titik api belum menembus hutan primer tempat tinggal harimau dan satwa mangsanya, kedekatan api tetap dinilai sebagai ancaman serius. Kawasan yang saat ini terbakar didominasi vegetasi ringan seperti semak belukar, alang-alang, dan tumbuhan paku-pakuan, namun asap dan potensi merembetnya api dapat mengganggu satwa di sekitar lokasi.
"Hasil pantauan petugas di lapangan tidak terlalu jauh mungkin batas sekitar dua hingga tiga kilometer dari jarak habitat harimau,"
Deteksi keberadaan harimau dan data populasi
Di tengah upaya pemadaman yang belum sepenuhnya berhasil, keberadaan harimau dilaporkan masih terdeteksi di kawasan TNBS. Informasi tersebut datang dari warga yang sedang memancing pada sore hari di kawasan Sembilang, yang mendengar suara harimau dan melaporkannya kepada pihak balai.
Berdasarkan data pemantauan pada 2022, tercatat sekitar 11 ekor harimau berada di kawasan Berbak. Angka ini menjadi indikator keberadaan satwa dilindungi tersebut di taman nasional dan menegaskan pentingnya perlindungan habitat dari ancaman kebakaran.
Kendala pemadaman: air dan akses
Upaya pemadaman menghadapi kendala teknis signifikan. Petugas mengalami kesulitan mendapatkan sumber air yang memadai, sementara titik api berada jauh di dalam kawasan dan sulit dijangkau karena tidak adanya akses jalan yang memadai. Kondisi lapangan yang berlumpur dan vegetasi gambut memperparah kompleksitas pemadaman.
Untuk mengatasi persoalan ini, pihak Balai TNBS telah berupaya membuat embung dengan bantuan alat berat serta melakukan langkah-langkah untuk mengalirkan air ke titik-titik yang membutuhkan. Meskipun demikian, proses pemadaman masih terkendala oleh lokasi api yang terpencil dan kebutuhan logistik yang besar.
- Lokasi: Taman Nasional Berbak dan Sembilang, Tanjung Jabung Timur, Jambi
- Jarak titik api ke habitat harimau: sekitar 2–3 kilometer
- Vegetasi yang terbakar: semak belukar, alang-alang, paku-pakuan
- Populasi harimau di Berbak (2022): sekitar 11 ekor
| Aspek | Informasi |
|---|---|
| Area terdampak | Vegetasi ringan di sekitar Sembilang (semak, alang-alang, paku) |
| Risiko terhadap satwa | Asap dan perluasan api berpotensi mengganggu habitat harimau dan mangsanya |
| Hambatan pemadaman | Keterbatasan air dan akses ke titik api |
Dampak ekologis dan langkah yang sedang ditempuh
Pembakaran di sekitar kawasan konservasi seperti TNBS tidak hanya menimbulkan kerusakan vegetasi sementara, tetapi juga berpotensi mempengaruhi struktur ekosistem, ketersediaan mangsa, dan kualitas udara yang menjadi kebutuhan dasar bagi satwa. Asap dari karhutla dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan memaksa satwa berpindah ruang jelajah, yang pada gilirannya dapat menimbulkan konflik dengan manusia jika satwa memasuki permukiman atau area yang lebih terbuka.
Pihak Balai TNBS terus memonitor kondisi di lapangan dan mengupayakan langkah-langkah pemadaman serta mitigasi. Selain pembuatan embung, upaya koordinasi dengan pihak terkait di tingkat lokal dan provinsi diperlukan untuk penguatan sumber daya, akses logistik, serta strategi pencegahan agar kebakaran tidak meluas ke hutan primer yang menjadi core habitat satwa dilindungi.
Hingga berita ini disusun, belum ada temuan langsung mengenai satwa yang terdampak kebakaran. Namun kondisi saat ini menuntut kewaspadaan dan aksi cepat untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada ekosistem TNBS dan memastikan keselamatan populasi harimau Sumatera di wilayah Jambi.